RSS

Masalah source code, pantaskah diberikan ke klien?

09 Jan

Hari ini saya membaca artikel sangat bagus, mengingatkan kembali sedikit masalah yang pernah saya alami dulu di waktu menjalankan proyek TI dan pertanyaan seorang mahasiswa S1 yang sedang belajar “bermain” proyek TI.

Pertanyaan seorang mahasiswa tersebut kira-kira begini :

kalo misalnya klien ingin mengembangkan softwarenya lg, dia harus menghubungi saya dan membantu dia? Atau saya memperbolehkan klien untuk mengubah source codenya dengan izin dari saya?

Dari beberapa case proyek TI, source code tidak ada apa-apanya, jika dijual kembalipun, istilahnya cost depreciation (penyusutan harga). Yang mampu membuatnya “valuable” tentu proses bisnisnya dan layanan yang ditawarkan bagaimana mampu menyelesaikan masalah si client. Faktor supply and demand juga jadi salah satu faktor utama tingginya harga software

Ada beberapa vendor yang memang tidak memberikan source-code-nya, ada juga yang sistem sewa, dan ada juga yang dalam bentuk paket layanan software (include source-code)
Memberikan source-code tentu menguntungkan client dari segi pendapatan untuk masa depan.
Bisa jadi source-code tersebut di-“re-engineering“/re-use untuk dikembangkan lebih lanjut ke depannya, dan bisa jadi pengembangnya bukan pihak kita lagi (bisa SDM internal perusahaan, ataupun kita jual putus, dilanjut vendor software lain)
Di sini tentu ada nilai “investasi“, nah nilai ini yang bisa dihargai mahal

Kemudian ada pertanyaan lagi yang menghampiri….

kalau client nya bisa added value di code2 kita trus dijual lagi gimana, om ?  Kira-kira apa motivasi atau latar belakang penjual ikut menyertakan source-code software? begitu pula latar belakang pembeli.

Sudah tentu kita (sbg. vendor) merasa dirugikan jika memberikan source code, apalagi kalau client-nya bisa added value di source-code yang kita berikan, dan kemudian dijual kembali dengan harga tinggi (case nyatanya ada  )

Ntah klien ataupun vendor TI tentu punya motivasi.
Sebelumnya kita mesti pahami source-code bukan segalanya bagi client.

Apa motivasi client kita menggunakan jasa vendor untuk membuat software yang mereka butuhkan? tentunya ada alasan “meningkatkan kinerja perusahaan”, jika tidak, tentu mereka re-engineering source-code atau nambahin fitur2 dari software yang ada. Dan dari situ ada faktor lain juga, seperti ini kebutuhan urgent apa tidak, sistemik atau tidak, urusan maintenancenya, dan tentunya inginkan software yang berumur panjang.

Nah, dari sini keliatan kalau software tersebut ada umurnya (termasuk source-code-nya). Kita tentu sudah memperkirakan purna jual software-nya, sampai dengan post-development dan close-project.

Kebanyakan vendor-vendor TI perbankan, menerapkan sistem “pulsa”, “ok, saya berikan source-code ini kepada anda, tapi anda mesti menggunakan layanan kami sampai maintenance (termasuk update minor, re-design, dan bahkan upgrading)

Mereka tawarkan pulsa 100.000 man-days misalnya dari masa maintenance, kemudian ketika ada perubahan yang diinginkan client, itu kena “charge“, misal re-design homepage dihargai 8000/man-days, tentu 100.000 itu berkurang jadi 92.000 man-days, dan sistem pulsa itu ada masa tenggang sampai 1 tahun, di akhir tahun, vendor menawarkan lagi, mau diteruskan lagi (maka harus mengisi pulsa lagi), atau diputus (project termination)

Kebanyakan klien besar tidak mau repot (secara psikologi), dia akan terus menggunakan sampai jangka waktu lama atau sampai software itu tidak menghasilkan solusi lagi. Apalagi sudah ada “ikatan” yang kuat antara si pihak SDM vendor dengan client (misal karyawan TI internal bank sudah akrab dan mampu berkolaborasi dengan SDM vendor), tentu kerjasamanya bisa sangat panjang dan jasa si vendor akan terus dipakai (karena sudah ada nilai kepercayaan yang tinggi). Dan itu outsourcing, ada yang full-outsource ke vendor, ada yang selective outsource, dan ada yang in-source. (perbankan kebanyakan pakai yg selective, jadi yg internal perusahaan tetap dirahasiakan dari pihak vendor TI)

Nah, kembali ke masalah source-code, bagaimana jika source-code tersebut dijual lagi oleh client, apalagi sampe ditambahin macem-macem dan dihargai lebih tinggi lagi?
ya itu tadi, nilai investasinya (invest order) yang kita tawarkan ke client mesti ditinggikan lagi (tapi lihat juga daya beli client), maka dari itu ada proses negosiasi (ini penting sekali).

Seperti halnya di artikel tersebut, jika kita mampu membuat software tersebut kemudian dipake client untuk ditingkatkan kemampuannya kemudian dijual lagi…ya kita selaku vendor mesti lebih kreatif lagi.

Jika tidak rela, silahkan pasang lisensi di software tersebut.

 
Leave a comment

Posted by on January 9, 2014 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: