Mengapa masih banyak startup TI yang mencari superman?

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman-teman penggiat startup di Yogyakarta, dan satu startup dari Surabaya. Mereka berkumpul dan berdiskusi masalah progress pekerjaan developer-nya yang terkesan lambat, tidak sesuai target waktu yang ditetapkan si pemilik startup.

Lantas, di mana letak kesalahannya?

Keterlambatan deliverable progress pekerjaan dari developer, bukannya hanya mutlak kesalahan si developer itu sendiri, ada beberapa faktor keterlambatan sebuah proyek, di antaranya kurangnya komunikasi antar personil, keterbatasan resource (SDM), dan kehabisan budget. Berikut ini sedikit cerita pengalaman saya di beberapa startup TI

Saya beberapa kali menjadi “penasehat” a.k.a konsultan TI dalam hal resource di beberapa startup. Dan ini ada kasus yang menurut saya menarik diambil hikmahnya, karena ini jadi kasus yang sering terjadi.

Bulan februari 2018 lalu, saya diminta mengevaluasi sebuah startup yang bermasalah dengan programmernya. Sebenernya saya sudah sering diminta jadi konsultan, dari beberapa kasus startup, ya rata-rata semua masalahnya di resource-nya. Bahkan November 2017 ada startup yang targetnya ketat, sementara si developer-nya tunggal fullstack, ya saya bilang ke si empunya Startup, “sebaiknya si developer tunggal ini naik jabatan aja jadi Manajer TI atau Lead Developer-nya, terus rekrut 2 developer junior yang melanjutkan pekerjaanSaya rasa gak mahal, apalagi based-nya di Jogja. Daripada dipaksa seseorang buat selesaikan semua fitur ini dalam waktu singkat, hasilnya gak bagus. Proyek yang dipaksa pada timeline yg tidak wajar dan memangkas tahapan proses jelas mengorbankan kualitas. Daripada aplikasinya buggy, toh nanti repot di akhir”

Ok, lanjut ke cerita saya untuk artikel ini.

Jadi ini startup sudah berkembang, tapi ada masalah di sistemnya yang kurang termanajemen dengan baik. Saya lihat si startup ini malah dapat pendanaan dari beberapa investor. Sayangnya, dana tersebut bukan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas TI-nya, yang merupakan salah satu komponen penting untuk penunjang sekaligus percepatan core bisnis si startup ini, melainkan si startup memakai dananya untuk ekspansi ke daerah-daerah lain, padahal sistemnya belum sanggup. Begitu dipakai “kok lelet…, kok sistemnya bermasalah”. Dan akhirnya, saya melakukan observasi selama seminggu, saya ajak ngobrol pemilik startup, dari ngobrol ini-itu, saya jadi tau masalahnya di mana.. akhirnya, ada beberapa pertanyaan yang saya ajukan ke pemilik startup ini.

“mas, biasanya me-manage para developer gimana? pakai tools apa atau cuma chat biasa?” | “saya biasanya chat di Whatsapp, mas. Saya tanyain developer saya: progressnya ​halaman report bisa diselesaikan kapan? dia jawab: seminggu lagi, mas. Tapi ya saya tagih seminggu kemudian malah belum jadi, masih ada bug katanya” | “owh, jadi selama ini memantau pekerjaan developer dari Whatsapp aja, mas?” | “kalau misal masnya nanya kerjaan yang dikerjakan tahun lalu, terus pengen dikembangkan lagi gimana… apa nanya lagi terakhir sampe mana?” | “ya biasa, mas..saya tanyain “terakhir fitur tsb sampe mana ya? siapa yang ngerjain?” | “naah, gak ribet tuh misal developernya lagi kerjain fitur yang sekarang, harus tiba2 cek sourcecode yang lama yang ia kerjakan tahun lalu.. karena saya tau, untuk refresh ingatan soal kerjaan tahun lalu, apalagi tidak ada catatannya, ya repot, harus cari-cari dulu” | “owh, iya ya, kayaknya harus dicatat” | “saran saya, chat ya monggo, mas. Tapi jangan lupa ditulis di tools untuk organisir pekerjaan. Banyak contohnya, yang gratis sih ada trello, atau yang berbayar macem basecamp, jira, atau bitbucket” | “owh iya, mas, dulu saya juga pernah dapet saran dari teman disuruh pake trello..saya belum paham maksudnya” | “iya, kalau masnya cuma mengandalkan chat, nanya developer progress dah sampai mana, itu bisa saja developernya ngeles/alasan aja.. sementara buktinya tidak terlihat, kalau bisa ya dicontrol.. jadi pakai source control management, macem github, bitbucket ataupun gitlab. Dari situ kita bisa lihat progress si developer per hari bagaimana, apa saja perubahannya, walaupun masnya gak gitu paham TI, tapi setidaknya bisa dilihat. Dan juga atur waktunya dari tools organisir/manajemen proyek macem trello, jira ataupun basecamp. Saran saya sih untuk startup pakai trello aja dulu, jadi masnya bikin tiket pekerjaannya, tentukan deadlinenya di situ, nanti si developer tinggal melaporkan pekerjaannya dari situ juga, beserta url pekerjaannya dan apa saja yang dikerjakan, dibikin poin-poinnya. Dengan begitu, ketika ada developer yang melanjutkan, misal masnya rekrut developer baru, karena yang lama sudah resign, ya gak panik, tinggal si developer lama lengkapi dokumentasinya di trello tersebut, kalau ada yang kurang, terus ntar developer baru, tinggal baca-baca apa yang sudah dikembangkan, dan mana saja yang masih to-do-list, baik pekerjaan baru ataupun perbaikan error/bugs/masalah” | “wah, sarannya boleh juga, mas, iya tuh, saya denger ada startup yang ditinggalkan developernya, malah bisnisnya jadi tertunda sementara” | “iya, mas, kebanyakan fatalnya di situ. Jadi, biasakan mengontrol pekerjaannya dengan baik. Kalau dirasa masnya sibuk karena mesti ngurus bisnisnya, ya masnya rekrut orang lagi buat jadi CTO ataupun jadi Manajer TI Produk masnya ini. Biar dia yang bermain, mengelola proyek pekerjaan di startup ini” | “siap, mas, requirement manajernya seperti apa ya mas?” | “simpel aja, mas, gak perlu rumit-rumit, yang penting punya pengalaman membuat perencanaan, mampu mengelola, mengatur, dan mengevaluasi pekerjaan-pekerjaan TI di produk masnya ini. Nanti dia yang kontrol kerjaan developer, lebih bagus lagi paham project management dan agile methodology

Kemudian saya meminta izin ke si pemilik startup-startup agar saya bisa berdiskusi dengan teman-teman developer yang bekerja di sana.

Dan akhirnya saya berdiskusi sekaligus bertanya, pertanyaan saya pertama adalah.. “masnya sudah berapa lama di sini?”, dijawab “sudah, setahun, mas Widy”.

kemudian saya lanjut nanya “sendirian mas? apa ada temen yang bantu?” | “kalau saya sendiri mas yang garap backend, tapi kalau aplikasi mobile, saya sama 1 temen lagi yang bantu” | “owh, masnya full stack developer ya?” | “iya, mas” | “mas, saya ini kan diminta mas X (si pemilik startup) buat evaluasi produk yang mas kembangkan.. saya boleh minta tolong gak, dibikin list apa saja pekerjaan to-do-list dari produk ini, dari yang sedang masnya kerjakan sampai yang masih bermasalah yang jadi PR masnya” | “siap, mas..saya buatkan ya” |”iya, simple aja, kasih tau nama fitur>sub fiturnya saja.. gak perlu dikasih deskripsi, biar gk ribet”

Dan didapatlah list-nya dari developer tersebut. Saya akhirnya bertemu lagi dengan si pemilik startup: “mas, ini saya sudah ngobrol dengan developer X. Saya pengen tau, mas.. masnya kasih target ke developer sampai kapan?” | “ya kalo bisa akhir februari ini, mas. Soalnya Maret saya mesti ke Dubai, mau pitching di sana” | “ok, mas.. jadi gini, saya sudah cek fitur-fitur yang di aplikasi maupun yang di backend, dan saya lihat memang banyak sekali masalah/bugs dan kurangnya, apalagi masnya pengen ada report gitu kan..biar tau berapa income per bulan dan laporan keluhan pengguna. Dan ada masalah lain juga, mas, saya lihat desainnya tidak sesuai pattern OS Android dan iOS, mas. Mas, coba buka aplikasi Facebook di Android, ini saya sambil kasih liat yang di iOS, ada bedanya gak?” | “iya, mas, ada bedanya..kok gitu ya?” | “iya, UX (User eXperience) untuk masing-masing OS, baik Android dan iOS itu berbeda..jadi kalau user Android dicobain pake desain layout yang mirip iOS mungkin agak kurang terbiasa” | “tapi ini saya sudah dapat desainer, mas. Desainnya bagus, dia anak magang di sini” | “owh, boleh kasih liat desainnya, mas?” | “ini, mas” (sambil nunjukin kertas berlembar-lembar…ternyata desainnya diprint) | “ok, mas, ini sudah mendingan, cuma harus ada beberapa hal yang dikoreksi. Tapi yang terpenting adalah, ini kalau dilihat dari to-do-list si programmer dengan deadline waktu 2 bulan yang masnya tetapkan, saya sih beranggapan ini tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Problem yang ini (sambil saya nunjukin halaman yang buggy) lumayan juga effort-nya, kalau dia sendirian yang garap, sepertinya akan memakan waktu lama, karena kalau saya lihat existing code dengan yang akan dibuat itu seperti buat baru. Apalagi desain yang diminta untuk perubahan lumayan berbeda, mas. Saran saya, bergegas si developer sekarang biar dia fokus ke bugs fixing, karena dia yang paham existing code. Dan masnya rekrut 2 orang lagi untuk fitur-fitur tambahan yang ditargetkan februari ini, ya jangan dibuat ketat, masnya buat sedikit kelonggaran agar mereka bisa memulai mengelola pekerjaannya masing-masing, apalagi misal nanti datang developer baru, biar mereka bisa berbaur dulu sebagai tim, ya paling masuk akal menurut saya, akhir maret bisa selesai dengan semua list ini. Dan sambil jalan, masnya coba hire manajer yang memahami manajemen proyek TI dan juga seluk-beluk produk ini. Soalnya kan saya tau masnya basic-nya ekonomi, kemarin saya tanya masnya kalau nanya progress ke developer gimana..ya kayak gitu kurang control, mas” | “siap, mas, sarannya bagus, bisa saya coba, nanti saya tanya-tanya lagi ya mas” | “monggo, mas. Santai saja. Semoga berhasil ya”

Dari cerita di atas, hikmah yang dapat dipetik adalah… Mungkin sudah pernah dengar istilah:

9 Women Can’t Make a Baby in a Month

Ya, dimaklumi memang, kebanyakan startup butuh percepatan movement mereka agar bisnisnya dapat segera “menghasilkan”, namun sayangnya memangkas budget untuk resource agar dapat dialihkan ke marketing, dan lain-lain. Kebanyakan kekeliruan startup lokal di sini adalah, mereka belum paham, bahwa 1 orang tidak bisa begitu saja memiliki kemampuan superman, yang mampu menyelesaikan semua pekerjaan TI. Si developer disuruh desain sistemnya, desain databasenya, desain antarmuka penggunanya, terus dilanjut coding mengembangkan backend dan aplikasi frontend-nya, terus dia juga harus bisa benerin bugs dan menanggapi keluhan-keluhan pengguna. Wah, yang seperti ini superman atau mungkin sudah gila. Apalagi bayarannya tidak seberapa, dan ujung-ujungnya si developer jatuh sakit dan tidak betah.

Sama juga misalkan startup Anda banyak uang, kemudian uang tersebut dipakai untuk marketing besar-besaran, melontarkan lebih banyak uang untuk mempercepat adopsi pasar, ya ujung-ujungnya mubadzir. Ya seperti ungkapan di atas, 9 wanita tidak dapat melahirkan dalam waktu 1 bulan.

Standar yang tepat itu adalah “well-organized” dan “well educated“, mesti cerdas dalam mengelola produk anda, berapa besar biaya yang dipakai untuk SDM, berapa besar biaya yang dipakai untuk support, marketing, desain, dll..semua diatur di business plan yang semestinya sudah dibuat sebelum startup dijalankan. Well educated maksudnya, punya pengetahuan terkait startup ini, bagaimana motor penggerak bisnisnya, bagaimana infrastruktur yang dipakai dan SDMnya. Jangan sampai biaya habis di infrastruktur sistemnya, eh ternyata tidak dipakai secara maksimal. Jangan sampai sudah keluar banyak biaya buat marketing, pas pengguna tertarik buat nyoba produknya, eh ternyata produknya gak siap meng-handle banyak pengguna.

Saran saya, ya buat business plan yang matang, bila budget terbatas, mulailah kembangkan dari PoC atau Prototype-nya dulu, kemudian pitching ke investor, buat dapat pendanaan, siapa tau idenya menarik bagi investor. Kalau berani ambil resiko (tentunya punya manajemen resiko yang baik), coba mulai bagi tahapan pengembangan produknya dalam beberapa tahap, jangan semua sekaligus langsung jadi dalam waktu yang ketat. Tetapi dibagi, misal: kembangkan backend+API (web service) dan aplikasi Androidnya saja dulu, jika ada dana lagi, lanjut ke iOS, terus rekrut masing-masing personil sesuai keahliannya, biar mereka fokus dengan pekerjaannya.

Sebagai contoh, idealnya untuk startup kecil, ya bisa dimulai dengan: 1 developer backend, 1 developer frontend (mobile apps: Android/iOS), ini rekrut dengan sistem gaji per bulan (ntah kontrak dalam waktu tertentu, misal satu tahun ataupun permanen), dan cari freelancer desainer UI (antarmuka pengguna) yang direkrut dalam waktu 1-3 bulan untuk menggarap desainnya. Atau kalau mau lebih bagus lagi, ya dibuat lebih spesifik: 2 orang infrastructure dan network engineer, 1 orang manager, 1 orang database designer, 1 orang system designer, 1 orang UI designer, 2 orang backend+API developer, dan 2 orang frontend developer (web admin dan mobile apps).

Tahapannya biasanya, ketika infrastruktur sudah siap (server/hosting, database, dan setup beberapa kebutuhan lainnya sudah berstatus installed untuk lingkungan development), ya backend developer mempersiapkan dan memulai pemrograman backend system dan API-nya, dalam waktu bersamaan…si desainer kerja dalam waktu 1-3 bulan itu men-desain halaman dari halaman login, sampai halaman utama, nah, ketika halaman login sudah jadi, dan dirasa sudah bagus, tinggal si developer frontend yang garap login, dan seterusnya bertahap, (dengan asumsi API Login juga sudah dikerjakan oleh developer backend), jadi pekerjaannya berjalan paralel dan tidak saling tunggu. Dan yang terpenting, kelola pekerjaan mereka dengan tools manajemen proyek yang saya sebutkan di atas (misal: trello/jira), ajarkan mereka agar terbiasa melaporkan pekerjaan di tools online manajemen proyek tersebut. Dengan begitu, masing-masing personil bisa saling cek pekerjaan anggota tim yang lain, sambil menunggu pekerjaan si backend developer selesai, ya developer frontend bisa mulai dari memrogram tampilan halamannya dulu, dan seterusnya. Dan, yang paling utama, yang sering luput dari pelaku startup adalah komunikasi antar anggota tim, biasakan melakukan daily atau weekly call/conferences jika sedang berjauhan, atau daily/weekly meeting jika sedang dalam satu ruangan, atau ya sekedar makan siang atau hangouts bareng biar gak terlalu “tegang” suasana, dan tentunya biar refresh juga. Komunikasi yang baik adalah salah satu kunci penting keberhasilan proyek/startup. Jangan sampai, pemilik startup sibuk uruan ini itu, cuma bisa chat Whatsapp doang, sementara developernya bergerak sendiri, seperti kasus di atas.

Dan sambil pengembangan berlangsung, coba observasi pasar, bagaimana reaksi pengguna dan calon pengguna ketika anda perkenalkan produk anda tersebut, minta masukkan dari mereka jika diperlukan, karena inilah yang disebut “product / market fit”, soal kecocokan pasar, sehingga anda yakin dengan target pengguna anda.

Dan pesan saya terakhir pada artikel ini sebagaimana hadis Nabi Shallallahu alaihi wassalam: “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).

Sekian sekelumit peristiwa yang semoga bisa bermanfaat bagi pembaca 🙂

Terima kasih.

Referensi terkait tools online manajemen proyek:

 

Advertisements

Native vs Hybrid App. Programming. Pilih yang mana?

Sebelum saya membahas lebih jauh, saya ingin menjelaskan secara singkat pengertian apa itu Native dan apa itu Hybrid di dalam pengembangan aplikasi mobile (Android dan iOS pada khususnya).

Native app: build 1 app, hanya bisa di-deploy di single platform.

Hybrid app: build 1 app, bisa di-deploy multi platform (makanya ada jargon “build once, deploy anywhere“)

Aplikasi Android ditulis dengan menggunakan bahasa pemrograman Java (dan yang terbaru dengan Kotlin), dan Aplikasi iOS (iPhone/iPad/Watch) ditulis dengan Objective-C (dan yang terbaru dengan Swift), dan tidak ada cara keduanya dapat dicampur dengan bahasa pemrograman lain. Itulah native.

Sedangkan Aplikasi Hybrid mengizinkan kita untuk mengeksekusi platform web (misal Javascript) agar dapat berjalan pada  “native wrapper” (Apa itu native wrapper? sebuah subroutine di dalam lapisan Aplikasi, yang berfungsi sebagai penyedia akses menuju API di Sistem Operasi perangkat). Sistem arsitektur aplikasi Hybrid bisa dilihat di gambar berikut:

Di awal 2017, bahasa pemrograman Hybrid sudah diramaikan dengan adanya “react-native” yang basednya Javascript. Dan berdasarkan penelusuran saya di Github, Javascript sekarang sedang “naik daun”, dengan node.js, vue.js, dan react-nya

most popular programming languages on Github

React-native ini sendiri membutuhkan node, watchman dan react-cli. Dan sampai tanggal 29 November 2017 ini, react-native masih dalam tahap beta, belum ada versi stable. Namun, bukan berarti lambat berkembang, sampai saat ini sudah banyak framework yang telah dikembangkan dan dapat digunakan oleh para developer secara bebas, di antaranya Ignite. Ignite mempermudah pengembangan aplikasi dengan basis react-native, apalagi semua komponen, UI, theme, dll..sudah tersedia, tinggal pakai.

Ok, saya tidak akan membahas react-native lebih jauh soal ini. Mungkin akan saya bahas di lain kesempatan.

Pembahasan kali ini adalah menjawab 2 pertanyaan:

  1. “manakah yang lebih baik? hybrid kah atau native kah?”
  2. “Dan dalam kondisi seperti apa kita mesti menggunakan bahasa pemrograman native atau hybrid di dalam mengembangkan sebuah aplikasi?”

Ok, mari kita jawab satu persatu.

Bila ditanya mana yang lebih baik? saya bilang, tergantung kondisi. “Mengapa?” karena masing-masing ada keunggulan dan kekurangannya. “Loh, native ada kekurangannya toh?” sabar..sabar.. kekurangan di sini bukan ditinjau dari segi teknis pengembangan saja, tetapi juga dari harga dan waktu. Tentu pertimbangan ini penting bagi perusahaan di dalam menentukan produk mereka nanti mau dikembangkan secara hybrid atau native.

Secara singkat, ketika perusahaan memilih Programming Hybrid, maka yang harus dipertimbangkan adalah:

  • Membutuhkan human-resource(s) (SDM) yang menguasai teknologi web, seperti CSS, Javascript, HTML5, dan atau AngularJS.
  • Tampilan UI/UX cenderung statis, bisa dikustomisasi, namun effortnya lumayan.
  • Performance di beberapa kasus sama baiknya dengan native, tapi ketika melibatkan hardware, misal push notification, akses audio, sensor GPS/Kompas/Accelerometer, tidak sebaik native. Namun perkembangannya terus membaik.
  • Lack of documentation, developer dituntut tidak kaku dalam membaca dokumentasi, ada banyak sekali dokumentasi terkait hybrid programming dan sayangnya tidak di satu tempat, harus punya wawasan lebih dalam bereksplorasi teknologi hybrid. Berbeda dengan Android/iOS dengan menggunakan native, dokumentasi tersusun rapi dan sangat lengkap di masing-masing website resminya.
  • Membutuhkan tenaga konsultan di dalam mempertimbangkan module atau library apa yang hendak dipakai yang sesuai dengan spesifikasi aplikasi. Mengapa? karena belum tentu tersedia (akan tetapi sejenis react sekarang sudah banyak sekali library dan sudah lumayan lengkap) atau bagaimana effort-nya di dalam pengembangan.

Di lain pihak, native programming, ada yang harus diperhatikan juga, diantaranya:

  • Biaya pengembangan tinggi, dibandingkan dengan hybrid. “Kok bisa?” Jikalau perusahaan menginginkan aplikasi mobile di platform Android dan iOS, tentu ia harus menyediakan setidaknya dua human-resources (SDM) developer mobile android (dengan spesifikasi Java-Android atau Kotlin) dan iOS (dengan spesifikasi obj-C atau Swift), dan ini berjalan paralel agar tidak memakan banyak waktu. Sudah tentu biayanya tidak murah, apalagi kalau kompleks dan berbasis online, mesti harus menyediakan developer backend+API (agar aplikasi dapat berkomunikasi dengan server) juga. Jadi jangan heran “kok aplikasi seukuran Hape, kecil gitu, mahal banget ngalahin bikin website?” ya iyalah, kecil-kecil gitu, pengembangannya lumayan banyak yang harus dikerjakan.
    Sebagai contoh: aplikasi facebook. Aplikasi tersebut dikembangkan bertahap dan berlangsung sudah lama sekali. Awal rilis, fiturnya sedikit, lama-lama kompleks, selain menghindari lack-of-technology, tentu membuat pengguna juga jadi mudah beradaptasi dengan antarmuka-nya (ada hubungannya dengan User Experience), coba misalkan aplikasi facebook langsung kompleks kayak sekarang pas awal launch 2004 lalu, tentu ditinggalkan pengguna.
  • Yang pasti membutuhkan pengetahuan seputar bahasa pemrograman masing-masing platform (iOS dan Android) untuk masing-masing personel dalam tim, ntah itu Project Manager-nya, System Analyst-nya dan juga Desainer Antarmuka-nya. Jadi, jangan menggunakan designer web ya, akan jadi gak nyambung, karena spesifikasinya agak sedikit berbeda.
  • Source code terpisah masing-masing platform. Ada hal yang harus dipertimbangkan di dalam menjaga source-code tersebut, di antaranya, tentu platform Android dan iOS diletakkan di dalam repository berbeda di source control/versioning, semisal git (apalagi nanti misalkan fiturnya banyak, versinya banyak, kudu buat branch management), tapi ada juga yang monolitik. Selain itu punya keystore/cert yang berbeda untuk masing-masing platform, dan ini tidak boleh hilang. Selain itu menggunakan IDE dan tools berbeda untuk pengembangan, pengujian dan penerbitan untuk masing-masing platform tersebut.

Keuntungannya? mari kita bahas satu per satu

Dari hybrid programming, di antaranya:

  • Murah, cukup menyediakan satu developer, bisa bikin dua platform aplikasi Android dan iOS (dan untuk iOS membutuhkan sistem operasi macOS dan xcode, karena Apple hanya mengizinkan melalui itu di dalam mengembangkan aplikasi iOS)
  • Target pasar cukup besar, sekarang banyak sekali aplikasi yang dikembangkan secara hybrid, sebut saja facebook, instagram, airbnb, tesla, dan lain-lain. Ada yang dikembangkan dengan react-native, ionic, atau cordova. Dan ada juga kombinasi antara ionic/react-native dengan cordova (phonegap). Selain itu komunitas developernya cukup besar.
  • Low Barrier to Entry. Tidak perlu pesimis jika kita awalnya developer web, kemudian terjun ke dunia mobile apps. “Mengapa?”, karena untuk terjun ke sana, pembatasnya sangat sedikit, adaptasinya pun tidak lama, dalam hitungan waktu sebulan kita dapat menyesuaikan diri dengan platform hybrid dan frameworknya.
  • Source code cenderung ramping, dan kemampuan mendukung heterokapabilitas perangkat mobile.
  • Mudah di dalam menerbitkan aplikasi, dapat langsung terintegrasi dengan PlayStore dan AppStore.
  • Untuk beberapa kasus, mudah untuk di-maintain. Tetapi terkadang merepotkan, apalagi jika ada banyak library yang di-update (tapi bisa diantisipasi dengan mematikan auto-update beberapa library)
  • Sangat cepat di dalam mempersiapkan prototype. Butuh menyediakan prototype untuk presentasi dengan calon investor dalam waktu dekat? maka pilihan hybrid begitu tepat.
  • Banyak contoh script ataupun library JavaScript yang sudah tersedia di internet, ya karena didukung komunitas yang sangat besar, makanya sangat banyak.

Dari Native Programming, di antaranya:

  • Best end-user experiences. Tampilan antarmuka (UI) berdasarkan SDK masing-masing platform (Android ataupun iOS). Di hybrid framework, tampilan aplikasi bisa dibuat 1 tampilan yang kembar identik antara Android dan iOS, namun bisa juga dipisah dengan tampilan berbeda sesuai design pattern masing-masing. Namun, di hybrid framework, tampilan UInya kaku. Kalau di native, tampilan UI mampu mengikuti UI framework bawaan masing-masing platform. Misal, Handphone Xperia dengan Handphone Galaxy mempunyai UI framework berbeda kan? nah, jika kita mengembangkan aplikasi native, aplikasi secara otomatis menyesuaikan dengan UI framework masing-masing OS, atau mengikuti standar SDK dari OS yang terinstall di handphone. Sedangkan hybrid, tampilannya statis, UXnya sedikit berbeda dengan UI di OS yang terinstall di handphone tersebut.
    Berikut ini saya sertakan contoh mengapa hybrid agak kurang dalam urusan UX, terutama dari sisi UInya identik antar platform. (Namun di sisi lain, mempercepat pengembangan).

    Perbandingan tampilan web (browser), ios dan android di hybrid yang hampir tidak ada bedanya.
  • Highest ceiling for performance. Performa lebih baik. Secara jujur saya bilang, performa native dan hybrid tidak begitu signifikan bedanya. Saya belum pernah melihat ada delay terlalu jauh antara keduanya. Namun, untuk masalah yang melibatkan hardware, performa aplikasi yang dikembangkan secara native lebih baik, response load dan event-nya lebih cepat beberapa detik. Salah satu contohnya bisa dilihat di artikel berikut. Beberapa kendala yang ditemui juga untuk hybrid ketika melakukan push-notification, masih harus dua arah, dalam artian, masih harus melibatkan code secara native dikombinasikan dengan hybrid itu sendiri, makanya jadi agak bermasalah di performa. Sedangkan native, untuk persoalan tersebut tidak jadi masalah.
  • Natural look and feel. Masih berhubungan dengan poin pertama, tampilannya lebih natural mengikuti OS yang terinstall di perangkat Android/iOS.
  • Dan masih berhubungan dengan poin kedua, karena native, tentu akses layanan ataupun API SDK tentu lebih mudah dan cepat (bisa dibandingkan dengan gambar sistem arsitektur hybrid yang saya cantumkan di atas).
    Atau langsung melihat di gambar perbandingan berikut:

    hybrid-native-web comparison
  • IDE (Android menggunakan Android Studio dan iOS menggunakan xcode), Development tools dan Dokumentasi tersusun rapih, lengkap dan jelas untuk masing-masing platform Android dan iOS. Untuk Android dapat mengunjungi website https://developer.android.com  dan untuk iOS dapat mengunjungi website https://developer.apple.com.
  • Lebih mudah untuk melakukan debug aplikasi di masing-masing IDE.
  • Paling sesuai dengan target pasar. Dengan native, kita dapat menyediakan aplikasi yang sesuai dengan masing-masing OS yang digunakan end-user. Toh sampai detik ini masih banyak pengguna yang menggunakan OS Gingerbread, Jellybean dan belum tentu menggunakan OS terbaru (Oreo). Apalagi terdapat back-compatibility dengan perangkat OS yang lama. Dan sudah tentu desainnyapun mengikuti OS masing-masing tersebut. Sedangkan native ya statis seperti saya bilang sebelumnya tadi.
  • Keamanan aplikasi lebih baik. Pengembangan aplikasi secara native dibandingkan hybrid dianggap lebih aman, dengan fakta bahwa aplikasi native memanfaatkan fitur keamanan terintegrasi khusus dengan platform OS. Berbeda dengan hybrid, yang menempel pada webview, tentu beberapa pihak berpandangan bahwa hybrid rentan akan serangan injeksi ketika mengakses API tertentu di server.
    mobile-owasp

    Beberapa kejadian serangan ke aplikasi mobile adalah seorang hacker melakukan reverse-engineering aplikasi untuk memperoleh akses resource (seperti source-code, gambar, file database, dll) dan juga menggunakan aplikasi malicious yang berjalan secara background untuk mencuri/menyadap data pengguna. Beberapa waktu lalu, saya pernah membahas masalah keamanan aplikasi ini, di tulisan berikut.

Kesimpulan dari artikel ini….

Sekarang sih tidak jadi persoalan yang rumit lagi,  mau menentukan pilihan ke hybrid ataukah ke native. 😀 Tergantung kebutuhan saja. Pertimbangannya seperti yang saya tuliskan di atas. Semoga menjawab kedua pertanyaan tersebut.

Beberapa perusahaan memilih native karena ingin menghindari masalah-masalah pasca deployment, apalagi pass mass-production, kekhawatiran di perangkat pengguna tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun, ada pula perusahaan yang memilih dengan hybrid, karena ingin cepat launch, target waktu mepet, mungkin faktor bisnis atau faktor budget (biasanya sih yang seperti ini startup). Beberapa kasus yang terjadi, beberapa startup ingin mengembangkan sebuah aplikasi, saya tanya alasannya, karena uang dari investor sudah dikucurkan, namun si investor memberikan target waktu, waktunya mepet, maka dipilih hybrid. Di satu sisi juga menguntungkan si startup ini, karena cost lebih hemat, mampu membuat 2 platform sekaligus (android dan ios). Apalagi perusahaan yang model seperti ini tidak mempermasalahkan pasca-production “yang penting ada dulu produknya, urusan testing dan perbaikan bisa sambil jalan”.

Monggo yang mau berdiskusi, tanya-jawab dipersilahkan, toh saya juga masih newbie yang masih harus banyak belajar.

Paradigma

Tadi teman bilang: “saya di Java sudah 5 tahun, pak, tapi di rails belum setahun, kalau saya masuk tim itu, bisa-bisa saya jadi kroco”
Lantas teman yang senior satunya bilang: “pengalaman kerja kan bukan dilihat dari berapa lama kamu pengalaman di bahasa pemrograman itu..tapi dari selama ini yang kamu kerjakan, problem solving-nya seperti apa, achievement yang diperoleh apa saja”.

Banyak yang bisa coding, coding malah mudah, bisa otodidak, tapi yang memiliki skill problem solving itu sedikit.
Berapa banyak di grup developer bertanya “mas, aku liat gojek aplikasinya kayak gini, bikinnya gimana ya?” | “yaelah mikirnya langsung gede, mbok ya dipecah satu per satu fiturnya, cari masalahnya, terus cari solusinya…”

Logika coding seperti pemakaian logical expression, dan lain-lain, kalau memang logikanya jalan, mau coding pakai bahasa apapun ya mudah tinggal belajar syntax pemrograman tersebut saja. Bahkan dengan sangat mudah seseorang developer java beralih ke javascript.
Terus apakah yang mempengaruhi hal tersebut? Paradigma!

Paradigma adalah sudut pandang terhadap suatu masalah, realitas, keadaan, dan sebagainya. Dalam pemrograman pun dikenal istilah paradigma pemrograman, yakni sudut pandang atau strategi analisa khusus yang diambil untuk menyelesaikan suatu masalah pemrograman.
Kalau sudah bisa paradigma, mau belajar programming apapun jadi mudah. “if you know how to code, you can code in anything“. Tidak perlu menghapal syntax pemrograman, nanti juga mahir sendiri setelah googling>stackoverflow dan langsung ke kasus.

Nah, balik ke pengalaman kerja tadi, kalau sekedar teori, itu hanya pengetahuan yang masih “terkurung”. Sedangkan wawasan, lebih ke kesadaran emosional, ketika seseorang sudah berpengalaman, wawasan ini membuka “kurungan” pengetahuan yang selama ini dipelajari didasari pada yang telah diamati/dirasakan/kebiasaan. Dan paradigma menjadi seperangkat aturan dan aturan tsb melakukan dua hal:
(1) menetapkan dan mendefinisikan batasan; dan
(2) Ini memberitahu kita bagaimana berperilaku di dalam batas-batas agar tercapai tujuan.
Bagaimana belajar paradigma? ya bertahap dari pahami konsepnya, teorinya, baru memperkuat wawasan dari pengalaman.
Itulah mengapa seseorang problem solver itu paradigma-nya bagus.

Mendapatkan klien proyek lokal sebanyak mungkin

Coba nulis berdasarkan pengalaman di lapangan.
Mendapatkan klien lokal di proyek itu bukan “pufff…simsalabim” tiba-tiba datang proyek.

Tetapi membangun kepercayaan yang dijalin secara terus menerus.

“Lu ngapain sih wid, aktif FB terus… apa aja diurusin…”

Dulu sehabis lulus kuliah S1, saya bekerja di perusahaan vendor TI di Jakarta. Dan tugas saya slalu datang ke tempat klien-klien si vendor, karena saya sbg sr. maintenance developer .NET (dengan CMS dotnutnuke). Datang sendirian, dan kenal berbagai orang bank-bank di Indonesia. Tapi dari situ jadi kenal pribadi dan jadi teman. Lepas dari situ kembali ke Jogja, klien-klien tsb saya jadikan teman di Facebook.
Saya sering komentar status klien-klien saya di facebook, hanya sekedar tegur sapa..dan membangun kepercayaan. Bukan mengharapkan biar segera dapat proyek, dengan membangun relasi, seseorang sudah memperluas silaturahim. Toh siapa tau kita yang butuh bantuan, atau mereka yang butuh bantuan kita.

Ok, buatlah personal branding di jejaring kalau kita ini memang bisa ngoding, biasa bermain proyek dan bisa membangun sistem ataupun aplikasi.

“Eh, tapi banyak loh yang ketipu pencitraan, keliatan di jejaring pinter, eh pas ketemu langsung, ternyata mengecewakan”

Nah itu, jangan coba-coba memakai topeng kepalsuan.

Ok, sambil merutinkan tsb, coba berkunjung ke grup-grup FB seputar programming ataupun seputar proyek. Mesti ada tawaran. Naaaaah, dari situ mulai inisialisasi diri ke dalam proyek lokal.

