Testing app di Android Studio menggunakan device Android via Wifi

Bagi yang ribet menggunakan kabel untuk melakukan pengujian aplikasi ke device/hardware Android, anda dapat mengikuti cara mudah berikut ini. Di artikel ini diberikan 2 opsi melakukan pengujian aplikasi dari Android Studio ke device Android dengan perantara nirkabel/wifi.

Metode Pertama.

  • Nyalakan debugging mode di Pengaturan HP/device Android.
  • Koneksikan kabel usb dari laptop/PC ke HP Android (ini untuk inisialisasi saja, seterusnya tidak diperlukan lagi)
  • Gunakan command prompt/terminal yang sudah bisa menggunakan perintah “adb” (atau ya kalau belum paham, tinggal arahkan saja ke path lokasi SDK Android dan masuk ke directory sdk/platform-tools/ di dalamnya ada batch file adb)
  • Ketik:
    adb tcpip 5555[enter]
  • setelah itu cek IP Address HP/device Android dengan cara ketik:
    adb shell netcfg
  • Setelah anda mengetahui IP Address dari device/HP anda, dicatat/diingat, kemudian ketikkan perintah dengan format berikut:
    adb connect [IP_Address_device]:5555
    Contoh: adb connect 192.168.1.6:5555[enter]
    nanti akan muncul response:

    “connected to 192.168.1.6:5555” (ini tidak perlu diketik ya..ini akan muncul kalau anda berhasil menghubungkan HP/device android ke laptop via IPaddress secara wireless)

  • Setelah itu lepas kabel usb dari HP/device Android dan laptop/PC anda.
  • Dan selamat menikmati, Android Studio anda sudah bisa melakukan testing ke device/HP Android tanpa terhubung dengan kabel usb.
  • Bila anda sudah selesai melakukan testing aplikasi, anda dapat menutup koneksi wireless dari HP ke laptop anda dengan perintah berikut:
    adb -s [IP_address_device]:5555 usb [enter]

Cukup ribet ya cara di atas? atau masih ada yang gagal mencoba? Move-on dong..mari coba metode ke-dua.

Metode Kedua.

  1. Dari Android Studio kamu, masuk ke Preferences, dengan cara:
    Android Studio: Preferences/Settings->Plugins->Browse Repositories
  2. Install Plugins dengan mengetikkan: “Android WiFi ADB” dan pilih install sesuai petunjuk di layar.
  3. Setelah selesai Install, apabila diminta restart, pilih “restart”
  4. Selamat, plugins Android WiFi ADB berhasil diinstall. Sekarang bagaimana cara menggunakannya ya? Lanjut ke step ke-5.
  5. Mau testing di device Android, tentu jangan lupa nyalakan DEBUGGING mode (pokoknya wajib, masih belum ngerti? bisa bertanya atau cari diinternet, seharusnya developer Android tau langkah mudah mengaktifkan debugging mode ini)
  6.  

    Cari opsi “DEBUG OVER TCP/NETWORK” di dalam Menu Pengaturan/Settings device/HP android kamu>Developer Options.

  7.  

    Pasang kabel USB dari HP ke Laptop/PC, dan pastikan keduanya (PC dan HP) menggunakan jaringan internet yang sama (ntah hotspot ataupun wifi)

  8.  

    Pilih icon ANDROID Wifi ADB di Android Studio.

  9.  

    Setelah itu, device/hp kamu akan terdeteksi di situ, dan siap digunakan untuk testing (jangan lupa cabut kabel USBnya yah pas menggunakan plugins Android Wifi ADB ini)

Selamat mencoba.

 

Advertisements

Menjadi suami seorang pekerja TI

Masa di mana suami jd spontan merenung itu ketika suami melihat istrinya sedang tidur.. Ada rasa bersyukur ada rasa bersalah…menyadari bahwa suami itu cenderung lebih egois. 

Ntah alasannya mencari nafkah, ia sudah merasa paling capek sendiri..selesai bekerja dgn penuh keringat, kadang mukanya kusut, ia pulang sudah dilayani istri spt tuan rumah. Namun istri tetap setia menanti dengan senang hati, menyambut suami dengan manja walau suami kusut, dan siap menjadi tempat berlabuh lelahnya suami.

Ntah alasan suami krn ia seorang developer, designer ataupun analis yg minta dimengerti kalau kerjaannya butuh konsentrasi tinggi berjam-jam kerja memperhatikan layar komputer bahkan seorang programmer yg asyik ngoding sampai “gak sengaja” overtime (lembur). Membuat suami jd lalai dengan kewajibannya.

Sudahkah jadi suami yg terbaik utk istri?
Nasehat yg datang dari orang tua dan dari dosen ketika di plurk yg slalu sy tanamkan dr sejak menikah ketika sy menulis status kesibukan saya di jejaring : “ingat, ada yang harus diperhatiin, sekarang bukan hidup sendiri lagi. Sesibuk apapun, keluarga nomor satu”

Suami ya jangan gila kerja, rezeki sudah diatur, waktu kerja yg normal jg sudah diatur Undang-undang.
Lakuinlah hal-hal ringan yg bisa membuat nyaman istri.
Ntah pulang langsung segera mandi, peluk cium istri dlm keadaan wangi. Menyuapi istri dikala makan bersama, berangkat ke masjid dengan boncengan sambil ngobrol ngalor-ngidul, nemenin istri belanja di pasar, dll. Bahkan kalau istri lg hamil yg tidak bisa aktifitas rumah tangga yang berat, suami siap mengemban pekerjaan rumah tangga sambil dengan cermat mensupport, memperhatikan pola makan dan istirahat istri.
Dan bukan hanya itu saja, keharmonisan memang slalu harus dijaga. Canda-tawa, tingkah lucu suami yg bisa membuat istri tersenyum tertawa..pulang kerja bukan membawa masalah kantor tapi membawa hal-hal lucu, romantisme…dan obrolan-obrolan ringan seputar kegiatan td pagi, obrolan soal tetangga, soal keadaan orang tua, dll. yg dapat membinasakan rasa kaku membisu yg bisa membuat problematika renggangnya hubungan rumah tangga.

Ada satu curhatan yg pernah terdengar…biasanya suami yg kerja di bidang TI, jam kerjanya tinggi per hari, istri bersyukur orang macem gini biasanya gk akan mungkin sempat selingkuh apalagi lirik cewek lain..(sempetnya selingkuh sm komputer), biasanya sih romantisnya garing hahaha…( tapi ya suami jangan egois) 

Kecocokan bisa dibentuk dan tersusun rapi dengan slalu terbuka berbagi cerita antara suami istri 

PS : kata2 ini sy dpt wkt denger ceramah di radio rodja, pengalaman pribadi, perkataan ortu dan dosen yg balas plurk saya.

Masalah source code, pantaskah diberikan ke klien?

Hari ini saya membaca artikel sangat bagus, mengingatkan kembali sedikit masalah yang pernah saya alami dulu di waktu menjalankan proyek TI dan pertanyaan seorang mahasiswa S1 yang sedang belajar “bermain” proyek TI.

Pertanyaan seorang mahasiswa tersebut kira-kira begini :

kalo misalnya klien ingin mengembangkan softwarenya lg, dia harus menghubungi saya dan membantu dia? Atau saya memperbolehkan klien untuk mengubah source codenya dengan izin dari saya?

Dari beberapa case proyek TI, source code tidak ada apa-apanya, jika dijual kembalipun, istilahnya cost depreciation (penyusutan harga). Yang mampu membuatnya “valuable” tentu proses bisnisnya dan layanan yang ditawarkan bagaimana mampu menyelesaikan masalah si client. Faktor supply and demand juga jadi salah satu faktor utama tingginya harga software

Ada beberapa vendor yang memang tidak memberikan source-code-nya, ada juga yang sistem sewa, dan ada juga yang dalam bentuk paket layanan software (include source-code)
Memberikan source-code tentu menguntungkan client dari segi pendapatan untuk masa depan.
Bisa jadi source-code tersebut di-“re-engineering“/re-use untuk dikembangkan lebih lanjut ke depannya, dan bisa jadi pengembangnya bukan pihak kita lagi (bisa SDM internal perusahaan, ataupun kita jual putus, dilanjut vendor software lain)
Di sini tentu ada nilai “investasi“, nah nilai ini yang bisa dihargai mahal

Kemudian ada pertanyaan lagi yang menghampiri….

kalau client nya bisa added value di code2 kita trus dijual lagi gimana, om ?  Kira-kira apa motivasi atau latar belakang penjual ikut menyertakan source-code software? begitu pula latar belakang pembeli.

