Native vs Hybrid App. Programming. Pilih yang mana?

Sebelum saya membahas lebih jauh, saya ingin menjelaskan secara singkat pengertian apa itu Native dan apa itu Hybrid di dalam pengembangan aplikasi mobile (Android dan iOS pada khususnya).

Native app: build 1 app, hanya bisa di-deploy di single platform.

Hybrid app: build 1 app, bisa di-deploy multi platform (makanya ada jargon “build once, deploy anywhere“)

Aplikasi Android ditulis dengan menggunakan bahasa pemrograman Java (dan yang terbaru dengan Kotlin), dan Aplikasi iOS (iPhone/iPad/Watch) ditulis dengan Objective-C (dan yang terbaru dengan Swift), dan tidak ada cara keduanya dapat dicampur dengan bahasa pemrograman lain. Itulah native.

Sedangkan Aplikasi Hybrid mengizinkan kita untuk mengeksekusi platform web (misal Javascript) agar dapat berjalan pada  “native wrapper” (Apa itu native wrapper? sebuah subroutine di dalam lapisan Aplikasi, yang berfungsi sebagai penyedia akses menuju API di Sistem Operasi perangkat). Sistem arsitektur aplikasi Hybrid bisa dilihat di gambar berikut:

Di awal 2017, bahasa pemrograman Hybrid sudah diramaikan dengan adanya “react-native” yang basednya Javascript. Dan berdasarkan penelusuran saya di Github, Javascript sekarang sedang “naik daun”, dengan node.js, vue.js, dan react-nya

most popular programming languages on Github

React-native ini sendiri membutuhkan node, watchman dan react-cli. Dan sampai tanggal 29 November 2017 ini, react-native masih dalam tahap beta, belum ada versi stable. Namun, bukan berarti lambat berkembang, sampai saat ini sudah banyak framework yang telah dikembangkan dan dapat digunakan oleh para developer secara bebas, di antaranya Ignite. Ignite mempermudah pengembangan aplikasi dengan basis react-native, apalagi semua komponen, UI, theme, dll..sudah tersedia, tinggal pakai.

Ok, saya tidak akan membahas react-native lebih jauh soal ini. Mungkin akan saya bahas di lain kesempatan.

Pembahasan kali ini adalah menjawab 2 pertanyaan:

  1. “manakah yang lebih baik? hybrid kah atau native kah?”
  2. “Dan dalam kondisi seperti apa kita mesti menggunakan bahasa pemrograman native atau hybrid di dalam mengembangkan sebuah aplikasi?”

Ok, mari kita jawab satu persatu.

Bila ditanya mana yang lebih baik? saya bilang, tergantung kondisi. “Mengapa?” karena masing-masing ada keunggulan dan kekurangannya. “Loh, native ada kekurangannya toh?” sabar..sabar.. kekurangan di sini bukan ditinjau dari segi teknis pengembangan saja, tetapi juga dari harga dan waktu. Tentu pertimbangan ini penting bagi perusahaan di dalam menentukan produk mereka nanti mau dikembangkan secara hybrid atau native.

Secara singkat, ketika perusahaan memilih Programming Hybrid, maka yang harus dipertimbangkan adalah:

  • Membutuhkan human-resource(s) (SDM) yang menguasai teknologi web, seperti CSS, Javascript, HTML5, dan atau AngularJS.
  • Tampilan UI/UX cenderung statis, bisa dikustomisasi, namun effortnya lumayan.
  • Performance di beberapa kasus sama baiknya dengan native, tapi ketika melibatkan hardware, misal push notification, akses audio, sensor GPS/Kompas/Accelerometer, tidak sebaik native. Namun perkembangannya terus membaik.
  • Lack of documentation, developer dituntut tidak kaku dalam membaca dokumentasi, ada banyak sekali dokumentasi terkait hybrid programming dan sayangnya tidak di satu tempat, harus punya wawasan lebih dalam bereksplorasi teknologi hybrid. Berbeda dengan Android/iOS dengan menggunakan native, dokumentasi tersusun rapi dan sangat lengkap di masing-masing website resminya.
  • Membutuhkan tenaga konsultan di dalam mempertimbangkan module atau library apa yang hendak dipakai yang sesuai dengan spesifikasi aplikasi. Mengapa? karena belum tentu tersedia (akan tetapi sejenis react sekarang sudah banyak sekali library dan sudah lumayan lengkap) atau bagaimana effort-nya di dalam pengembangan.

Di lain pihak, native programming, ada yang harus diperhatikan juga, diantaranya:

  • Biaya pengembangan tinggi, dibandingkan dengan hybrid. “Kok bisa?” Jikalau perusahaan menginginkan aplikasi mobile di platform Android dan iOS, tentu ia harus menyediakan setidaknya dua human-resources (SDM) developer mobile android (dengan spesifikasi Java-Android atau Kotlin) dan iOS (dengan spesifikasi obj-C atau Swift), dan ini berjalan paralel agar tidak memakan banyak waktu. Sudah tentu biayanya tidak murah, apalagi kalau kompleks dan berbasis online, mesti harus menyediakan developer backend+API (agar aplikasi dapat berkomunikasi dengan server) juga. Jadi jangan heran “kok aplikasi seukuran Hape, kecil gitu, mahal banget ngalahin bikin website?” ya iyalah, kecil-kecil gitu, pengembangannya lumayan banyak yang harus dikerjakan.
    Sebagai contoh: aplikasi facebook. Aplikasi tersebut dikembangkan bertahap dan berlangsung sudah lama sekali. Awal rilis, fiturnya sedikit, lama-lama kompleks, selain menghindari lack-of-technology, tentu membuat pengguna juga jadi mudah beradaptasi dengan antarmuka-nya (ada hubungannya dengan User Experience), coba misalkan aplikasi facebook langsung kompleks kayak sekarang pas awal launch 2004 lalu, tentu ditinggalkan pengguna.
  • Yang pasti membutuhkan pengetahuan seputar bahasa pemrograman masing-masing platform (iOS dan Android) untuk masing-masing personel dalam tim, ntah itu Project Manager-nya, System Analyst-nya dan juga Desainer Antarmuka-nya. Jadi, jangan menggunakan designer web ya, akan jadi gak nyambung, karena spesifikasinya agak sedikit berbeda.
  • Source code terpisah masing-masing platform. Ada hal yang harus dipertimbangkan di dalam menjaga source-code tersebut, di antaranya, tentu platform Android dan iOS diletakkan di dalam repository berbeda di source control/versioning, semisal git (apalagi nanti misalkan fiturnya banyak, versinya banyak, kudu buat branch management), tapi ada juga yang monolitik. Selain itu punya keystore/cert yang berbeda untuk masing-masing platform, dan ini tidak boleh hilang. Selain itu menggunakan IDE dan tools berbeda untuk pengembangan, pengujian dan penerbitan untuk masing-masing platform tersebut.

Keuntungannya? mari kita bahas satu per satu

Dari hybrid programming, di antaranya:

  • Murah, cukup menyediakan satu developer, bisa bikin dua platform aplikasi Android dan iOS (dan untuk iOS membutuhkan sistem operasi macOS dan xcode, karena Apple hanya mengizinkan melalui itu di dalam mengembangkan aplikasi iOS)
  • Target pasar cukup besar, sekarang banyak sekali aplikasi yang dikembangkan secara hybrid, sebut saja facebook, instagram, airbnb, tesla, dan lain-lain. Ada yang dikembangkan dengan react-native, ionic, atau cordova. Dan ada juga kombinasi antara ionic/react-native dengan cordova (phonegap). Selain itu komunitas developernya cukup besar.
  • Low Barrier to Entry. Tidak perlu pesimis jika kita awalnya developer web, kemudian terjun ke dunia mobile apps. “Mengapa?”, karena untuk terjun ke sana, pembatasnya sangat sedikit, adaptasinya pun tidak lama, dalam hitungan waktu sebulan kita dapat menyesuaikan diri dengan platform hybrid dan frameworknya.
  • Source code cenderung ramping, dan kemampuan mendukung heterokapabilitas perangkat mobile.
  • Mudah di dalam menerbitkan aplikasi, dapat langsung terintegrasi dengan PlayStore dan AppStore.
  • Untuk beberapa kasus, mudah untuk di-maintain. Tetapi terkadang merepotkan, apalagi jika ada banyak library yang di-update (tapi bisa diantisipasi dengan mematikan auto-update beberapa library)
  • Sangat cepat di dalam mempersiapkan prototype. Butuh menyediakan prototype untuk presentasi dengan calon investor dalam waktu dekat? maka pilihan hybrid begitu tepat.
  • Banyak contoh script ataupun library JavaScript yang sudah tersedia di internet, ya karena didukung komunitas yang sangat besar, makanya sangat banyak.

Dari Native Programming, di antaranya:

  • Best end-user experiences. Tampilan antarmuka (UI) berdasarkan SDK masing-masing platform (Android ataupun iOS). Di hybrid framework, tampilan aplikasi bisa dibuat 1 tampilan yang kembar identik antara Android dan iOS, namun bisa juga dipisah dengan tampilan berbeda sesuai design pattern masing-masing. Namun, di hybrid framework, tampilan UInya kaku. Kalau di native, tampilan UI mampu mengikuti UI framework bawaan masing-masing platform. Misal, Handphone Xperia dengan Handphone Galaxy mempunyai UI framework berbeda kan? nah, jika kita mengembangkan aplikasi native, aplikasi secara otomatis menyesuaikan dengan UI framework masing-masing OS, atau mengikuti standar SDK dari OS yang terinstall di handphone. Sedangkan hybrid, tampilannya statis, UXnya sedikit berbeda dengan UI di OS yang terinstall di handphone tersebut.
    Berikut ini saya sertakan contoh mengapa hybrid agak kurang dalam urusan UX, terutama dari sisi UInya identik antar platform. (Namun di sisi lain, mempercepat pengembangan).

    Perbandingan tampilan web (browser), ios dan android di hybrid yang hampir tidak ada bedanya.
  • Highest ceiling for performance. Performa lebih baik. Secara jujur saya bilang, performa native dan hybrid tidak begitu signifikan bedanya. Saya belum pernah melihat ada delay terlalu jauh antara keduanya. Namun, untuk masalah yang melibatkan hardware, performa aplikasi yang dikembangkan secara native lebih baik, response load dan event-nya lebih cepat beberapa detik. Salah satu contohnya bisa dilihat di artikel berikut. Beberapa kendala yang ditemui juga untuk hybrid ketika melakukan push-notification, masih harus dua arah, dalam artian, masih harus melibatkan code secara native dikombinasikan dengan hybrid itu sendiri, makanya jadi agak bermasalah di performa. Sedangkan native, untuk persoalan tersebut tidak jadi masalah.
  • Natural look and feel. Masih berhubungan dengan poin pertama, tampilannya lebih natural mengikuti OS yang terinstall di perangkat Android/iOS.
  • Dan masih berhubungan dengan poin kedua, karena native, tentu akses layanan ataupun API SDK tentu lebih mudah dan cepat (bisa dibandingkan dengan gambar sistem arsitektur hybrid yang saya cantumkan di atas).
    Atau langsung melihat di gambar perbandingan berikut:

    hybrid-native-web comparison
  • IDE (Android menggunakan Android Studio dan iOS menggunakan xcode), Development tools dan Dokumentasi tersusun rapih, lengkap dan jelas untuk masing-masing platform Android dan iOS. Untuk Android dapat mengunjungi website https://developer.android.com  dan untuk iOS dapat mengunjungi website https://developer.apple.com.
  • Lebih mudah untuk melakukan debug aplikasi di masing-masing IDE.
  • Paling sesuai dengan target pasar. Dengan native, kita dapat menyediakan aplikasi yang sesuai dengan masing-masing OS yang digunakan end-user. Toh sampai detik ini masih banyak pengguna yang menggunakan OS Gingerbread, Jellybean dan belum tentu menggunakan OS terbaru (Oreo). Apalagi terdapat back-compatibility dengan perangkat OS yang lama. Dan sudah tentu desainnyapun mengikuti OS masing-masing tersebut. Sedangkan native ya statis seperti saya bilang sebelumnya tadi.
  • Keamanan aplikasi lebih baik. Pengembangan aplikasi secara native dibandingkan hybrid dianggap lebih aman, dengan fakta bahwa aplikasi native memanfaatkan fitur keamanan terintegrasi khusus dengan platform OS. Berbeda dengan hybrid, yang menempel pada webview, tentu beberapa pihak berpandangan bahwa hybrid rentan akan serangan injeksi ketika mengakses API tertentu di server.
    mobile-owasp

    Beberapa kejadian serangan ke aplikasi mobile adalah seorang hacker melakukan reverse-engineering aplikasi untuk memperoleh akses resource (seperti source-code, gambar, file database, dll) dan juga menggunakan aplikasi malicious yang berjalan secara background untuk mencuri/menyadap data pengguna. Beberapa waktu lalu, saya pernah membahas masalah keamanan aplikasi ini, di tulisan berikut.

Kesimpulan dari artikel ini….

Sekarang sih tidak jadi persoalan yang rumit lagi,  mau menentukan pilihan ke hybrid ataukah ke native. 😀 Tergantung kebutuhan saja. Pertimbangannya seperti yang saya tuliskan di atas. Semoga menjawab kedua pertanyaan tersebut.

Beberapa perusahaan memilih native karena ingin menghindari masalah-masalah pasca deployment, apalagi pass mass-production, kekhawatiran di perangkat pengguna tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun, ada pula perusahaan yang memilih dengan hybrid, karena ingin cepat launch, target waktu mepet, mungkin faktor bisnis atau faktor budget (biasanya sih yang seperti ini startup). Beberapa kasus yang terjadi, beberapa startup ingin mengembangkan sebuah aplikasi, saya tanya alasannya, karena uang dari investor sudah dikucurkan, namun si investor memberikan target waktu, waktunya mepet, maka dipilih hybrid. Di satu sisi juga menguntungkan si startup ini, karena cost lebih hemat, mampu membuat 2 platform sekaligus (android dan ios). Apalagi perusahaan yang model seperti ini tidak mempermasalahkan pasca-production “yang penting ada dulu produknya, urusan testing dan perbaikan bisa sambil jalan”.

Monggo yang mau berdiskusi, tanya-jawab dipersilahkan, toh saya juga masih newbie yang masih harus banyak belajar.

Advertisements

Paradigma

Tadi teman bilang: “saya di Java sudah 5 tahun, pak, tapi di rails belum setahun, kalau saya masuk tim itu, bisa-bisa saya jadi kroco”
Lantas teman yang senior satunya bilang: “pengalaman kerja kan bukan dilihat dari berapa lama kamu pengalaman di bahasa pemrograman itu..tapi dari selama ini yang kamu kerjakan, problem solving-nya seperti apa, achievement yang diperoleh apa saja”.

Banyak yang bisa coding, coding malah mudah, bisa otodidak, tapi yang memiliki skill problem solving itu sedikit.
Berapa banyak di grup developer bertanya “mas, aku liat gojek aplikasinya kayak gini, bikinnya gimana ya?” | “yaelah mikirnya langsung gede, mbok ya dipecah satu per satu fiturnya, cari masalahnya, terus cari solusinya…”

Logika coding seperti pemakaian logical expression, dan lain-lain, kalau memang logikanya jalan, mau coding pakai bahasa apapun ya mudah tinggal belajar syntax pemrograman tersebut saja. Bahkan dengan sangat mudah seseorang developer java beralih ke javascript.
Terus apakah yang mempengaruhi hal tersebut? Paradigma!

Paradigma adalah sudut pandang terhadap suatu masalah, realitas, keadaan, dan sebagainya. Dalam pemrograman pun dikenal istilah paradigma pemrograman, yakni sudut pandang atau strategi analisa khusus yang diambil untuk menyelesaikan suatu masalah pemrograman.
Kalau sudah bisa paradigma, mau belajar programming apapun jadi mudah. “if you know how to code, you can code in anything“. Tidak perlu menghapal syntax pemrograman, nanti juga mahir sendiri setelah googling>stackoverflow dan langsung ke kasus.

Nah, balik ke pengalaman kerja tadi, kalau sekedar teori, itu hanya pengetahuan yang masih “terkurung”. Sedangkan wawasan, lebih ke kesadaran emosional, ketika seseorang sudah berpengalaman, wawasan ini membuka “kurungan” pengetahuan yang selama ini dipelajari didasari pada yang telah diamati/dirasakan/kebiasaan. Dan paradigma menjadi seperangkat aturan dan aturan tsb melakukan dua hal:
(1) menetapkan dan mendefinisikan batasan; dan
(2) Ini memberitahu kita bagaimana berperilaku di dalam batas-batas agar tercapai tujuan.
Bagaimana belajar paradigma? ya bertahap dari pahami konsepnya, teorinya, baru memperkuat wawasan dari pengalaman.
Itulah mengapa seseorang problem solver itu paradigma-nya bagus.

Mendapatkan klien proyek lokal sebanyak mungkin

Coba nulis berdasarkan pengalaman di lapangan.
Mendapatkan klien lokal di proyek itu bukan “pufff…simsalabim” tiba-tiba datang proyek.

Tetapi membangun kepercayaan yang dijalin secara terus menerus.

“Lu ngapain sih wid, aktif FB terus… apa aja diurusin…”

Dulu sehabis lulus kuliah S1, saya bekerja di perusahaan vendor TI di Jakarta. Dan tugas saya slalu datang ke tempat klien-klien si vendor, karena saya sbg sr. maintenance developer .NET (dengan CMS dotnutnuke). Datang sendirian, dan kenal berbagai orang bank-bank di Indonesia. Tapi dari situ jadi kenal pribadi dan jadi teman. Lepas dari situ kembali ke Jogja, klien-klien tsb saya jadikan teman di Facebook.
Saya sering komentar status klien-klien saya di facebook, hanya sekedar tegur sapa..dan membangun kepercayaan. Bukan mengharapkan biar segera dapat proyek, dengan membangun relasi, seseorang sudah memperluas silaturahim. Toh siapa tau kita yang butuh bantuan, atau mereka yang butuh bantuan kita.

Ok, buatlah personal branding di jejaring kalau kita ini memang bisa ngoding, biasa bermain proyek dan bisa membangun sistem ataupun aplikasi.

“Eh, tapi banyak loh yang ketipu pencitraan, keliatan di jejaring pinter, eh pas ketemu langsung, ternyata mengecewakan”

Nah itu, jangan coba-coba memakai topeng kepalsuan.

Ok, sambil merutinkan tsb, coba berkunjung ke grup-grup FB seputar programming ataupun seputar proyek. Mesti ada tawaran. Naaaaah, dari situ mulai inisialisasi diri ke dalam proyek lokal.

Lakuin seserius mungkin. Ok, udah? teliti juga ya, pilih klien yang bener-bener bisa diajak kerjasama. Soalnya ada beberapa tipikal klien yang “agak gak masuk akal”. Kalo dah deal..lakukan sebaik mungkin, dari sinilah bangun lebih dalam kepercayaan tsb. Yakinkan bahwa “saya bisa bekerjasama dengan baik dengan anda”
Bangun komunikasi aktif dengan klien. Contohnya?
Ya laporin kerjaan jangan nunggu ditagih, tapi aktif memberi berkala, misal tiap hari di sore hari atau tiap minggu. Jangan sekedar bilang “pak, halaman ini sudah saya buat” <- ini gak informatif.
Tapi bilang yang kayak gini “pak, saya sudah bikin halaman ini, di halaman ini bapak bisa lihat sudah ada form a, b, c..” sambil nunjukin bukti. “bapak, bisa akses di halaman web ini, dengan username dan password abc, xyz”
Kalimat komunikatif ini salah satu bentuk keprofesionalan kita. Di email ataupun di aplikasi chatting.

Ok, kalo kerjaan tuntas, mintalah “referral” dari klien, bisa berupa rekomendasi di linkedin atau sekedar testimoni di halaman web/jejaring pribadi, atau sekedar mention di statusnya si klien. Kok minta? soalnya kalo nunggu, bisa jadi klien sibuk atau lupa.

Kalau sudah, coba bangun relasi dengan perusahaan startup atau software house lokal di daerahmu, siapa tau nanti kita direkrut buat kerja proyek bareng software house. Atau bisa jadi karena ada “bendera”, bisa dapet kerjaan proyek pemerintah. Sekedar buat pengalaman, seru loh.

Dari situ, tinggal rutinkan saja..sudah cukup untuk bisa mendatangkan proyek-proyek lokal 🙂

Dan jangan jadi “kacang lupa kulitnya”, kalo sudah dapat klien, begitu selesai proyek, jangan putus komunikasi, bangunlah terus komunikasi itu, walaupun sudah tidak ada perlu.

Disclaimer: tulisan ini tidak ada maksud menggurui, justru saya masih harus banyak belajar, dan justru ada banyak yang lebih sukses dalam hal proyekan. Tapi sebisa mungkin tak share biar ilmu ini bermanfaat.

Dari pengalaman, dengan membangun kepercayaan, saya bisa mendapatkan klien sampai ke Sumatera-Utara dan Balikpapan, saya kerja dari Jogja, dan bahkan tanpa pernah ketemuan langsung? loh …kok bisa? iya, karena saling percaya. Tapi ada juga yang minta ketemuan pas tandatangan kontrak kerja/MoU, penyerahan sourcecode dan dokumentasi pas di Jakarta dan Bandung, dan semua ditanggung klien.

Bacaan menarik:
https://clientflow.io/blog/33-ways-to-get-more-clients/
http://www.thedigitalprojectmanager.com/project-red-flags-…/

Kerja Remote

Secara definisi, kerja remote dapat diartikan kerja jarak jauh dari rumah dan berkomunikasi dengan perusahaan via email/telpon/aplikasi chat.[1]

Apakah seorang freelance atau project-based job sudah pasti pekerja remote?
Tidak, dari beberapa berita, termasuk dari media forbes [2], pekerja remote itu bisa jadi memang pegawai tetap, namun ia bekerja jarak jauh karena alasan tertentu.
Dan bisa juga seorang freelance, yang mendapatkan job kontrak/project-based, yang ia peroleh secara online.

Di Indonesia, sangat jarang perusahaan yang menerapkan pekerja tetap yang diperbolehkan remote. Ada, tapi sangat jarang. Alasannya ada beragam [3]:

1. Komunikasi
“eh lu gk ngantor? ngapain?” | “ya kerja pak, tapi dari rumah” | “gmn gw tau lu kerja di rumah? bisa aja lu ngegame”
Banyak perusahaan enggan menerapkan sistem kerja remote karena biasanya komunikasi tidak begitu lancar. Apalagi untuk lingkungan start-up yang ketat, penuh dengan target jangka pendek dan dinamika bisnisnya cenderung tinggi. Dengan kondisi tersebut, akan sangat rawan bagi perusahaan terjadi miss-communication dan terlambatnya “delivery” pekerjaan sesuai dengan yang ditargetkan. Mengapa? karena komunikasi menjadi kurang jelas.
Selain itu trusting level jadi persoalan, apakah orang tersebut memang sedang bekerja dari rumah atau sedang melakukan yang lain.

2. Kultur
Seorang pekerja biasa bekerja dengan kultur bekerja di perusahaan, menerima kerjaan dari atasan secara langsung, dan mendiskusikan pekerjaan dengan tim secara tatap muka. Tiba-tiba harus menjadi “remote worker” tentu akan mengagetkan orang tersebut.
Dan sebuah perusahaan yang demikian, akan sulit memperkerjakan pekerja remote apalagi sering terjadi diskusi secara tatap muka dan rapat project dilakukan di dalam ruangan tertutup. Persoalan urgensi, ketika remote worker harus segera hadir di kantor karena rapat yang harus dijelaskan secara tatap muka, namun tidak bisa hadir, tentu perusahaan akan mengalami kerepotan menghadapi kondisi tersebut.

3. Bukan sebagai team
Ketika seseorang bekerja secara remote, kecenderungan individualisme terbuka lebar. Mereka bekerja dalam tim, tapi melakukan semuanya berjalan sendiri-sendiri, walaupun ada software project management dan issue tracker. Diskusi antar anggotapun nyaris tidak pernah, malah yang terjadi, kerjakan task->set status di project management software->lapor PM->done->doing another task (looping)

================================

Pengalaman pribadi, dari 2011 sampai 2016 kerja remote dengan Pusat Kajian Hadis (karyawan tetap remote) dan beberapa project-based dengan klien dari Humanitarian Open Street Map Jakarta, JasaConnect Jakarta, BNI pusat Jakarta, Radio Dakwah Islam (Jambi), PDAM Palembang, dll (kantor di luar Jogja, kerja dari kost/kontrakan dan rumah di Jogja), dari 3 alasan di atas, memang kendala no.1 beberapa kali terjadi, tidak sering, hanya beberapa kali, terutama ketika inisialisasi project dan transfer-knowledge. Antisipasinya adalah: sering komunikasi (daily call) baik via Skype/slack ataupun telepon. Dirutinkan setiap hari, biasanya di akhir jam kerja. Untuk tracking pekerjaan juga dilakukan setiap hari, status pekerjaan dari in-analysis>in-development>in-testing>dll..perlu segera diset dan tidak ditunda untuk mencegah “misscommunication”, selain itu delivery pekerjaan secara remote juga harus sedetail mungkin apa saja yang telah dikerjakan per hari melalui tulisan dengan menggunakan kata-kata yang jelas, padat dan informatif, berbeda dengan bekerja “on-site” di kantor, yang bisa disampaikan dengan berbicara langsung dengan atasan. Kenapa? biasanya saya bekerja dengan tim programmer, ada saja developer yang delivery pekerjaan, memberitahukan status pekerjaannya hanya dengan tulisan “mas, task A sudah digarap”, sudah gitu aja, saya gak tau dia push kerjaan di mana, buktinya mana, testingnya gimana, jam berapa, apa saja yang berubah/ditambahkan, akhirnya jadi repot harus cek sendiri di git source-codenya. Ingat, bekerja remote itu sebisa mungkin tidak merepotkan, dibuat sama kondisinya sama seperti bekerja di kantor. Informasi yang dibutuhkan PM sebisa mungkin inisiatif diberikan tanpa harus diminta.

Referensi:
[1]http://dictionary.cambridge.org/dict…/english/remote-working
[2]https://www.forbes.com/…/how-remote-work-is-changing-and-…/…
[3]https://www.inc.com/…/work-from-home-won-t-happen-in-my-com…
https://blog.hubstaff.com/reasons-companies-fail-remote-wo…/

Quick Android Review Kit

Linkedin punya repo yang menarik hati: https://github.com/linkedin/qark

serupa dengan mobile top 10 security vulnerabilities via owasp yang pernah saya bahas di tulisan sebelumnya.

Kali ini, saya mencoba sebuah tool bernama “QARK” (Quick Android Review Kit) yang terdapat di repo punya linkedin. Tool ini dikembangkan menggunakan python dan tool ini mampu menganalisis dengan mudah celah keamanan di aplikasi Android yang kita kembangkan.

Tanpa perlu memeriksa satu per satu, hanya dengan mengetik satu baris perintah (bisa dipakai untuk memeriksa apk ataupun sourcecode), dan output dari tool ini adalah memberitahukan persentase celah keamanan dan juga apa saja yang berbahaya dan harus dihindari.


Baru saja saya coba di laptop saya, dan sebagai bahan percobaan, saya mencoba salah satu sourcecode aplikasi project saya sebelumnya. Dan di screenshot di bawah ini, ada beberapa celah keamanan yang diperlihatkan dengan persentase. Setelah semua dicek satu per satu, di bawahnya dibahas satu per satu, apa saja yang menjadi celah agar dapat diperbaiki segera oleh developer.

Persentase tingkat celah keamanan di aplikasi yang dikembangkan
Beberapa “suggest” yang diberikan QARK ini agar saya bisa memperhatikan dan memperbaiki celah keamanan tersebut

Anda memerlukan Python terinstall di OS laptop/PC untuk mencoba Qark ini. Silahkan download python di sini. Setelah selesai download python. Bisa dicoba install qark melalui terminal dengan cara, download terlebih dahulu sourcecode qark tersebut dari github. Kemudian jalankan terminal, arahkan terminal ke folder tempat sourcecode qark tersebut disimpan di harddisk anda. Lalu ketikkan perintah berikut di terminal:

$ python qarkMain.py [enter]

Setelah berhasil, sebuah jendela qark akan muncul di layar, dan tinggal dipilih deh apa yang mau dilakukan dengan tool kit ini. Selamat mencoba.

Memperkuat keamanan di sisi aplikasi mobile Android

Saat saya menerima hasil audit tahap pertama, saya kaget, ternyata aplikasi yang saya buat, datanya “telanjang”, kelihatan semua. Loh? padahal sudah saya enkripsi dengan RSA public-key, tapi kok URLnya keliatan, data yang di-POST keliatan, dan tidak rusak sama sekali datanya, padahal sudah pakai koneksi https (SSL). Saat itu ternyata masih belum cukup. Saya menerima hasil audit tersebut dan melihat software apa yang dipakai oleh IT Security Engineer-nya: ternyata yang dipakai adalah tool Burp Suite (https://portswigger.net/burp), Nmap, Charles proxy, dan beberapa baris script yang dijalankan di bash di HP rooted. Sama seperti tool security testing atau pentest (penetration test) lainnya seperti Wireshark, OWASP (Open Web Application Security Project) dan Back Track . Tools yang dipakai bertujuan untuk menguji beberapa standar pengujian di aplikasi mobile. Bisa dicek di web berikut ini dari M1 sampai dengan M10.

Beberapa aspek yang diuji yang menjadi mobile risk base line adalah:

  • improper platform usage (M1),
  • insucure data storage (M2),
  • insecure communication (M3),
  • insecure authentication (M4),
  • insufficient cryptography (M5),
  • insecure authorization (M6),
  • client code quality(M7),
  • code temparing (M8),
  • reverse engineering (M9),
  • dan extraneous functionality (M10)

Mari kita bahas satu per satu dengan singkat (saya sertakan link pelengkap di setiap bahasan agar bisa dijelajah lebih jauh)…

Untuk mengatasi issue M1, platform yang digunakan harus jelas, codingan yang kita gunakan juga harus terstandar sesuai dengan guideliness di SDK Android. Ini untuk meminimalisir improper platform usage.

Untuk M2, biasanya penyakit ini terjadi kalau developer menyimpan atau menampilkan data di Log, mungkin maksudnya biar mudah untuk debugging, tapi yang kayak gini biasanya akan jadi masalah ketika ada user yang test aplikasi kemudian membaca lognya dari tools seperti adb logcat atau ddms. Atau dia menyimpan data pengguna di db sqlite yang bisa di-extract dari APKnya dan dibaca pakai tools SQlite browser. Atau menyimpan ke dalam flat file XML yang ternyata itu data penting. Jadi, sebaiknya hal tersebut dihindari. Bagaimana caranya log tersebut hilang pada saat kita build APK tanpa perlu capek remove atau comment satu per satu line by line di source code. Tenaaang..di Android kan ada proguard, bisa matiin log pakai proguard tersebut dengan cara menambahkan line berikut di file proguard:

-assumenosideeffects class android.util.Log {
    public static boolean isLoggable(java.lang.String, int);
    public static int d(...);
    public static int w(...);
    public static int v(...);
    public static int i(...);
}

Atau lebih jelasnya cek di laman berikut.

Untuk kasus M3, insecure connection biasanya terjadi ketika kita menggunakan koneksi http (port 80), bukan https (port 443). Emang apa bedanya? jika masih belum paham bisa main ke web ini. Selain itu yang menjadi concern ialah koneksi https tidak sepenuhnya aman, karena bisa dinetralisir dengan menggunakan proxy atau vpn yang insecure. Jadi ketika aplikasi hit ke server, sebelum sampai ke server, datanya melalui proxy dulu atau vpn dulu, tidak langsung ke server. Ya kena tangkap deh datanya terbaca jelas. Apalagi kalau tidak dilengkapi dengan trusted SSL. Tambah ketahuan. Tadi saya mengira dengan saya menguji sendiri aplikasi yang saya kembangkan dengan menggunakan Charles Proxy di MacOS, saya install cert dari Charles, kemudian jalankan aplikasi di Android. Tadaa..saya senang ternyata datanya sudah tidak terbaca, tapi begitu teman bilang “jangan lupa SSLProxy-nya disetting, mas”, pas saya setting untuk host server yang digunakan di aplikasi, kemudian tekan OK, kemudian jalankan kembali aplikasi yang saya buat. “loh???? kok datanya terbaca 100% tidak ada yang kacau..waduh”. Ternyata masih ada celah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, di Android sudah ada standar pinning SSL, bisa dilihat di web berikut. Jadi, ketika koneksi tersebut untrusted SSL, aplikasi dapat memutuskan hubungan koneksi sehingga tidak terhubung ke jaringan yang tidak aman. Bagaimana cara mengakali VPN atau proxy. Di android bisa diantisipasi dengan cara mem-bypass proxy. Caranya seperti ini:

try {
    conn = (HttpsURLConnection) url.openConnection(Proxy.NO_PROXY);
    try {
        sf = new SSLSocketFactory(ksTrust);
        sf.setHostnameVerifier(SSLSocketFactory.STRICT_HOSTNAME_VERIFIER);
    } catch (NoSuchAlgorithmException e) {
        e.printStackTrace();
    } catch (KeyManagementException e) {
        e.printStackTrace();
    } catch (KeyStoreException e) {
        e.printStackTrace();
    } catch (UnrecoverableKeyException e) {
        e.printStackTrace();
    }
} catch (SocketTimeoutException | java.net.ProtocolException e) {
    e.printStackTrace();
} catch (ConnectException e) {
    e.printStackTrace();
} catch (IOException e) {
    e.printStackTrace();
}finally{
    conn.disconnect();
}

Dari contoh code di atas, koneksi HTTPS tersebut diset parameter NO_PROXY untuk mem-bypass proxy di device Android ketika aplikasi terhubung internet. Selain itu terdapat SSLSocketFactory dengan menggunakan KTrust (ini contoh variable dari Keystore yang digenerate dari file certificated trusted SSL). Dengan begini ketika koneksi untrusted otomatis koneksi tersebut terputus (conn.disconnect() di bagian finally). Selain itu bisa juga koneksi tersebut diset DIRECT Connection dengan cara seperti ini. Tujuan bypass proxy ini juga agar tools pengujian penetrasi di atas semacam Charles Proxy dan SandroProxy tidak dapat bekerja dengan baik (karena kedua tools tersebut menggunakan proxy). Bacaan tambahan soal Socket Proxy.