Lakuin seserius mungkin. Ok, udah? teliti juga ya, pilih klien yang bener-bener bisa diajak kerjasama. Soalnya ada beberapa tipikal klien yang “agak gak masuk akal”. Kalo dah deal..lakukan sebaik mungkin, dari sinilah bangun lebih dalam kepercayaan tsb. Yakinkan bahwa “saya bisa bekerjasama dengan baik dengan anda”
Bangun komunikasi aktif dengan klien. Contohnya?
Ya laporin kerjaan jangan nunggu ditagih, tapi aktif memberi berkala, misal tiap hari di sore hari atau tiap minggu. Jangan sekedar bilang “pak, halaman ini sudah saya buat” <- ini gak informatif.
Tapi bilang yang kayak gini “pak, saya sudah bikin halaman ini, di halaman ini bapak bisa lihat sudah ada form a, b, c..” sambil nunjukin bukti. “bapak, bisa akses di halaman web ini, dengan username dan password abc, xyz”
Kalimat komunikatif ini salah satu bentuk keprofesionalan kita. Di email ataupun di aplikasi chatting.

Ok, kalo kerjaan tuntas, mintalah “referral” dari klien, bisa berupa rekomendasi di linkedin atau sekedar testimoni di halaman web/jejaring pribadi, atau sekedar mention di statusnya si klien. Kok minta? soalnya kalo nunggu, bisa jadi klien sibuk atau lupa.

Kalau sudah, coba bangun relasi dengan perusahaan startup atau software house lokal di daerahmu, siapa tau nanti kita direkrut buat kerja proyek bareng software house. Atau bisa jadi karena ada “bendera”, bisa dapet kerjaan proyek pemerintah. Sekedar buat pengalaman, seru loh.

Dari situ, tinggal rutinkan saja..sudah cukup untuk bisa mendatangkan proyek-proyek lokal 🙂

Dan jangan jadi “kacang lupa kulitnya”, kalo sudah dapat klien, begitu selesai proyek, jangan putus komunikasi, bangunlah terus komunikasi itu, walaupun sudah tidak ada perlu.

Disclaimer: tulisan ini tidak ada maksud menggurui, justru saya masih harus banyak belajar, dan justru ada banyak yang lebih sukses dalam hal proyekan. Tapi sebisa mungkin tak share biar ilmu ini bermanfaat.

Dari pengalaman, dengan membangun kepercayaan, saya bisa mendapatkan klien sampai ke Sumatera-Utara dan Balikpapan, saya kerja dari Jogja, dan bahkan tanpa pernah ketemuan langsung? loh …kok bisa? iya, karena saling percaya. Tapi ada juga yang minta ketemuan pas tandatangan kontrak kerja/MoU, penyerahan sourcecode dan dokumentasi pas di Jakarta dan Bandung, dan semua ditanggung klien.

Bacaan menarik:
https://clientflow.io/blog/33-ways-to-get-more-clients/
http://www.thedigitalprojectmanager.com/project-red-flags-…/

Kerja Remote

Secara definisi, kerja remote dapat diartikan kerja jarak jauh dari rumah dan berkomunikasi dengan perusahaan via email/telpon/aplikasi chat.[1]

Apakah seorang freelance atau project-based job sudah pasti pekerja remote?
Tidak, dari beberapa berita, termasuk dari media forbes [2], pekerja remote itu bisa jadi memang pegawai tetap, namun ia bekerja jarak jauh karena alasan tertentu.
Dan bisa juga seorang freelance, yang mendapatkan job kontrak/project-based, yang ia peroleh secara online.

Di Indonesia, sangat jarang perusahaan yang menerapkan pekerja tetap yang diperbolehkan remote. Ada, tapi sangat jarang. Alasannya ada beragam [3]:

1. Komunikasi
“eh lu gk ngantor? ngapain?” | “ya kerja pak, tapi dari rumah” | “gmn gw tau lu kerja di rumah? bisa aja lu ngegame”
Banyak perusahaan enggan menerapkan sistem kerja remote karena biasanya komunikasi tidak begitu lancar. Apalagi untuk lingkungan start-up yang ketat, penuh dengan target jangka pendek dan dinamika bisnisnya cenderung tinggi. Dengan kondisi tersebut, akan sangat rawan bagi perusahaan terjadi miss-communication dan terlambatnya “delivery” pekerjaan sesuai dengan yang ditargetkan. Mengapa? karena komunikasi menjadi kurang jelas.
Selain itu trusting level jadi persoalan, apakah orang tersebut memang sedang bekerja dari rumah atau sedang melakukan yang lain.

2. Kultur
Seorang pekerja biasa bekerja dengan kultur bekerja di perusahaan, menerima kerjaan dari atasan secara langsung, dan mendiskusikan pekerjaan dengan tim secara tatap muka. Tiba-tiba harus menjadi “remote worker” tentu akan mengagetkan orang tersebut.
Dan sebuah perusahaan yang demikian, akan sulit memperkerjakan pekerja remote apalagi sering terjadi diskusi secara tatap muka dan rapat project dilakukan di dalam ruangan tertutup. Persoalan urgensi, ketika remote worker harus segera hadir di kantor karena rapat yang harus dijelaskan secara tatap muka, namun tidak bisa hadir, tentu perusahaan akan mengalami kerepotan menghadapi kondisi tersebut.

3. Bukan sebagai team
Ketika seseorang bekerja secara remote, kecenderungan individualisme terbuka lebar. Mereka bekerja dalam tim, tapi melakukan semuanya berjalan sendiri-sendiri, walaupun ada software project management dan issue tracker. Diskusi antar anggotapun nyaris tidak pernah, malah yang terjadi, kerjakan task->set status di project management software->lapor PM->done->doing another task (looping)

================================

Pengalaman pribadi, dari 2011 sampai 2016 kerja remote dengan Pusat Kajian Hadis (karyawan tetap remote) dan beberapa project-based dengan klien dari Humanitarian Open Street Map Jakarta, JasaConnect Jakarta, BNI pusat Jakarta, Radio Dakwah Islam (Jambi), PDAM Palembang, dll (kantor di luar Jogja, kerja dari kost/kontrakan dan rumah di Jogja), dari 3 alasan di atas, memang kendala no.1 beberapa kali terjadi, tidak sering, hanya beberapa kali, terutama ketika inisialisasi project dan transfer-knowledge. Antisipasinya adalah: sering komunikasi (daily call) baik via Skype/slack ataupun telepon. Dirutinkan setiap hari, biasanya di akhir jam kerja. Untuk tracking pekerjaan juga dilakukan setiap hari, status pekerjaan dari in-analysis>in-development>in-testing>dll..perlu segera diset dan tidak ditunda untuk mencegah “misscommunication”, selain itu delivery pekerjaan secara remote juga harus sedetail mungkin apa saja yang telah dikerjakan per hari melalui tulisan dengan menggunakan kata-kata yang jelas, padat dan informatif, berbeda dengan bekerja “on-site” di kantor, yang bisa disampaikan dengan berbicara langsung dengan atasan. Kenapa? biasanya saya bekerja dengan tim programmer, ada saja developer yang delivery pekerjaan, memberitahukan status pekerjaannya hanya dengan tulisan “mas, task A sudah digarap”, sudah gitu aja, saya gak tau dia push kerjaan di mana, buktinya mana, testingnya gimana, jam berapa, apa saja yang berubah/ditambahkan, akhirnya jadi repot harus cek sendiri di git source-codenya. Ingat, bekerja remote itu sebisa mungkin tidak merepotkan, dibuat sama kondisinya sama seperti bekerja di kantor. Informasi yang dibutuhkan PM sebisa mungkin inisiatif diberikan tanpa harus diminta.

Referensi:
[1]http://dictionary.cambridge.org/dict…/english/remote-working
[2]https://www.forbes.com/…/how-remote-work-is-changing-and-…/…
[3]https://www.inc.com/…/work-from-home-won-t-happen-in-my-com…
https://blog.hubstaff.com/reasons-companies-fail-remote-wo…/

Meninggalkan zona nyaman haruskah “resign” dari kantor?

Seseorang teman bilang: “yah, masa’ lo balik ke zona nyaman di kantor sebelumnya hanya krn lokasinya jauh?”
tak balas: “yg pgn balik ke zona nyaman siapa? itu pertimbangan jauh ya krn faktor kesehatan dan tingkat stress kalo macet. Tempat kerja baru, jauh sekali..trs saya minta balik ke kantor sebelumnya bukan berarti itu zona nyaman”

Meninggalkan lokasi kerja sebelumnya tidak sama dengan meninggalkan zona nyaman.
Zona nyaman jangan diartikan sempit sebatas tempat kerja.
Zona nyaman itu adalah tempat di mana seseorang merasa aman dan nyaman dan gak mau lagi mencoba hal baru, ragu mencoba sesuatu yang baru dan ragu buat belajar hal baru. Jadi zona seperti itu ya ditinggalkan, bukan kantornya yang ditinggalkan

Contohnya…misal orang tersebut posisi programmer, terus upgrade skill berbeda dengan “push” dan memotivasi diri sendiri untuk belajar sesuatu yang baru. Bisa juga dengan terjun langsung ke tantangannya. Misal: programmer kantoran, kerjaannya gitu2 aja, malah lbh banyak santai youtube-an di kantor, main game, terjun ke dunia proyek (bisa sambilan, bisa ngisi waktu pas liburan atau pas malam hari), walaupun dia belum punya pengalaman, dengan dia berani..dia sdh meninggalkan zona nyaman. Toh, dengan begitu dirinya tertantang buat belajar menghadapi klien, belajar berkomunikasi dengan orang yang berbeda, belajar mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi klien dan bagaimana menyampaikannya dengan baik agar solusi tsb dapat diterima oleh orang lain, dan belajar pemrograman baru, teknologi baru, dll. Tanpa meninggalkan kantornya, dia sdh meninggalkan zona nyaman. Itu hanya sebagian contoh loh. Masih banyak contoh lain.

Contoh lainnya, misal dari programmer, tapi pengen naik tingkat ke level yang lebih tinggi, yaitu posisi analyst atau mungkin lebih tinggi lagi, posisi project manager. Jadi sembari dia kerja di kantor sebagai programmer, dia proactive, moving forward memperhatikan bagaimana analyst dan PM bekerja, dia gak malu bertanya, berdiskusi, ngajak makan bareng analyst atau PMnya, buat sekedar mendapatkan ilmunya dan menjalin komunikasi yang baik. Dia akhirnya punya inisatif tinggi di grup dan di kantor, tidak hanya menunggu bola, tapi juga menjemput bola sambil menyampaikan apa strateginya. Ini juga termasuk meninggalkan zona nyaman. 🙂 


Balik ke masalah lokasi, tempat lokasi itu jadi faktor penunjang performa kerja. Kalau tempat jauh, capek atau tua di jalan, performa menurun, boro-boro meninggalkan zona nyaman, buat dapet kenyamanan di kantor aja akan jadi sulit, lah sdh stress di jalan, kerja tentu jadi gak maksimal. Makanya tiap mulai kontrak kerja itu sebisa mungkin pro-active, nego, nanya, dan berdiskusi dengan baik agar ada jalan keluar dan solusi bersama, toh sama-sama butuh kan.


“Tapi kok kamu malah minta balik ke kantor lama sih, wid?” | “eittss, jangan salah..itulah strategi tarik ulur dalam negosiasi.. dengan klien-klienku juga tak pake cara serupa hehe..toh yang penting tiada yang dirugikan, dan kita tidak merugikan orang lain” (terinspirasi ibu-ibu yang nego harga di pasar..wkwkwk)

“Adaptive Design” di Aplikasi Android

Salah satu bentuk tantangan tersendiri di dalam pengembangan aplikasi Android adalah, membuat aplikasi yang well designed secara antarmuka, apalagi ada banyak keberagaman jenis device Android, baik dari ukuran layar (3 inci, 4 inci, 5 inci sampai 10 inci) maupun density (Android menggunakan satuan dp (pixel density) bukan pixel, ini mengacu pada konsentrasi pixel pada layar tertentu, diukur dalam pixel per inch (ppi). Kerapatan pixel (dp) ini dihitung dengan membagi resolusi pixel diagonal layar dengan ukuran diagonal).

Ngomong-ngomong soal pixel density. Bisa dicek di tabel berikut bagaimana acuannya untuk beberapa resolusi dalam satuan pixel ke density pixel:

---------------------------     -----   ------------    --------------- ------- -----------     ----------------    ---         ----------
Device                          Inches  ResolutionPX    Density         DPI     ResolutionDP    AspectRatios        SysNavYorN  ContentResolutionDP
---------------------------     -----   ------------    --------------- ------- -----------     ----------------    ---         ----------                                                          
Galaxy Y                                 320 x  240     ldpi    0.75    120      427 x 320      4:3     1.3333                   427 x 320
?                                        400 x  240     ldpi    0.75    120      533 x 320      5:3     1.6667                   533 x 320
?                                        432 x  240     ldpi    0.75    120      576 x 320      9:5     1.8000                   576 x 320
Galaxy Ace                               480 x  320     mdpi    1       160      480 x 320      3:2     1.5000                   480 x 320
Nexus S                                  800 x  480     hdpi    1.5     240      533 x 320      5:3     1.6667                   533 x 320
"Galaxy SIII    Mini"                    800 x  480     hdpi    1.5     240      533 x 320      5:3     1.6667                   533 x 320
?                                        854 x  480     hdpi    1.5     240      569 x 320      427:240 1.7792                   569 x 320

Galaxy SIII                             1280 x  720     xhdpi   2       320      640 x 360      16:9    1.7778                   640 x 360
Galaxy Nexus                            1280 x  720     xhdpi   2       320      640 x 360      16:9    1.7778                   640 x 360
HTC One X                       4.7"    1280 x  720     xhdpi   2       320      640 x 360      16:9    1.7778                   640 x 360
Nexus 5                         5"      1920 x 1080     xxhdpi  3       480      640 x 360      16:9    1.7778      YES          592 x 360
Galaxy S4                       5"      1920 x 1080     xxhdpi  3       480      640 x 360      16:9    1.7778                   640 x 360
HTC One                         5"      1920 x 1080     xxhdpi  3       480      640 x 360      16:9    1.7778                   640 x 360
Galaxy Note III                 5.7"    1920 x 1080     xxhdpi  3       480      640 x 360      16:9    1.7778                   640 x 360
HTC One Max                     5.9"    1920 x 1080     xxhdpi  3       480      640 x 360      16:9    1.7778                   640 x 360
Galaxy Note II                  5.6"    1280 x  720     xhdpi   2       320      640 x 360      16:9    1.7778                   640 x 360
Nexus 4                         4.4"    1200 x  768     xhdpi   2       320      600 x 384      25:16   1.5625      YES          552 x 384
---------------------------     -----   ------------    --------------- ------- -----------     ----------------    ---         ----------
Device                          Inches  ResolutionPX    Density         DPI     ResolutionDP    AspectRatios        SysNavYorN  ContentResolutionDP
---------------------------     -----   ------------    --------------- ------- -----------     ----------------    ---         ----------
?                                        800 x  480     mdpi    1       160      800 x 480      5:3     1.6667                   800 x 480
?                                        854 x  480     mdpi    1       160      854 x 480      427:240 1.7792                   854 x 480
Galaxy Mega                     6.3"    1280 x  720     hdpi    1.5     240      853 x 480      16:9    1.7778                   853 x 480
Kindle Fire HD                  7"      1280 x  800     hdpi    1.5     240      853 x 533      8:5     1.6000                   853 x 533
Galaxy Mega                     5.8"     960 x  540     tvdpi   1.33333 213.333  720 x 405      16:9    1.7778                   720 x 405
Sony Xperia Z Ultra             6.4"    1920 x 1080     xhdpi   2       320      960 x 540      16:9    1.7778                   960 x 540