Sudah tentu kita (sbg. vendor) merasa dirugikan jika memberikan source code, apalagi kalau client-nya bisa added value di source-code yang kita berikan, dan kemudian dijual kembali dengan harga tinggi (case nyatanya ada  )

Ntah klien ataupun vendor TI tentu punya motivasi.
Sebelumnya kita mesti pahami source-code bukan segalanya bagi client.

Apa motivasi client kita menggunakan jasa vendor untuk membuat software yang mereka butuhkan? tentunya ada alasan “meningkatkan kinerja perusahaan”, jika tidak, tentu mereka re-engineering source-code atau nambahin fitur2 dari software yang ada. Dan dari situ ada faktor lain juga, seperti ini kebutuhan urgent apa tidak, sistemik atau tidak, urusan maintenancenya, dan tentunya inginkan software yang berumur panjang.

Nah, dari sini keliatan kalau software tersebut ada umurnya (termasuk source-code-nya). Kita tentu sudah memperkirakan purna jual software-nya, sampai dengan post-development dan close-project.

Kebanyakan vendor-vendor TI perbankan, menerapkan sistem “pulsa”, “ok, saya berikan source-code ini kepada anda, tapi anda mesti menggunakan layanan kami sampai maintenance (termasuk update minor, re-design, dan bahkan upgrading)

Mereka tawarkan pulsa 100.000 man-days misalnya dari masa maintenance, kemudian ketika ada perubahan yang diinginkan client, itu kena “charge“, misal re-design homepage dihargai 8000/man-days, tentu 100.000 itu berkurang jadi 92.000 man-days, dan sistem pulsa itu ada masa tenggang sampai 1 tahun, di akhir tahun, vendor menawarkan lagi, mau diteruskan lagi (maka harus mengisi pulsa lagi), atau diputus (project termination)

Kebanyakan klien besar tidak mau repot (secara psikologi), dia akan terus menggunakan sampai jangka waktu lama atau sampai software itu tidak menghasilkan solusi lagi. Apalagi sudah ada “ikatan” yang kuat antara si pihak SDM vendor dengan client (misal karyawan TI internal bank sudah akrab dan mampu berkolaborasi dengan SDM vendor), tentu kerjasamanya bisa sangat panjang dan jasa si vendor akan terus dipakai (karena sudah ada nilai kepercayaan yang tinggi). Dan itu outsourcing, ada yang full-outsource ke vendor, ada yang selective outsource, dan ada yang in-source. (perbankan kebanyakan pakai yg selective, jadi yg internal perusahaan tetap dirahasiakan dari pihak vendor TI)

Nah, kembali ke masalah source-code, bagaimana jika source-code tersebut dijual lagi oleh client, apalagi sampe ditambahin macem-macem dan dihargai lebih tinggi lagi?
ya itu tadi, nilai investasinya (invest order) yang kita tawarkan ke client mesti ditinggikan lagi (tapi lihat juga daya beli client), maka dari itu ada proses negosiasi (ini penting sekali).

Seperti halnya di artikel tersebut, jika kita mampu membuat software tersebut kemudian dipake client untuk ditingkatkan kemampuannya kemudian dijual lagi…ya kita selaku vendor mesti lebih kreatif lagi.

Jika tidak rela, silahkan pasang lisensi di software tersebut.

Enable multiple users & user session on Android

Multiple User Mode is the ability to give the phone to another person, let them log in with their own account information, and any changes they make are done under their account. They give the phone back to you, and you’ll have none of their clutter, photos, emails, or apps on your account.

Preparation :

  1. You’ll either need root access (rooting) on your Android device, ADB tools via commandprompt, or a terminal emulation application installed.
  2. In a terminal window or ADB, you’ll need to obtain SuperUser/root access. This is generally done by typing :
    adb shell [enter]
    su [enter]
    After obtaining SuperUser access, type in:
    pm get-max-users [enter]
    note : if pm get-max-users failed, maybe package manager not supported on your device, it’s no problem at all. 😉
  3. Now type in:
    setprop fw.max_users 8 [enter]
    note : this will create privilages for maximum number of users supported by the device
  4. Then, type in :
    pm create-user [usernameyouwanthere] [enter]
    example : create-user Guest [enter]

    For another pm (package manager) cheatsheet, you can visit this.

And, viola! you can try to “press and  hold” power button, if it is successful, it will show like this :

Image

Kerja Ikhlas?

Kerja ikhlas?

A : “kamu kok jam sgini belum pulang (jam 8 malem), banyak kerjaan kah?”
B : “iya, pak. Nanggung”
A : “gak ngisi form OT (over time, lembur)”
B : “yang lain pd gk ngisi, pak”

====

A : “saya ngisi berapa sesi?”
B : “waktu bapak sampe jam 4 ya pak!”
A : “sekarang sudah jam 4, tapi materi belum saya sampaikan semua nih?”
B : “yawdah pak dilanjut saja sampe jam 5. Masih pada semangat nih kerjanya”

===

B : “pak, anda bakal ketemuan sm klien dr belanda. Tolong siapkan presentasinya dalam english ya! sekaligus prototypenya dibuat dalam dwi bahasa”
A : “siap, pak”

===

banyak yang berpikir bahwa di sini adalah nilai “ikhlas”, di mana “biar deh, ambil pahalanya aja, gpp gak dibayar” | “gpp deh, lembur sampe jam 9 malem, istri di rumah biar disuruh makan duluan aja”
alhasil, terkorbankan kesehatan sendiri, amanah untuk pelihara keluarga, dsb.

Kerja ikhlas, maksudnya bukan berarti kerja tanpa mengharapkan gaji atau berjualan tanpa mengharapkan laba. Itu hak kita sebagai karyawan, sudah diatur juga dalam undang-undang (http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/upah-kerja)
Urusan gaji, upah, uang lembur itu hak kalian, jangan kalian abaikan. Tentu penting loh kesejahteraan keluarga.

Kerja ikhlas di sini maksudnya adalah melakukan kegiatan usaha/bisnis tanpa keluh kesah bahkan rasa lelah tidak dirasakan sebagai suatu beban yang berat.
Kerja bukan beban, kerja adalah kewajiban yang mesti dinikmati, tanpa mengabaikan hak-hak, apalagi hak keluarga 

Kalo ada perusahaan yang ngeles : “ah, kamu gk loyal..masa’ minta tolong kayak gini mesti saya bayar! Kayak gini gk ada itungan bayarannya!”
Dalam perkembangannya, arti kata loyalitas sering dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memanfaatkan karyawan semaksimal mungkin tanpa memperhatikan kebutuhan karyawannya.  hati-hati loh..jangan terbiasa dengan hal ini, alhasil jadi membudaya di kalangan pekerja. 😀

Loyal di sini, dekat sekali dengan kerja ikhlas, di mana mencintai pekerjaan, bekerja dengan hati dan sepenuh hati. Kalo Idealisme itu telah tertanam, loyalitas yang sesungguhnya akan tercipta dengan sendirinya. Bagaimana setiap pekerjaan ia kerjakan sungguh-sungguh, gak ngeluh, gak mengumbar aib ataupun rahasia perusahaan, dan tetap berpegang teguh pada aturan perusahaan (disiplin), itulah loyal dan tentunya tidak mengabaikan HAK-HAK kita sebagai karyawan.  🙂

N.B. : Artikel ini dibuat atas dasar pengalaman sendiri, teman yang barusan kemarin mengalami dan atas beberapa nasehat-nasehat teman-teman dan senior. Banyak teman juga yang mengeluh kalau usaha mereka sudah maksimal, tetapi yang didapat tidak maksimal. Ntah melalui jejaring, pas nongkrong bareng, dsb. Ya sampe-sampe pernah dulu kejadian, pas saya mencoba memperjuangkan hak teman-teman yg belum dapat bayaran (krn saya yang men-cebur-kan mereka dalam suatu kegiatan), saya dapat message facebook berupa “nasehat dewasa” dari segelintir orang katanya “kamu tidak profesional, kayak gitu diungkap di sosmed” ini buat pembelajaran, dan efek jera bagi mereka  saya tidak memention siapapun, dan bagi yang merasa semoga bisa ambil pelajaran. Tempatkanlah nilai profesionalisme pada tempatnya :p

Pentingkah melanjutkan kuliah di TI?

Bagi temen-temen yang dari SMA sudah kuat di dunia komputer, dan tertarik untuk menggali lebih dalam ilmu di dunia komputer, kemudian bertemu di kondisi “resah” apakah memang penting kuliah di bidang teknologi informasi atau cukup belajar otodidak saja terus ambil kuliah jurusan lain? khawatir nanti kuliah TI malah sia-sia saja, mending saya ambil kursus daripada buang duit untuk kuliah TI.

pemikiran seperti itu wajar terjadi, mengingat, belajar komputer juga sekarang cukup mudah, ditambah pola pikir anak SMA belum begitu matang.

Hanya dengan bermodal buku bacaan, dibeli dari toko buku, kemudian dibaca dan dipraktekan di depan komputer. Dalam periode waktu kurang dari 6 bulan sudah bisa mahir menguasai satu ilmu TI, ntah hacking, ntah programming, ntah jaringan, ntah sistem operasi. Dan bahkan dari situ mereka bisa menghasilkan uang dan bekerja di perusahaan-perusahaan besar.

Ada diskusi menarik yg sy dapat di perkuliahan S2 antara dosen dan mahasiswa mungkin bisa memberi gambaran mengapa kuliah TI itu penting
(* diskusi ini saya tidak ingat 100% isi percakapannya, namun saya masih bisa tangkap apa yang didiskusikan. Diskusi ini juga didapat dari 2 peristiwa. Init dosen : TBA dan EN. Mohon maaf bila tidak ingat sepenuhnya 😀 memory terbatas hehe )

dosen : *sambil nunjuk* masnya ambil S2 alasannya apa?”
mhs1 : “buat belajar TI lebih dalam, pak!”
dosen : “kalau boleh tau, ilmu apa yang anda dapat lebih dalam di S2?”
mhs1 : “sampai saat ini saya belajar lebih dalam dari berbagai studi kasus yang diberikan dosen, pak”
dosen : “apa yang bisa anda dapatkan dari situ?”
mhs1 : *terdiam sejenak* “penyelesaian masalah dan mencari solusi efektif dan efisien, pak”
dosen : “bukan itu, atau….” *sambil nunjuk yg lain* “…ya coba masnya yg dipojok itu, mengapa alasan ambil S2?”
mhs2 : “sy setelah lulus S1, jd programmer, pak, ingin mendalami lebih dalam soal programming dan software development, pak”
dosen : “jadi, anda ingin mendalami dunia software developmentnya ya mas? cukup bagus goal-nya. Tapi apakah anda bisa menjamin bahasa pemrograman yang anda kuasai itu masih ada 10 tahun yang akan datang? tidak bisa kan?”

kemudian…. dosenpun bercerita yang isinya kira-kira begini :

“saya akan bercerita soal kejadian saya menanyakan hal ini ke mahasiswa saya di akhir mereka kuliah, di awal saya bertanya ini juga, begitu mereka selesai bimbingan thesis dengan saya, saya tanyakan lagi.
saya bertanya ke mahasiswa : “apa yang sudah anda dapatkan dari S2 ini, mas?”
mahasiswa : “banyak sekali, pak. Saya bisa lebih mendalami masalah TI dalam lingkup yang lebih pasti dan terarah. Karena dunia TI begitu luas, jika kita mampu memosisikan diri kita di dunia kerja dengan pasti, tentunya karir kita akan lebih baik. Satu hal yang saya dapat dari pelajaran yang bapak beri..bahwa memang benar, pak. Di S2 ini, pola pikir saya lebih kuat, lebih terorganisir sebagai seorang profesional TI

Yang membedakan kita, S1, S2, D3, STM di dunia TI.. adalah “pola pikir” atau mindset.

Saya quote salah satu note dari seorang dosen (LEN) :
“kalau anda seorang programmer yang terbiasa bekerja pada level implementasi dan suatu saat harus belajar tentang matematika diskret, bersiaplah untuk meninggalkan mindset operasional untuk berpindah ke mindset dengan tingkat abstraksi yang lebih tinggi. Memikirkan topik-topik semacam logika, teori himpunan, dsb. pada level programming jelas tidak akan efektif.”

Dan itu jadi salah satu alasan, mengapa di S1 kita tidak belajar programming melulu, malah sampai ada teman-teman yang bertanya : “saya bingung kita belajar S1 ini hasilnya dapet apa? saya juga programming gak jago, dunia kerja ntar bingung mau jadi apa…lowongan banyak yang programmer dan staff TI, tapi tetep butuh skill programming dan RPL”

Dunia TI begitu luas, tidak hanya programming, tidak hanya software development, jaringan komputer, dan lain-lain. Kalau kita melihat lebih luas, di mana teknologi yang berkembang saat ini, seperti di smartphone, di traffic light yang bisa merekam plat nomor kendaraan yang melanggar lalu lintas, kemudian teknologi yang sekarang sudah diterapkan di restoran-restoran dan surat kabar dengan QRCode, mengambil keputusan di dunia bisnis, dan lain-lain. Itu juga hasil dari dunia TI. Ada Computer Vision, Soft-Computing, Data Mining, Pervasive-computing, dan lain-lain.

Dan dari perkuliahan itulah mereka dapatkan ilmu di bidang TI secara sistemik dan utuh. Kurikulum yang didapat juga jelas, dan diakhir semester kita diarahkan di mana kita harus memilih lagi, bidang/cluster/minat studi apa yang kita tekuni dan sukai dari dunia TI tersebut.
Dari situ juga mahasiswa berkembang, belajar dari umum ke spesifik. Namun hal tersebut, tidak hanya di dapat dari dalam lingkungan kuliah saja, tetapi dari luar kuliah juga. Di mana masalah di luar lingkungan kuliah tentu lebih beragam. Dan tentunya, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemandirian dalam menuntut ilmu.

Mari kita lihat kasus nyata baru-baru ini, di mana seorang (yang mengaku) hacker yang berakun anon_indonesia, berdebat panjang lebar dengan para twitter lain, dia mengaku kalau level tertinggi dari hacking adalah deface. Konon katanya seorang bolang 😀
Sudah bisa menangkap apa yang membedakan dengan kita yang sudah kuliah TI? 😀
Ya, yang dia tau ya level hacking cuma deface website saja, yang bisa dengan mudah mengandalkan google, mencari file dengan nama dan atau extensi tertentu, misal aspx, php, dll. Kemudian ia coba masuki dengan beberapa cara, sehingga bisa meng-upload file-file lain dari local komputernya, kemudian file index.html/index.php, dll direplace seakan-akan dibajak?!:P 😀
Padahal jelas yang seperti itu bagi anak jarkom, tentu dianggap mainan anak sekolahan. Dan tentunya tindakan itu bukan main-main, karena memang merupakan salah satu hal kriminal.
Ketika ditanyain istilah-istilah jaringan, ah, jangankan jaringan, istilah kecil seperti back-end, sysadmin, dan sejenisnya, orang seperti itu belum tentu mengetahuinya.
Lantas dari mana bisa mengetahui seperti itu? 😀 tidak dari buku, tidak juga dari belajar otodidak, tapi dari perkuliahan, di mana…seperti yang saya tulis di atas tadi : “Di perkuliahan, mahasiswa dibiasakan untuk berpikir secara sistemik dan utuh tentang TI”

Ada contoh lain :
Seorang yang tidak kuliah TI, dia mahir programming Visual Basic 6 dengan otodidak, kemudian VB6 tidak laku lagi, programming baru datang, .NET. Dia bisa mengikuti perkembangan hal tersebut dengan belajar otodidak lagi, tapi begitu .NET berakhir, tentu ia mau tidak mau dituntut untuk belajar yang baru lagi, namun hal tersebut akan berakhir di situ-situ saja. Dan begitu mendapatkan persoalan yang baru, ia akan kebingungan.

