RSS

Pentingkah melanjutkan kuliah di TI?

18 Nov

Bagi temen-temen yang dari SMA sudah kuat di dunia komputer, dan tertarik untuk menggali lebih dalam ilmu di dunia komputer, kemudian bertemu di kondisi “resah” apakah memang penting kuliah di bidang teknologi informasi atau cukup belajar otodidak saja terus ambil kuliah jurusan lain? khawatir nanti kuliah TI malah sia-sia saja, mending saya ambil kursus daripada buang duit untuk kuliah TI.

pemikiran seperti itu wajar terjadi, mengingat, belajar komputer juga sekarang cukup mudah, ditambah pola pikir anak SMA belum begitu matang.

Hanya dengan bermodal buku bacaan, dibeli dari toko buku, kemudian dibaca dan dipraktekan di depan komputer. Dalam periode waktu kurang dari 6 bulan sudah bisa mahir menguasai satu ilmu TI, ntah hacking, ntah programming, ntah jaringan, ntah sistem operasi. Dan bahkan dari situ mereka bisa menghasilkan uang dan bekerja di perusahaan-perusahaan besar.

Ada diskusi menarik yg sy dapat di perkuliahan S2 antara dosen dan mahasiswa mungkin bisa memberi gambaran mengapa kuliah TI itu penting
(* diskusi ini saya tidak ingat 100% isi percakapannya, namun saya masih bisa tangkap apa yang didiskusikan. Diskusi ini juga didapat dari 2 peristiwa. Init dosen : TBA dan EN. Mohon maaf bila tidak ingat sepenuhnya😀 memory terbatas hehe )

dosen : *sambil nunjuk* masnya ambil S2 alasannya apa?”
mhs1 : “buat belajar TI lebih dalam, pak!”
dosen : “kalau boleh tau, ilmu apa yang anda dapat lebih dalam di S2?”
mhs1 : “sampai saat ini saya belajar lebih dalam dari berbagai studi kasus yang diberikan dosen, pak”
dosen : “apa yang bisa anda dapatkan dari situ?”
mhs1 : *terdiam sejenak* “penyelesaian masalah dan mencari solusi efektif dan efisien, pak”
dosen : “bukan itu, atau….” *sambil nunjuk yg lain* “…ya coba masnya yg dipojok itu, mengapa alasan ambil S2?”
mhs2 : “sy setelah lulus S1, jd programmer, pak, ingin mendalami lebih dalam soal programming dan software development, pak”
dosen : “jadi, anda ingin mendalami dunia software developmentnya ya mas? cukup bagus goal-nya. Tapi apakah anda bisa menjamin bahasa pemrograman yang anda kuasai itu masih ada 10 tahun yang akan datang? tidak bisa kan?”

kemudian…. dosenpun bercerita yang isinya kira-kira begini :

“saya akan bercerita soal kejadian saya menanyakan hal ini ke mahasiswa saya di akhir mereka kuliah, di awal saya bertanya ini juga, begitu mereka selesai bimbingan thesis dengan saya, saya tanyakan lagi.
saya bertanya ke mahasiswa : “apa yang sudah anda dapatkan dari S2 ini, mas?”
mahasiswa : “banyak sekali, pak. Saya bisa lebih mendalami masalah TI dalam lingkup yang lebih pasti dan terarah. Karena dunia TI begitu luas, jika kita mampu memosisikan diri kita di dunia kerja dengan pasti, tentunya karir kita akan lebih baik. Satu hal yang saya dapat dari pelajaran yang bapak beri..bahwa memang benar, pak. Di S2 ini, pola pikir saya lebih kuat, lebih terorganisir sebagai seorang profesional TI

Yang membedakan kita, S1, S2, D3, STM di dunia TI.. adalah “pola pikir” atau mindset.

Saya quote salah satu note dari seorang dosen (LEN) :
“kalau anda seorang programmer yang terbiasa bekerja pada level implementasi dan suatu saat harus belajar tentang matematika diskret, bersiaplah untuk meninggalkan mindset operasional untuk berpindah ke mindset dengan tingkat abstraksi yang lebih tinggi. Memikirkan topik-topik semacam logika, teori himpunan, dsb. pada level programming jelas tidak akan efektif.”

Dan itu jadi salah satu alasan, mengapa di S1 kita tidak belajar programming melulu, malah sampai ada teman-teman yang bertanya : “saya bingung kita belajar S1 ini hasilnya dapet apa? saya juga programming gak jago, dunia kerja ntar bingung mau jadi apa…lowongan banyak yang programmer dan staff TI, tapi tetep butuh skill programming dan RPL”

Dunia TI begitu luas, tidak hanya programming, tidak hanya software development, jaringan komputer, dan lain-lain. Kalau kita melihat lebih luas, di mana teknologi yang berkembang saat ini, seperti di smartphone, di traffic light yang bisa merekam plat nomor kendaraan yang melanggar lalu lintas, kemudian teknologi yang sekarang sudah diterapkan di restoran-restoran dan surat kabar dengan QRCode, mengambil keputusan di dunia bisnis, dan lain-lain. Itu juga hasil dari dunia TI. Ada Computer Vision, Soft-Computing, Data Mining, Pervasive-computing, dan lain-lain.

