RSS

Category Archives: Hobby

Menentukan harga jasa untuk programmer dan desainer

Setelah pernah dibahas mengenai menentukan harga project TI khususnya mobile apps. Kini saya mau berbagi info mengenai bagaimana menentukan harga jasa untuk programmer dan desainer mobile apps (mungkin bisa dipakai untuk develop software secara global)

Begini, akhir-akhir ini saya sering ditanya mahasiswa : “mas, bagaimana cara menentukan harga desain saya? saya ragu mau pasang harga”

Kalau menghendaki harga yang pantas dan ideal, itu subjektif, silahkan tentukan berdasarkan usaha yang akan dikeluarkan dan alokasi waktunya. Dan pasang harganya. Yang penting berani dan sudah mengukur sendiri harga yang pantas. Jangan sampai, kamu pasang harga 3 juta rupiah, namun, ternyata uang yang dikeluarkan untuk usaha begadang, internet dan ngemil serta ngopi sambil bekerja itu ngepas 3jt, atau mepet 3juta, alhasil tekor dan gak ada untungnya.

Namun, beberapa programmer/desainer software junior, masih bingung, harga jasa saya berapa?

Mari kita perhatikan 5 hal yang mempengaruhi harga jasa kamu di dunia software engineering sebagai berikut :

  1. Scope pekerjaan.
    Scope adalah segala hal yang ada di dalam produk software/produk dari project TI dan segala proses di dalamnya.
    Mendefinisikan apa yang diminta, apa yang mesti dikerjakan, dibagi step-stepnya (rencana->rancangan) sampe menjadi rangkaian berurut apa saja yang dikerjakan. Dengan demikian, dapat diestimasi jadwal dan waktu pengerjaannya.
    Contoh, ketika saya dari tidur pengen berangkat ke sekolah :

    1. Saya bangun tidur (15 menit), kemudian
    2. saya mandi (15 menit), kemudian
    3. saya sarapan (30 menit), kemudian
    4. saya berangkat ke sekolah (20 menit).
  2. Proses pengerjaan,
    Sulit kah? mudah kah? simple kah? kompleks kah?.
    Terus bagaimana proses yang mesti saya ikuti? banyak kah? tentu mesti memperhatikan, jika ternyata proses untuk mengerjakan codingannya ataupun desainnya, bisa memakan waktu berjam-jam.
    Mulai dari :

    1. memahami klien kemudian menganalisis kehendak si klien;
    2. brainstorming, berguna untuk mendefinisikan semua kebutuhan biar bisa dikerjakan menjadi karya kita;
    3. inisialisasi, mulai dari kamu corat-coret desain/coba-coba code init/awal sampe jadi prototyping;
    4. prototyping, membuat karyamu sampe dengan prototype;
    5. development/design, mulai deh ngembangin sampe memroses semua kebutuhan menjadi produk
    6. revisi, mesti ketemu bagian ini, kadang ada saja bagian yang tidak sesuai kehendak klien, nah ini mesti diperhitungkan;
    7. final version, ketika sudah direvisi, dipoles, dibungkus, terus diserahin deh ke klien.

    panjang kan prosesnya? 😀 Makanya perlu diperhatiin betul, jangan sampe harga yang kamu pasang gak sesuai.
    Nah, ada beberapa hal itu bisa dikerjakan bebarengan, serentak (jika kamu ngerjainnya berdua atau lebih sama teman), tentu ada beberapa proses bisa dihemat waktunya. Coba lihat ilustrasi berikut :

    Critical Chain Project Schedule

    Critical Chain Project Schedule

    Kalo dilihat dari gambar di atas, tentu kita bisa memperkirakan, task apa saja yang bisa dikerjakan dalam 1 waktu bersamaan, dan mana yang tidak bisa. Jika tidak bisa, terus taruh di mana prosesnya..apa dikerjakan duluan, apa dikerjakan belakangan? tentu kalau ingin mengerjakan sesuatu, kerjakan dari yang paling mendasar.

  3. Standar harga per jam kerja (hourly rate)
    Kalo bagian ini, gak bisa sembarangan ditentuin. Kamu mesti sadari gaji/honor kamu berapa yang pernah kamu terima? terus itu dikerjakan berapa lama?
    Misal :
    Kamu pernah kerja 2 minggu (10 hari kerja, minus sabtu-minggu) dibayar 3juta
    Sehari kerja dari jam 09:00 – 12:00, dilanjut ishoma, terus jam 13:00 – 16:00, berarti kalo ditotal : 6 jam kerja.
    Rp. 3.000.000 / 6 / 10 = Rp 50.000
    Berarti kamu dibayar Rp50.000,- per jam.Rate ini selalu naik seiring pengalaman, tentunya bila dinamika perubahannya naik, dalam artian, kamu sudah mengalami pengalaman yang banyak, yang dulunya sulit, jadi gampang, skill bertambah, dan beberapa project kamu jadi terbiasa garap (pengalaman). Semakin tinggi pengalaman, rate tentu semakin tinggi juga.
    Apalagi dibarengi skill yang makin tinggi pula.Bila kamu sudah 10 kali project dalam 2 tahun dengan hourly rate Rp 50.000,-… pas tahun ke-3, ya naikin lagi hourly rate jadi Rp 75.000,- atau Rp 100.000,-.Apalagi dalam 2 tahun itu kamu sudah belajar banyak, ditambah sekolah lagi, bisa berkali-kali lipat.Dan lagi-lagi, perhatiin juga standar gaji di dunia saat ini. (coba googling : salary guide [tahun], contoh : salary guide 2014, saya gak akan jelasin ini, cari di google dan baca sendiri sesuai posisi kamu di pekerjaan, bila orang kerja dibayar per bulan (20 hari kerja) sekian rupiah, tentu bisa dihitung per jamnya)
  4. Investasi
    Seluruh hal yang berhubungan dengan proses yang dikerjakan di atas, dan biaya yang keluar karena hal tersebut. Seperti yang saya jelaskan di atas.

    1. Saya bangun tidur (15 menit) -> gratis
    2. saya mandi (15 menit) -> sabun : Rp 2000, sampoo Rp 1000, pasta gigi+sikat giginya : Rp 8000
    3. saya sarapan (30 menit) -> sarapan ketoprak : Rp 6000, jalan kaki ke TKP
    4. saya berangkat ke sekolah (20 menit) -> berangkat naik motor, bensin Rp 6500

    Terus, kalo ditotalin : makan waktu 1 jam 20 menit, dan biaya : Rp 82.000 (2000+1000+….+6500)

    Rumusnya : hourly rate x total proses kerja + investasi

    Jadi, ketika hourly rate kamu Rp 50000, berarti :

    Rp 50000 x 1,33 jam + Rp 82.000 = Rp 148666,66 (mari kita bulatkan ke atas :p Rp 149000)

    Ya investasi dari project ini (project? emang ke sekolah bisa jadi project? ngawur, ini kan cuma contoh!) : Rp 149.000,-

  5. Resiko
    Segala hal tentu ada resiko, nah jangan sampe resiko ini terjadi dan menimpa kamu. Resiko mungkin bisa dihindari, tapi jika terjadi, pikirkan dampaknya dan apa antisipasinya.
    Resiko besar yang biasanya terjadi itu : project diberhentikan di tengah jalan (bahaya dong, ntar ketabrak), requirements berubah (nah ini dia yang biasanya bikin jengkel, udah bikin capek-capek, gak dipake, mesti diganti)
    Resiko kecil : perubahan minor aplikasi/software, jadi menyita waktu juga walaupun perubahannya dikit-dikit.
    Resiko juga mesti diklasifikasikan berdasarkan :

    1. kesempatan terjadi
    2. potensi yang diakibatkan (parah apa nggak?)
    3. kesulitan mendeteksi resiko supaya bisa dihindari

    Contoh : bugs di aplikasi
    Kesempatan terjadi : menengah lah, gak sedikit juga, gak banyak juga kesempatannya.
    Potensi yang diakibatkan : tinggi, kadang 1 bugs, bisa bikin aplikasi gagal jalan sebagaimana mestinya
    Kesulitan mendeteksi : tinggi, kadang bugs itu sulit banget dicari >.<

    contoh lain : server kebanjiran
    Kesempatan terjadi : kecil, ini sih kesempatan langka banget sampe-sampe server kebanjiran, kecuali kamu taruh servernya di pinggir kali ciliwung.
    Potensi yang diakibatkan : tinggi, server tenggelam, nangislah kliennya. Kamu juga mesti ikutan nangis!
    Kesulitan mendeteksi : kecil, lah wong hujan deres, knapa gak disingkirin tuh server ke tempat yang tinggi.

    Nah, resiko-resiko seperti ini yang mesti diperhitungkan. Terutama ya bayaran kamu. Misal kalo kejadian macem-macem, bayaran kamu telat, bagaimana?. Atau kamunya yang telat ngumpul kerjaan bagaimana?

    Dari sisi developer, pas di kontrak kerja, buat rules juga (biasanya klien bikin rules, kalo kamu telat ngumpul, atau tidak sesuai apa yang diharapkan klien, harga dikurangi), kamu buat rules, misal masalah server bukan tanggungjawab kamu, atau apabila klien telat bayar, mesti denda juga :p ya pinter-pinter kamu menyiasati perkara ini.

    Decision Trees

    Decision Trees

Sekian dulu yang dapat saya sampaikan, kurang lebih mohon maaf dan mohon dikoreksi 🙂

Terima kasih.

 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2014 in Celoteh, Hobby, Internet, Programming, Workit

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

[salah kaprah] Beda game bergenre Sandbox dengan Open-World

Yak, masih pada bingung bedain sandbox dan open-world
Jangan ikuti yg kebanyakan beredar, tp ikutilah yg benar :p

  1. sandbox dan open world itu termasuk dalam gameplay non-linear. (cek wikipedia bwt lebih jelas)
  2. sama-sama punya free roam.
  3. Biasanya game dengan style free roam gini disebut sandbox. (ada bbrp sitasi dr penelitian dan buku terkait statement ini, cek aja deh di wiki)
    Namun, sebuah konsep game dgn gaya “open-world” belum tentu game tersebut bergenre sandbox.
  4. Karakteristik di dalam game sandbox itu ya spt yg mas David jelasin : bisa bebas kustomisasi, gak cuma karakter, ntah dunianya, tujuannya, pokoknya semau si gamer. Sbg contoh : minecraft itu termasuk sandbox.
  5. Kalo open-world, ada batasannya kayak MGSV, Tales of series, AC series.

Lah, terus knapa di GTA V dan WD jg masih terbatas? gk bisa ganti kolor doang di butik/toko pakaian, atau nongkrong makan di pinggir jalan? Padahal ada bangunan toko pakaian dan restoran, tp gk bisa dimasukin bebas pilih atau ngancurin tokonya ?! 

maksud bebas kustomisasi di sini adalah..
pemain mempunyai peralatan untuk memodifikasi dunianya si tokoh utama di dalam game dan membuat cara tersendiri dalam bermain. Ya itu tadi, kayak Minecraft dan Garry’s Mod.

Jadi, GTA V dan WD itu termasuk “open world” bukan “sandbox”

 

Referensi :

http://en.wikipedia.org/wiki/Nonlinear_gameplay
http://www.sandbox-games.net/about/
http://en.wikipedia.org/wiki/Open_world
http://www.giantbomb.com/forums/general-discussion-30/whats-the-difference-between-open-world-and-sandbo-421692/
http://www.jasoncarabelli.com/sandbox.html

 
Leave a comment

Posted by on June 21, 2014 in Celoteh, Hobby

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

My Danbo

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2011 in Hobby

 

Tags: , , , , ,

Gundam 00 Qan-[T]

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2011 in Hobby

 

Tags: , , , , , , ,