Kindle Fire (1st & 2nd gen)     7"      1024 x  600     mdpi    1       160     1024 x 600      128:75  1.7067                  1024 x 600
Tesco Hudl                      7"      1400 x  900     hdpi    1.5     240      933 x 600      14:9    1.5556                   933 x 600
Nexus 7 (1st gen/2012)          7"      1280 x  800     tvdpi   1.33333 213.333  960 x 600      8:5     1.6000      YES          912 x 600
Nexus 7 (2nd gen/2013)          7"      1824 x 1200     xhdpi   2       320      912 x 600      38:25   1.5200      YES          864 x 600
Kindle Fire HDX                 7"      1920 x 1200     xhdpi   2       320      960 x 600      8:5     1.6000                   960 x 600
?                                        800 x  480     ldpi    0.75    120     1067 x 640      5:3     1.6667                  1067 x 640
?                                        854 x  480     ldpi    0.75    120     1139 x 640      427:240 1.7792                  1139 x 640

Kindle Fire HD                  8.9"    1920 x 1200     hdpi    1.5     240     1280 x 800      8:5     1.6000                  1280 x 800
Kindle Fire HDX                 8.9"    2560 x 1600     xhdpi   2       320     1280 x 800      8:5     1.6000                  1280 x 800
Galaxy Tab 2                    10"     1280 x  800     mdpi    1       160     1280 x 800      8:5     1.6000                  1280 x 800
Galaxy Tab 3                    10"     1280 x  800     mdpi    1       160     1280 x 800      8:5     1.6000                  1280 x 800
ASUS Transformer                10"     1280 x  800     mdpi    1       160     1280 x 800      8:5     1.6000                  1280 x 800
ASUS Transformer 2              10"     1920 x 1200     hdpi    1.5     240     1280 x 800      8:5     1.6000                  1280 x 800
Nexus 10                        10"     2560 x  1600    xhdpi   2       320     1280 x 800      8:5     1.6000                  1280 x 800
Galaxy Note 10.1                10"     2560 x  1600    xhdpi   2       320     1280 x 800      8:5     1.6000                  1280 x 800
---------------------------     -----   ------------    --------------- ------- -----------     ----------------    ---         ----------
Device                          Inches  ResolutionPX    Density         DPI     ResolutionDP    AspectRatios        SysNavYorN  ContentResolutionDP
---------------------------     -----   ------------    --------------- ------- -----------     ----------------    ---         ----------

Dan dokumentasi lengkapnya bisa dilihat di sini: https://developer.android.com/guide/practices/screens_support.html#testing

Itulah mengapa di dalam Resources Project di Android Application terdapat drawable dan layout dengan kategori ldpi (low-dpi), mdpi (medium-dpi), hdpi (high-dpi), xhdpi (extra high-dpi), xxhdpi, dan xxxhdpi.

Selain itu pentingnya membuat layout terpisah untuk masing-masing ukuran layar.

Screens      for layouts          for drawables

ldpi         layout-small         drawable-ldpi
mdpi         layout               drawable-mdpi
hdpi         layout-large         drawable-hdpi
xhdpi        layout-xlarge        drawable-xhdpi

Sebagai contoh seperti gambar berikut:

Screen Shot 2018-03-11 at 4.49.49 PM

Gambar 1. membuat folder baru untuk beberapa jenis ukuran layar

Contoh di atas, saya membuat beberapa folder layout: layout, layout-hdpi, layout-sw320dp, layout-xhdpi, layout-xxhdpi. Masing-masing dipakai sesuai dengan jenis ukuran layar seperti tabel di atas.

Untuk layout-sw320dp, saya buatkan khusus untuk ponsel dengan ukuran layar 320×480 mdpi,480×800 hdpi, dst.

Atau dapat juga dibuat dengan nama layout lainnya seperti tabel berikut (layout-sw[angkanya]):

320dp: untuk ponsel kebanyakan (240x320 ldpi, 320x480 mdpi, 480x800 hdpi, etc).
480dp: untuk ukuran ponsel 5,5 inch dan tablet seperti Streak (480x800 mdpi).
600dp: untuk tablet 7 inch (600x1024 mdpi).
720dp: untuk tablet 10 inch (720x1280 mdpi, 800x1280 mdpi, etc).

Masing-masing kategori folder tersebut merujuk ke DPI layar device.
Jadi ketika ingin menerapkan aplikasi yang disupport di ukuran layar 3 inch (dengan dpi 160) dan 4 inch (dengan dpi 240), maka harus dicek di tabel di atas, bahwa dpi 160 itu adalah mdpi, so desain yang kamu siapkan mesti ditaruh di folder drawable/drawable-mdpi dan layoutnya di folder layout/layout-mdpi, begitu juga dengan DPI lainnya.

screen-shot-2017-01-13-at-4-07-46-pm

Gambar 2. drawable folder

Lalu bagaimana caranya biar satu slicing desain saya bisa pas ditaruh di masing-masing folder tersebut (ldpi, mdpi, hdpi, dll) tanpa perlu repot?

Ada banyak cara loh! Caranya gak pake ribet, ada yang cara online dan ada yang cara offline.

Untuk membuat 1 komponen desain agar bisa diterapkan di masing-masing folder dpi tersebut dapat menggunakan generator, salah satunya 9-patch generator yang bisa dicoba secara online di sini. Dan untuk cara offline-nya, bisa dicoba langsung dari Android Studio dengan cara:

Install plugin “Drawable Importer” dengan cara masuk ke Preferences di Android Studio.

Setelah itu masuk ke bagian Editor\Plugins dan pilih Browse Repositories. Masukkan keyword “Android Drawable Importer” lalu klik “Install Plugin”, seperti pada gambar di bawah ini:

drawable_importer-1

Gambar 3. Android Drawable Importer

Setelah itu tinggal digunakan dengan cara klik kanan file drawablenya dan pilih New\Scaled drawable. Dan ikutilah petunjuknya di layar.

Dengan mempersiapkan slicing komponen desain dengan berbagai ukuran layar, kita bisa membuat aplikasi tersebut menjadi adaptive design, tanpa khawatir aplikasi tersebut tidak cocok di berbagai ukuran layar.