Untuk kasus M4, insucure authentication, bisa diantisipasi dengan 2-step-verification, makanya saat ini standar di aplikasi Android seperti itu, dengan menggunakan PIN via SMS atu telepon, atau dengan menggunakan biometrik touchID (sidik jari). Selain itu perlunya memberitahukan pengguna soal level kuat tidaknya password yang ia gunakan. Makanya di form pendaftaran biasanya di bagian password dicantumkan level kekuatan password : very weak, weak, medium, strong, very strong. Dan jangan lupa, dihimbau agar jangan membuat fitur untuk menyimpan mpin atau password ke database local atau di-sharedPreferences. Bila ingin membuat fitur “remember password” ya perlu dibuat ada expirednya di kedua sisi (backend dan aplikasi mobile).

Untuk kasus M5, insuffienct cryptography.. rendahnya tingkat kriptografi membuat data yang terenkripsi dengan mudah didekripsi. Di aplikasi dapat ditambahkan mekanisme enkripsi dua arah (server dan aplikasi), jadi server mengirimkan public key atau bisa juga bikin API untuk generate userAPIKey yang akan digunakan aplikasi untuk enkripsi RSA, bisa menggunakan base64 atau yang lain. Contohnya banyak di stackoverflow, atau bisa lihat di sini. Ada juga yang sudah dalam bentuk lib yang bisa langsung dipakai di sini (saya rekomendasikan yang ini, karena sering saya pakai untuk beberapa aplikasi Android). Umumnya biar aman, publicKey dan userAPIKey digenerate dari server, tinggal user request via aplikasi ntah itu ketika splash screen atau ketika di landing screen (berjalan secara background ya..jangan ditampilin). Ketika userAPIKey dan publicKey diperoleh, aplikasi tinggal memakai publicKey, ditambah dengan deviceID, module, dan exponent untuk enkripsi dengan RSA, bisa dipakai untuk enkripsi pin, password, atau data penting lainnya. Cara mendapatkan value module dan exponent bisa berkunjung ke web berikut.

Untuk kasus M6, pernah tau gak kalau kita mau install aplikasi, akan dicantumkan popup permission? nah, di situ aplikasi memiliki otorisasi untuk mengakses beberapa komponen dari OS device kita. Contoh, ketika kamu install aplikasi kamera, maka ketika install dan jalankan akan muncul popup meminta permisi untuk mengakses kamera (camera permission), atau aplikasi sticky notes, ketika kita install dan jalankan, akan muncul pop-up meminta izin mengakses storage, dll. Nah, pentingnya bagi pengguna untuk waspada, aplikasi apa yang kita install dan izin apa saja yang kita berikan. Jangan sampai kita menginstall aplikasi senter, ternyata permissions yang diminta banyak: minta izin akses akun google, minta izin akses lokasi, dll…kan jadi aneh. Nah, dari sisi development, permission ini dicantumkan di manifest aplikasi. Dan ketika aplikasi hendak menjalankan suatu metode yang berhubungan dengan device, biasanya permission ini ikut triggered. Jangan sampai kita menambahkan permission yang tidak ada hubungannya dengan tujuan aplikasi tersebut.

Untuk kasus M7, pernah liat codingan orang lain yang acak-acakan? atau gak perlu jauh-jauh, cek aja codingan sendiri 5 tahun yang lalu, mesti masih berantakan..hehe. Nah, code yang jelek seperti ini akan jadi masalah, rawan bug, rawan celah keamanan. Maka berlatihlah menulis code dengan baik dan benar hehe. Apalagi sekarang sudah ada beberapa standar atau pattern di dalam penulisan code Android. Dulu kenal MVC -> Model, View, Controller? nah di Android, selain MVC, ada juga pattern MVVM dan MVP. Dengan menerapkan pattern tersebut, otomatis kita sudah membiasakan codingan yang lebih rapih dan baik.

Untuk kasus M8, pernah liat atau pernah melakukan install APK mod sebuah games yang duit/emerald/koinnya bisa 99999999. Mungkin pernah main Candy Crush atau game lain yang koinnya 999999 (unlimited)? nah, APK tersebut adalah apk yang sudah dimodifikasi alias sudah ditambahkan code lain yang tidak resmi. Biasanya, APK itu di-build tanpa obfuscatedJadi, ketika APK didecompile, ya codenya terbaca jelas. Ya sudah, akhirnya si penyusup dapat menambahkan code lain-lain yang berbahaya, tinggal compile ulang dan sebarkan. Nah, bahayanya, ketika kita sebagai pengguna tidak tau kalau APK tersebut disisipi code berbahaya, ntah itu mengambil data akun kita (facebook, dll), atau merekam aktivitas kita di HP. Untuk mengantisipasi agar ketika APK di-decompile, codenya rusak (obfuscated), bisa menggunakan ProGuard dan aktifkan minify APK dari gradle. Selain itu di sisi server juga ditambahkan pengecekan apakah APK tersebut original ataukah mod, bisa dengan generate appID setiap update, jadi ketika versinya outdated atau appID tidak valid, maka tidak dapat terhubung ke server. Atau mekanisme pengecekan apakah APK rooted ataukah resmi. Pernah lihat kan? gak bisa install apk tertentu (misal netflix), karena HP/device Android kamu rooted? nah itulah bagusnya sisi keamanan app. tersebut.

Reverse engineering (M9), sudah pernah install aplikasi android “Show Java” ? coba deh install di PlayStore, atau klik tautan ini. Aplikasi tersebut memungkinkan aplikasi yang terinstall di device Android untuk di-decompile. Jadi, inputnya APK, outputnya jadi source-code Java (di-reverse engineering). Nah, kalau tidak di-obfuscate, codingan kamu ya akan terbaca jelas semua melalui aplikasi reverse engineering tersebut. Jadi source-code java, xml, dan lain-lain dari aplikasi tersebut dapat dilihat, dipelajari dan bahkan bisa dicari celah keamanannya. Bahayanya, jika kamu menaruh API_KEY atau hal-hal lain yang mestinya bersifat rahasia, jadi ketahuan deh. Cara antisipasi ini ya dengan di obfuscate melalui proguard dan atau..dengan minifyEnabled diset “true” di gradle app. aplikasi kamu (di bagian buildTypes>release). Selain cara menggunakan app “show java” di atas, apk kamu sebenarnya bisa dengan mudah di-reverse engineering dengan mengganti extensi apk menjadi zip atau tar. Misal, nama filenya: app-release.apk, coba deh ganti jadi app-release.zip, terus extract… Tadaaa… keliatan semua tuh folder dan file java beserta xmlnya. Makanya perlu diantisipasi dengan obfuscate itu tadi. Cara modding apk yang banyak dilakukan cracker untuk beberapa games ya dengan cara inject file atau replace file yang ada di dalam package apk tersebut (diubah jadi ext .zip terlebih dahulu) dengan file yang sudah dimodifikasi. Nah ini dia celahnya, jadinya ya APKnya sudah tidak signed lagi. Makanya penting menginstall apk yang sudah signed. Di PlayStore juga kalau mau publish apk mesti signed menggunakan keystore. Jangan install apk sembarangan ya.

Extraneous Functionality (M10), hal yang fatal yang sering ditulis developer di code aplikasinya adalah mengakses API dengan menaruh parameternya pada URL (dengan method GET), yang terkadang, bila si cracker mampu melakukan debug aplikasi, kemudian membaca URL APInya, kemudian membuat “backdoor“, mencobanya di browser, tadaa..ternyata berhasil diakses. Nah, dari sisi backend semestinya hal ini bisa dihindari. Jangan sampai API bisa diakses via url. Dan di Android sendiri sudah ada cara yang aman, misal menggunakan retrofit atau okhttp, dengan method POST dan tentunya seperti yang dibahas sebelumnya, parameternya di-enkripsi. Selain itu, matikan semua debug atau Log yang dipasang di app agar tidak ada data di background yang terbaca oleh orang yang tidak seharusnya. Periksa semua API endpoint yang diakses dari mobile app, apakah sudah tertulis dengan benar dan periksa semua log statement di source-code, jangan sampai ada sesuatu dari backend terbaca jelas di log (walaupun tujuannya sekedar buat debugging, tapi yang seperti ini bisa jadi celah).

Sekian pembahasan dari saya. Semoga bermanfaat bagi semua, dan mampu membuat code yang well-written, dan ini juga menjadi pengingat bagi diri saya pribadi yang masih perlu banyak belajar.

 

 

Meninggalkan zona nyaman haruskah “resign” dari kantor?

Seseorang teman bilang: “yah, masa’ lo balik ke zona nyaman di kantor sebelumnya hanya krn lokasinya jauh?”
tak balas: “yg pgn balik ke zona nyaman siapa? itu pertimbangan jauh ya krn faktor kesehatan dan tingkat stress kalo macet. Tempat kerja baru, jauh sekali..trs saya minta balik ke kantor sebelumnya bukan berarti itu zona nyaman”

Meninggalkan lokasi kerja sebelumnya tidak sama dengan meninggalkan zona nyaman.
Zona nyaman jangan diartikan sempit sebatas tempat kerja.
Zona nyaman itu adalah tempat di mana seseorang merasa aman dan nyaman dan gak mau lagi mencoba hal baru, ragu mencoba sesuatu yang baru dan ragu buat belajar hal baru. Jadi zona seperti itu ya ditinggalkan, bukan kantornya yang ditinggalkan

Contohnya…misal orang tersebut posisi programmer, terus upgrade skill berbeda dengan “push” dan memotivasi diri sendiri untuk belajar sesuatu yang baru. Bisa juga dengan terjun langsung ke tantangannya. Misal: programmer kantoran, kerjaannya gitu2 aja, malah lbh banyak santai youtube-an di kantor, main game, terjun ke dunia proyek (bisa sambilan, bisa ngisi waktu pas liburan atau pas malam hari), walaupun dia belum punya pengalaman, dengan dia berani..dia sdh meninggalkan zona nyaman. Toh, dengan begitu dirinya tertantang buat belajar menghadapi klien, belajar berkomunikasi dengan orang yang berbeda, belajar mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi klien dan bagaimana menyampaikannya dengan baik agar solusi tsb dapat diterima oleh orang lain, dan belajar pemrograman baru, teknologi baru, dll. Tanpa meninggalkan kantornya, dia sdh meninggalkan zona nyaman. Itu hanya sebagian contoh loh. Masih banyak contoh lain.

Contoh lainnya, misal dari programmer, tapi pengen naik tingkat ke level yang lebih tinggi, yaitu posisi analyst atau mungkin lebih tinggi lagi, posisi project manager. Jadi sembari dia kerja di kantor sebagai programmer, dia proactive, moving forward memperhatikan bagaimana analyst dan PM bekerja, dia gak malu bertanya, berdiskusi, ngajak makan bareng analyst atau PMnya, buat sekedar mendapatkan ilmunya dan menjalin komunikasi yang baik. Dia akhirnya punya inisatif tinggi di grup dan di kantor, tidak hanya menunggu bola, tapi juga menjemput bola sambil menyampaikan apa strateginya. Ini juga termasuk meninggalkan zona nyaman. 🙂 


Balik ke masalah lokasi, tempat lokasi itu jadi faktor penunjang performa kerja. Kalau tempat jauh, capek atau tua di jalan, performa menurun, boro-boro meninggalkan zona nyaman, buat dapet kenyamanan di kantor aja akan jadi sulit, lah sdh stress di jalan, kerja tentu jadi gak maksimal. Makanya tiap mulai kontrak kerja itu sebisa mungkin pro-active, nego, nanya, dan berdiskusi dengan baik agar ada jalan keluar dan solusi bersama, toh sama-sama butuh kan.


“Tapi kok kamu malah minta balik ke kantor lama sih, wid?” | “eittss, jangan salah..itulah strategi tarik ulur dalam negosiasi.. dengan klien-klienku juga tak pake cara serupa hehe..toh yang penting tiada yang dirugikan, dan kita tidak merugikan orang lain” (terinspirasi ibu-ibu yang nego harga di pasar..wkwkwk)