Ada seorang STM yang mahir TI, dia sudah menduduki jabatan yang bagus di salah satu perusahaan telekomunikasi asing, kemudian dihadapkan dengan massive problem, dari hal infrastruktur TI, jaringan, sistem yang sudah tertanam dan sistem yang akan dikembangkan. Menuntut dia harus belajar lebih giat lagi. Namun, dia menjadi kesulitan : “aku harus mulai belajar dari mana dulu? nanti aku mesti ngapain?” karena tidak tau arah dan belajarnyapun tidak berurut. Membuatnya menjadi tersesat.
Alhasil, posisi dia tidak naik ke level berikutnya, dan masih di posisi sebelumnya. Dan pada akhirnya, membuat keputusannya berubah : “sepertinya saya harus mengambil kuliah S1 TI, biar lebih paham lagi”

Tiap jenjang strata, mindset yang terbentukpun berbeda levelnya. Dan perlu diketahui, di S2 TI, ilmu-ilmu S1 TI masih bertemu lagi. Hanya saja, kerangka persoalan di S2 itu lebih ke level abstrak yang biasa dihadapi oleh mereka yang bekerja pada posisi manajerial, bukan hal teknis atau operasional lagi. Mahasiswa dituntut mampu menyelesaikan persoalan dengan solusi yang efektif (tepat sasaran) dan efisien (tepat guna).

Dan dari beberapa hal di atas sudah bisa disimpulkan bahwa kuliah TI bukanlah hal sia-sia.
Dengan kuliah TI :

  1. kita mampu berperan aktif sebagai profesional TI yang memiliki pola pikir terarah dan sistematik.
  2. atmosfer lingkungan kampus sangat mendukung bagi kita untuk belajar lebih giat lagi tentang TI, di situ juga ada kelompok/forum diskus/belajar bersama, dan juga organisasi kemahasiswaaan. yang tentu menambah tantangan dan pengalaman. Selain itu, dengan kelompok tersebut mahasiswa dituntut untuk bisa untuk bisa bekerjasama.
  3. kita dibimbing oleh dosen yang tentu ahli dalam bidangnya.
  4. kesempatan untuk dipandang oleh orang lain di dunia kerja juga akan tinggi. Bahkan oleh lingkungan sekitar, orang yang berpendidikan sarjana akan dianggap ahli dan pintar oleh lingkungan. Tentu membanggakan orangtuanya.
  5. membentuk pribadi yang memiliki passion, percaya diri, kesabaran dan soft-skill yang tinggi di bidang TI, dengan visi dan misi yang jelas untuk masa depannya.
  6. mungkin ada yang mau menambahkan lagi? 😀

Beberapa fenomena yang terjadi di dunia proyek TI dengan instansi atau perusahaan pemerintah

Beberapa fenomena yang sering terjadi apabila salah satu vendor TI lolos 3 besar atau menang tender atau lelang di sebuah instansi atau perusahaan pemerintah:

  1. Ancaman
    Ancaman sangat bisa terjadi ketika sudah lolos 3 besar atau menang tender.
    Contoh yang pernah terlihat : Ancaman pembunuhan, ancaman diminta mundur dr proyek, jika tidak turuti, maka akan mengacaukan proyek tersebut.
  2. Tindakan kolusi
    Jadi, yg masuk 2 atau 3 besar itu mereka bersaing, tetapi ada yg bersaing gk sehat. Mendadak si pesaing menelpon : “mas, proyeknya buat kita aja ya! Nanti mas saya bayar 25% dr harga proyek, drpd mas maju belum tentu jg mas menang. Atau mas mau buka penawaran..kami siap denger?!!”
  3. Tindakan nepotisme
    Kalau sudah masuk 3 besar, ada vendor yg licik mencari rekanan dr orang dalem, biar mulus perjalannya di proyek tsb. Kebanyakan vendor-vendor murni itu kalah di sini pdhal presentasi, prototype dan kesiapannya bagus.
  4. Manipulasi
    Ada beberap vendor yang bisa lolos mulus masuk 3 besar karena datanya fiktif, team yg direkrut bukan orang sebenarnya yg sesuai tercantum dlm proposal penawaran. Ditulis lulusan S2, ternyata malah yg dipekerjakan mahasiswa S1 tingkat akhir. Loh? Kan ada verifikasi tuh biasanya di LPSE dsb. Ya ijazahnya minjem sm teman yg bukan anggota team.

Ya semua itu untuk urusan duit. 😀