Dan dari perkuliahan itulah mereka dapatkan ilmu di bidang TI secara sistemik dan utuh. Kurikulum yang didapat juga jelas, dan diakhir semester kita diarahkan di mana kita harus memilih lagi, bidang/cluster/minat studi apa yang kita tekuni dan sukai dari dunia TI tersebut.
Dari situ juga mahasiswa berkembang, belajar dari umum ke spesifik. Namun hal tersebut, tidak hanya di dapat dari dalam lingkungan kuliah saja, tetapi dari luar kuliah juga. Di mana masalah di luar lingkungan kuliah tentu lebih beragam. Dan tentunya, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemandirian dalam menuntut ilmu.

Mari kita lihat kasus nyata baru-baru ini, di mana seorang (yang mengaku) hacker yang berakun anon_indonesia, berdebat panjang lebar dengan para twitter lain, dia mengaku kalau level tertinggi dari hacking adalah deface. Konon katanya seorang bolang😀
Sudah bisa menangkap apa yang membedakan dengan kita yang sudah kuliah TI?😀
Ya, yang dia tau ya level hacking cuma deface website saja, yang bisa dengan mudah mengandalkan google, mencari file dengan nama dan atau extensi tertentu, misal aspx, php, dll. Kemudian ia coba masuki dengan beberapa cara, sehingga bisa meng-upload file-file lain dari local komputernya, kemudian file index.html/index.php, dll direplace seakan-akan dibajak?!:P😀
Padahal jelas yang seperti itu bagi anak jarkom, tentu dianggap mainan anak sekolahan. Dan tentunya tindakan itu bukan main-main, karena memang merupakan salah satu hal kriminal.
Ketika ditanyain istilah-istilah jaringan, ah, jangankan jaringan, istilah kecil seperti back-end, sysadmin, dan sejenisnya, orang seperti itu belum tentu mengetahuinya.
Lantas dari mana bisa mengetahui seperti itu?😀 tidak dari buku, tidak juga dari belajar otodidak, tapi dari perkuliahan, di mana…seperti yang saya tulis di atas tadi : “Di perkuliahan, mahasiswa dibiasakan untuk berpikir secara sistemik dan utuh tentang TI”

Ada contoh lain :
Seorang yang tidak kuliah TI, dia mahir programming Visual Basic 6 dengan otodidak, kemudian VB6 tidak laku lagi, programming baru datang, .NET. Dia bisa mengikuti perkembangan hal tersebut dengan belajar otodidak lagi, tapi begitu .NET berakhir, tentu ia mau tidak mau dituntut untuk belajar yang baru lagi, namun hal tersebut akan berakhir di situ-situ saja. Dan begitu mendapatkan persoalan yang baru, ia akan kebingungan.

Ada seorang STM yang mahir TI, dia sudah menduduki jabatan yang bagus di salah satu perusahaan telekomunikasi asing, kemudian dihadapkan dengan massive problem, dari hal infrastruktur TI, jaringan, sistem yang sudah tertanam dan sistem yang akan dikembangkan. Menuntut dia harus belajar lebih giat lagi. Namun, dia menjadi kesulitan : “aku harus mulai belajar dari mana dulu? nanti aku mesti ngapain?” karena tidak tau arah dan belajarnyapun tidak berurut. Membuatnya menjadi tersesat.
Alhasil, posisi dia tidak naik ke level berikutnya, dan masih di posisi sebelumnya. Dan pada akhirnya, membuat keputusannya berubah : “sepertinya saya harus mengambil kuliah S1 TI, biar lebih paham lagi”

Tiap jenjang strata, mindset yang terbentukpun berbeda levelnya. Dan perlu diketahui, di S2 TI, ilmu-ilmu S1 TI masih bertemu lagi. Hanya saja, kerangka persoalan di S2 itu lebih ke level abstrak yang biasa dihadapi oleh mereka yang bekerja pada posisi manajerial, bukan hal teknis atau operasional lagi. Mahasiswa dituntut mampu menyelesaikan persoalan dengan solusi yang efektif (tepat sasaran) dan efisien (tepat guna).

Dan dari beberapa hal di atas sudah bisa disimpulkan bahwa kuliah TI bukanlah hal sia-sia.
Dengan kuliah TI :

  1. kita mampu berperan aktif sebagai profesional TI yang memiliki pola pikir terarah dan sistematik.
  2. atmosfer lingkungan kampus sangat mendukung bagi kita untuk belajar lebih giat lagi tentang TI, di situ juga ada kelompok/forum diskus/belajar bersama, dan juga organisasi kemahasiswaaan. yang tentu menambah tantangan dan pengalaman. Selain itu, dengan kelompok tersebut mahasiswa dituntut untuk bisa untuk bisa bekerjasama.
  3. kita dibimbing oleh dosen yang tentu ahli dalam bidangnya.
  4. kesempatan untuk dipandang oleh orang lain di dunia kerja juga akan tinggi. Bahkan oleh lingkungan sekitar, orang yang berpendidikan sarjana akan dianggap ahli dan pintar oleh lingkungan. Tentu membanggakan orangtuanya.
  5. membentuk pribadi yang memiliki passion, percaya diri, kesabaran dan soft-skill yang tinggi di bidang TI, dengan visi dan misi yang jelas untuk masa depannya.
  6. mungkin ada yang mau menambahkan lagi?😀
 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2013 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: