Mendapatkan klien proyek lokal sebanyak mungkin

Coba nulis berdasarkan pengalaman di lapangan.
Mendapatkan klien lokal di proyek itu bukan “pufff…simsalabim” tiba-tiba datang proyek.

Tetapi membangun kepercayaan yang dijalin secara terus menerus.

“Lu ngapain sih wid, aktif FB terus… apa aja diurusin…”

Dulu sehabis lulus kuliah S1, saya bekerja di perusahaan vendor TI di Jakarta. Dan tugas saya slalu datang ke tempat klien-klien si vendor, karena saya sbg sr. maintenance developer .NET (dengan CMS dotnutnuke). Datang sendirian, dan kenal berbagai orang bank-bank di Indonesia. Tapi dari situ jadi kenal pribadi dan jadi teman. Lepas dari situ kembali ke Jogja, klien-klien tsb saya jadikan teman di Facebook.
Saya sering komentar status klien-klien saya di facebook, hanya sekedar tegur sapa..dan membangun kepercayaan. Bukan mengharapkan biar segera dapat proyek, dengan membangun relasi, seseorang sudah memperluas silaturahim. Toh siapa tau kita yang butuh bantuan, atau mereka yang butuh bantuan kita.

Ok, buatlah personal branding di jejaring kalau kita ini memang bisa ngoding, biasa bermain proyek dan bisa membangun sistem ataupun aplikasi.

“Eh, tapi banyak loh yang ketipu pencitraan, keliatan di jejaring pinter, eh pas ketemu langsung, ternyata mengecewakan”

Nah itu, jangan coba-coba memakai topeng kepalsuan.

Ok, sambil merutinkan tsb, coba berkunjung ke grup-grup FB seputar programming ataupun seputar proyek. Mesti ada tawaran. Naaaaah, dari situ mulai inisialisasi diri ke dalam proyek lokal.

Lakuin seserius mungkin. Ok, udah? teliti juga ya, pilih klien yang bener-bener bisa diajak kerjasama. Soalnya ada beberapa tipikal klien yang “agak gak masuk akal”. Kalo dah deal..lakukan sebaik mungkin, dari sinilah bangun lebih dalam kepercayaan tsb. Yakinkan bahwa “saya bisa bekerjasama dengan baik dengan anda”
Bangun komunikasi aktif dengan klien. Contohnya?
Ya laporin kerjaan jangan nunggu ditagih, tapi aktif memberi berkala, misal tiap hari di sore hari atau tiap minggu. Jangan sekedar bilang “pak, halaman ini sudah saya buat” <- ini gak informatif.
Tapi bilang yang kayak gini “pak, saya sudah bikin halaman ini, di halaman ini bapak bisa lihat sudah ada form a, b, c..” sambil nunjukin bukti. “bapak, bisa akses di halaman web ini, dengan username dan password abc, xyz”
Kalimat komunikatif ini salah satu bentuk keprofesionalan kita. Di email ataupun di aplikasi chatting.

Ok, kalo kerjaan tuntas, mintalah “referral” dari klien, bisa berupa rekomendasi di linkedin atau sekedar testimoni di halaman web/jejaring pribadi, atau sekedar mention di statusnya si klien. Kok minta? soalnya kalo nunggu, bisa jadi klien sibuk atau lupa.

Kalau sudah, coba bangun relasi dengan perusahaan startup atau software house lokal di daerahmu, siapa tau nanti kita direkrut buat kerja proyek bareng software house. Atau bisa jadi karena ada “bendera”, bisa dapet kerjaan proyek pemerintah. Sekedar buat pengalaman, seru loh.

Dari situ, tinggal rutinkan saja..sudah cukup untuk bisa mendatangkan proyek-proyek lokal¬†ūüôā

Dan jangan jadi “kacang lupa kulitnya”, kalo sudah dapat klien, begitu selesai proyek, jangan putus komunikasi, bangunlah terus komunikasi itu, walaupun sudah tidak ada perlu.

Disclaimer: tulisan ini tidak ada maksud menggurui, justru saya masih harus banyak belajar, dan justru ada banyak yang lebih sukses dalam hal proyekan. Tapi sebisa mungkin tak share biar ilmu ini bermanfaat.

Dari pengalaman, dengan membangun kepercayaan, saya bisa mendapatkan klien sampai ke Sumatera-Utara dan Balikpapan, saya kerja dari Jogja, dan bahkan tanpa pernah ketemuan langsung? loh …kok bisa? iya, karena saling percaya. Tapi ada juga yang minta ketemuan pas tandatangan kontrak kerja/MoU, penyerahan sourcecode dan dokumentasi pas di Jakarta dan Bandung, dan semua ditanggung klien.

Bacaan menarik:
https://clientflow.io/blog/33-ways-to-get-more-clients/
http://www.thedigitalprojectmanager.com/project-red-flags-…/

Advertisements

Meninggalkan zona nyaman haruskah “resign” dari kantor?

Seseorang teman bilang: “yah, masa’ lo balik ke zona nyaman di kantor sebelumnya hanya krn lokasinya jauh?”
tak balas: “yg pgn balik ke zona nyaman siapa? itu pertimbangan jauh ya krn faktor kesehatan dan tingkat stress kalo macet. Tempat kerja baru, jauh sekali..trs saya minta balik ke kantor sebelumnya bukan berarti itu zona nyaman”

Meninggalkan lokasi kerja sebelumnya tidak sama dengan meninggalkan zona nyaman.
Zona nyaman jangan diartikan sempit sebatas tempat kerja.
Zona nyaman itu adalah tempat di mana seseorang merasa aman dan nyaman dan gak mau lagi mencoba hal baru, ragu mencoba sesuatu yang baru dan ragu buat belajar hal baru. Jadi zona seperti itu ya ditinggalkan, bukan kantornya yang ditinggalkan

Contohnya…misal orang tersebut posisi programmer, terus upgrade skill berbeda dengan “push” dan memotivasi diri sendiri untuk belajar sesuatu yang baru. Bisa juga dengan terjun langsung ke tantangannya. Misal: programmer kantoran, kerjaannya gitu2 aja, malah lbh banyak santai youtube-an di kantor, main game, terjun ke dunia proyek (bisa sambilan, bisa ngisi waktu pas liburan atau pas malam hari), walaupun dia belum punya pengalaman, dengan dia berani..dia sdh meninggalkan zona nyaman. Toh, dengan begitu dirinya tertantang buat belajar menghadapi klien, belajar berkomunikasi dengan orang yang berbeda, belajar mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi klien dan bagaimana menyampaikannya dengan baik agar solusi tsb dapat diterima oleh orang lain, dan belajar pemrograman baru, teknologi baru, dll. Tanpa meninggalkan kantornya, dia sdh meninggalkan zona nyaman. Itu hanya sebagian contoh loh. Masih banyak contoh lain.

Contoh lainnya, misal dari programmer, tapi pengen naik tingkat ke level yang lebih tinggi, yaitu posisi analyst atau mungkin lebih tinggi lagi, posisi project manager. Jadi sembari dia kerja di kantor sebagai programmer, dia proactive, moving forward memperhatikan bagaimana analyst dan PM bekerja, dia gak malu bertanya, berdiskusi, ngajak makan bareng analyst atau PMnya, buat sekedar mendapatkan ilmunya dan menjalin komunikasi yang baik. Dia akhirnya punya inisatif tinggi di grup dan di kantor, tidak hanya menunggu bola, tapi juga menjemput bola sambil menyampaikan apa strateginya. Ini juga termasuk meninggalkan zona nyaman.¬†ūüôā¬†


Balik ke masalah lokasi, tempat lokasi itu jadi faktor penunjang performa kerja. Kalau tempat jauh, capek atau tua di jalan, performa menurun, boro-boro meninggalkan zona nyaman, buat dapet kenyamanan di kantor aja akan jadi sulit, lah sdh stress di jalan, kerja tentu jadi gak maksimal. Makanya tiap mulai kontrak kerja itu sebisa mungkin pro-active, nego, nanya, dan berdiskusi dengan baik agar ada jalan keluar dan solusi bersama, toh sama-sama butuh kan.


“Tapi kok kamu malah minta balik ke kantor lama sih, wid?” | “eittss, jangan salah..itulah strategi tarik ulur dalam negosiasi.. dengan klien-klienku juga tak pake cara serupa hehe..toh yang penting tiada yang dirugikan, dan kita tidak merugikan orang lain” (terinspirasi ibu-ibu yang nego harga di pasar..wkwkwk)

Menentukan harga jasa untuk programmer dan desainer

Setelah pernah dibahas mengenai menentukan harga project TI khususnya mobile apps. yang ingin kita bahas adalah bagaimana menentukan harga jasa untuk programmer atau desainer mobile apps (mungkin bisa dipakai untuk developer software secara global)

Begini, akhir-akhir ini saya sering ditanya mahasiswa : “mas, bagaimana cara menentukan harga desain saya? saya ragu mau pasang harga”

Kalau menghendaki harga yang pantas dan ideal, itu subjektif, silahkan tentukan berdasarkan usaha yang akan dikeluarkan dan alokasi waktunya. Dan pasang harganya. Yang penting berani dan sudah mengukur sendiri harga yang pantas. Jangan sampai, kamu pasang harga 3 juta rupiah, namun, ternyata uang yang dikeluarkan untuk usaha begadang, internet dan ngemil serta ngopi sambil bekerja itu ngepas 3jt, atau mepet 3juta, alhasil tekor dan gak ada untungnya.

Namun, beberapa programmer/desainer software junior, masih bingung, harga jasa saya berapa?

Mari kita perhatikan 5 hal yang mempengaruhi harga jasa kamu di dunia software engineering sebagai berikut :

  1. Scope pekerjaan.
    Scope adalah segala hal yang ada di dalam produk software/produk dari project TI dan segala proses di dalamnya.
    Mendefinisikan apa yang diminta, apa yang mesti dikerjakan, dibagi step-stepnya (rencana->rancangan) sampe menjadi rangkaian berurut apa saja yang dikerjakan. Dengan demikian, dapat diestimasi jadwal dan waktu pengerjaannya.
    Contoh, ketika saya dari tidur pengen berangkat ke sekolah :

    1. Saya bangun tidur (15 menit), kemudian
    2. saya mandi (15 menit), kemudian
    3. saya sarapan (30 menit), kemudian
    4. saya berangkat ke sekolah (20 menit).
  2. Proses pengerjaan,
    Sulit kah? mudah kah? simple kah? kompleks kah?
    Terus bagaimana proses yang mesti saya ikuti? banyak kah? tentu mesti memperhatikan, jika ternyata proses untuk mengerjakan codingannya ataupun desainnya, bisa memakan waktu berjam-jam.
    Mulai dari :

    1. memahami klien kemudian menganalisis kehendak si klien;
    2. brainstorming, berguna untuk mendefinisikan semua kebutuhan biar bisa dikerjakan menjadi karya kita;
    3. inisialisasi, mulai dari kamu corat-coret desain/coba-coba code init/awal sampe jadi prototyping;
    4. prototyping, membuat karyamu sampe dengan prototype;
    5. development/design, mulai deh ngembangin sampe memroses semua kebutuhan menjadi produk
    6. revisi, mesti ketemu bagian ini, kadang ada saja bagian yang tidak sesuai kehendak klien, nah ini mesti diperhitungkan;
    7. final version, ketika sudah direvisi, dipoles, dibungkus, terus diserahin deh ke klien.

    panjang kan prosesnya? ūüėÄ Makanya perlu diperhatiin betul, jangan sampe harga yang kamu pasang gak sesuai.
    Nah, ada beberapa hal itu bisa dikerjakan bebarengan, serentak (jika kamu ngerjainnya berdua atau lebih sama teman), tentu ada beberapa proses bisa dihemat waktunya. Coba lihat ilustrasi berikut :

    Critical Chain Project Schedule
    Critical Chain Project Schedule

    Kalo dilihat dari gambar di atas, tentu kita bisa memperkirakan, task apa saja yang bisa dikerjakan dalam 1 waktu bersamaan, dan mana yang tidak bisa. Jika tidak bisa, terus taruh di mana prosesnya..apa dikerjakan duluan, apa dikerjakan belakangan? tentu kalau ingin mengerjakan sesuatu, kerjakan dari yang paling mendasar.

  3. Standar harga per jam kerja (hourly rate)
    Kalo bagian ini, gak bisa sembarangan ditentuin. Kamu mesti sadari gaji/rate bayaran kamu berapa yang pernah kamu terima? terus itu dikerjakan berapa lama?
    Misal :
    Kamu pernah kerja 2 minggu (10 hari kerja, minus sabtu-minggu) dibayar Rp 3.000.000
    Sehari kerja dari jam 09:00 – 12:00, dilanjut ishoma, terus jam 13:00 – 16:00, berarti kalo ditotal : 6 jam kerja.
    Dan jika kita konversi menjadi perjam, rumusnya: Harga / total jam kerja / total hari
    Rp. 3.000.000 / 6 / 10 = Rp 50.000
    Berarti kamu dibayar Rp50.000,- per jam. Rate ini selalu naik seiring pengalaman, tentunya bila dinamika perubahannya naik, dalam artian, kamu sudah mengalami pengalaman yang banyak, yang dulunya sulit, jadi gampang, skill bertambah, dan beberapa project kamu jadi terbiasa garap (pengalaman). Semakin tinggi pengalaman, rate tentu semakin tinggi juga.
    Apalagi dibarengi skill yang makin tinggi pula (semakin banyak pengalaman, mestinya semakin beragam pula soft skill yang dikuasai). Bila kamu sudah 10 kali project dalam 2 tahun dengan hourly rate Rp 50.000,-… pas tahun ke-3, ya naikin lagi hourly rate jadi Rp 75.000,- atau Rp 100.000,-.Apalagi dalam 2 tahun itu kamu sudah belajar banyak, ditambah sekolah lagi, bisa berkali-kali lipat.Dan lagi-lagi, perhatiin juga standar gaji di dunia saat ini. (coba googling :¬†salary guide [tahun], contoh :¬†salary guide 2014, saya gak akan jelasin ini, cari di google dan baca sendiri sesuai posisi kamu di pekerjaan, bila orang kerja dibayar per bulan (20 hari kerja) sekian rupiah, tentu bisa dihitung per jamnya). Tentunya jika kamu di tahun kedua pernah mendapatkan proyek membuat sistem informasi perkantoran dengan harga Rp 60.000.000,-, kemudian di tahun ke empat¬†jangan pasang 60jt lagi, tapi dinaikin. Berapa besar kenaikannya? kalau masih kesulitan menentukan, kembali ke pembahasan kita di atas yang baru kita bahas¬†dan perhatikan di salary guide untuk profesi kita¬†di tahun ke-4 besar gaji/rate-nya berapa.

    Berikut ini contoh hourly rate di beberapa negara

    Screen Shot 2017-03-31 at 2.21.26 PM

    Mahal ya? iya, di sana dihargai lebih. Kalo rate di atas diterapkan di indonesia, tentu gak pas ūüėÄ makanya tadi saya sampaikan cek salary guide untuk Indonesia. Contohnya di sini:¬†Salary Guide 2016. Cek profesimu sebagai developer apa. terus cek berapa tahun pengalaman kerjanya. Jika sudah dapat, ya tinggal konversi ke per jam.

  4. Investasi
    Seluruh hal yang berhubungan dengan proses yang dikerjakan di atas, dan biaya yang keluar karena hal tersebut. Seperti yang saya jelaskan di atas.

    1. Saya bangun tidur (15 menit) -> gratis
    2. saya mandi (15 menit) -> sabun : Rp 2000, sampoo Rp 1000, pasta gigi+sikat giginya : Rp 8000
    3. saya sarapan (30 menit) -> sarapan ketoprak : Rp 6000, jalan kaki ke TKP
    4. saya berangkat ke sekolah (20 menit) -> berangkat naik motor, bensin Rp 6500

    Terus, kalo ditotalin : makan waktu 1 jam 20 menit (1,33 jam), dan biaya : Rp 82.000 (2000+1000+….+6500)

    Rumusnya : hourly rate x total proses kerja
    Jadi, ketika hourly rate kamu Rp 50000, berarti :

    Rp 50000 x 1,33 jam + Rp 82.000 = Rp 148666,66 (mari kita bulatkan ke atas :p Rp 149000)

    Ya nilai dari project ini : Rp 149.000,-

    Contoh di atas mungkin sedikit membingungkan, pada intinya saja ya. Jadi kalau kamu dapat proyek dalam waktu 1 bulan, ya dikonversi saja dalam satuan hari. 1 bulan = 20 hari kerja, 1 hari = 8 jam kerja. 20*8=160 jam.

    Misal hourly rate kamu adalah Rp 250.000,- dengan pengalaman sudah 3 tahun. Ya untuk proyek dengan waktu 1 bulan…tinggal dikalikan saja: Rp 250.000*160 jam= Rp 40.000.000

    Nilai 40 juta ini bukanlah nilai mutlak, jadi ada nilai resiko juga di dalam proyek, nah ini kita bahas di poin nomor 5 di bawah.

  5. Resiko
    Segala hal tentu ada resiko, nah jangan sampe resiko ini terjadi dan menimpa kamu. Resiko mungkin bisa dihindari, tapi jika terjadi, pikirkan dampaknya dan apa antisipasinya.
    Resiko besar yang biasanya terjadi itu : project diberhentikan di tengah jalan (bahaya dong, ntar ketabrak), requirements berubah (nah ini dia yang biasanya bikin jengkel, udah bikin capek-capek, gak dipake, mesti diganti)
    Resiko kecil : perubahan minor aplikasi/software, jadi menyita waktu juga walaupun perubahannya dikit-dikit.
    Resiko juga mesti diklasifikasikan berdasarkan :

    1. kesempatan terjadi
    2. potensi yang diakibatkan (parah apa nggak?)
    3. kesulitan mendeteksi resiko supaya bisa dihindari

    Contoh : bugs di aplikasi
    Kesempatan terjadi : menengah lah, gak sedikit juga, gak banyak juga kesempatannya.
    Potensi yang diakibatkan : tinggi, kadang 1 bugs, bisa bikin aplikasi gagal jalan sebagaimana mestinya
    Kesulitan mendeteksi : tinggi, kadang bugs itu sulit banget dicari >.<

    contoh lain : server kebanjiran
    Kesempatan terjadi : kecil, ini sih kesempatan langka banget sampe-sampe server kebanjiran, kecuali kamu taruh servernya di pinggir kali ciliwung.
    Potensi yang diakibatkan : tinggi, server tenggelam, nangislah kliennya. Kamu juga mesti ikutan nangis!
    Kesulitan mendeteksi : kecil, lah wong hujan deres, knapa gak disingkirin tuh server ke tempat yang tinggi.

    Nah, resiko-resiko seperti ini yang mesti diperhitungkan. Terutama ya bayaran kamu. Misal kalo kejadian macem-macem, bayaran kamu telat, bagaimana?. Atau kamunya yang telat ngumpul kerjaan bagaimana?

    Dari sisi developer, pas di kontrak kerja, jangan lupa cantumkan aturan-aturan¬†untuk klien (biasanya klien bikin aturan-aturan juga di poin proposal proyek (misal: apabila¬†kamu telat mengumpulkan progress, atau progress tidak sesuai apa yang diharapkan klien, biasanya klien punya hak mengurangi harga proyek), nah, di sini kamu juga perlu membuat aturan-aturan atau klausa yang memperjelas batasan kamu selaku developer, misal: masalah konfigurasi server ataupun backend bukan tanggungjawab kamu yang seorang developer mobile app, masalah akun PlayStore tanggungjawab klien dan harus menggunakan data dari klien, atau apabila ada permintaan¬†tambahan di luar scope pekerjaan yang telah disepakati, maka klien harus¬†di-charge bayaran baru. Itu harus ada klause kerjasama tambahan yang menyatakan poin-poin apa saja tambahannya dan berapa besar biayanya. Nah yang model ini, developer sering luput, lalai, klien menghendaki revisi ini itu, tambahan ini-itu, tapi nilai proyeksi investasinya tetap. Jatuhnya kita yang rugi. ūüôā
    Berikut ini ada gambar ilustrasi bagaimana harga sebuah proyek apabila dideliver ke klien lebih awal, tepat waktu atau terlambat. Dan berapa harga yang diharapkan. Dari sini bisa kamu kenali kalau untuk deliver sebuah progress pekerjaan ada resiko pinalty dari klien. Dan itu seharusnya kamu sudah antisipasi.

    Decision Trees
    Decision Trees

Sekian dulu yang dapat saya sampaikan, kurang lebih mohon maaf dan mohon dikoreksi ūüôā

Terima kasih.

Pengembangan perangkat lunak dari sisi realita disiplin ilmu TI

X : “mas, aku pgn buat kyk gini, tp kalo aku pake software A, katanya mesti convert ke XML atau pake software B”
saya : “ya, kalo sy memang lebih ringan pake XML, pak, ntar ditaruh di project app.nya”
X : “kalo sy pake software A ini, mas, gimana? saya tuh pengennya kayak aplikasi yg di d*** atau di *****, tau kan mas?”
saya : “yup, pernah pake, pak, install juga kok, malah sy nemu yg lebih bagus¬†lg, smooth di iOS dan Android, tp ya itu tetap saja enakan pake XML atau pake file tambahan dr Adobe AIR (SWF), pak”

Well, sebagai developer, jangan terpaku pada satu tools/software/teknologi saja, ingat, teknologi bisa kadaluarsa, bakal ada terus teknologi2 baru, dan sepantasnya memang kita masih harus terus belajar, biar bisa bersaing.

Ada pernah kejadian : “mas, knapa web servicenya pake rest, pdhal ada SOAP di sini” | “krn rest sdh terbukti lebih ringan, pak” | “lah, kata siapa? teman saya pake SOAP dgn php lancar-lancar aja”
beda case, pak, kalo itu kan infrastukturnya kyk gitu, sedangkan punya kita sekarang terlalu boros kalo pake SOAP. Banyak javascript di sini, kalo pake SOAP, ntar definisiin lg strukturnya di XML dll.. sementara timeline yang ada 3 bulan, pak.”

Nah, satu pelajaran lg, gk bisa kita generalisir satu masalah itu sama dgn masalah lain. Kasus lain, kamu bisa kerjain satu aplikasi dlm 1 malam, liat dulu skala aplikasinya.. krn sejatinya, permasalahan di dalam TI itu beda-beda, tidak bisa semua app itu bisa dalam 1 malam. Maka dari itu, banyaklah bergaul dgn sesama profesional TI, rajin berdiskusi (tidak sekedar bertanya, kadang orang lain jengkel kalo ditanya-tanya terus), dan kembangkan (sambil latihan terus).

Seseorang ingin dibuatkan aplikasi dgn metode re-use, kalau developer sebelumnya rapih dalam mengerjakan dan terstandar, enak, developer lain yg melanjutkan tidak akan keteteran, apalagi kalo dokumentasinya jelas dan lengkap. Tapi kalo yg sebelumnya develop gk selesai, ditinggal programmernya, terus developer yg baru disuruh gantiin dan lanjutin, apalagi tidak ada dokumentasi, dan mesti baca-baca codingan developer sebelumnya yg berantakan, apa gk stress tuh developernya? 

Kalo yang pernah saya hadapi di bank-bank (dulu kebetulan jd developer asp.net di Plasmedia kliennya bank kabeh | loh knapa skrg jd dev. Android? gk laku y? | klo sy skrg msh jd dev. asp.net, mungkin sy msh jomblo, mas soalnya hidupnya kost-kantor-mall-kost-kantor-mall, pas ramadhan aja, terawih gk pernah sempat, buka puasa sering di jalan/di kantor, makanya pas ada kesempatan S2, sy beraniin diri resign dan nyambi2 di jogja, eh alhamdulillah, salah satu klien sy, dr Pusat Kajian Hadis Jakarta menarik sy, skrg bs kenal ust. Lutfi, ust. YM, ust. Arifin Ilham, dll, sambil belajar agama dr beliau2 tsb), mereka (tiap bank) sudah punya core sistemnya, mereka tidak akan mengganti core sistem dan itu tetap berjalan (bahkan ada upgrade core sistem berkala), ketika ada penambahan aplikasi/software, ya biasanya tinggal re-use dengan beberapa penambahan modul dan desain sesuai pakem (guide book) yang sudah diberikan mereka. Dan itu bisa cepat selesai, bahkan untuk aplikasi besar, bisa 1-2 bulan kelar (bukan satu malam/2 minggu, krn birokrasi, kesiapan database, server, sampai konfigurasinya, dsb juga butuh waktu). Tapi gak tau juga ya kalo di tempat lain, pernah sm temen-temen grup PPP di DepKeu, denger-denger sampe ada debat internal antar pejabat dirjen. Itupun ngurusin database sampe cronnya juga njelimet di birokrasi. Syukur PMnya mental baja bisa ngadepin mereka. Dan 3 orang developernya : mas Mulia, Radita dan Nur Hidayat juga handal dalam development app.

“halah banyak ngomong, yg penting ngerjain!” |¬†¬†“nah iya, yg penting kerjain, anda sudah pernah ngerjain yg kyk gitu belum? mengerjakan sesuatu itu harus rapih, tdk bisa asal jadi, tepat sasaran untuk stakeholdernya, tepat guna dalam fungsi, teknologi dan biaya. Karena sejatinya, software itu mesti memiliki prinsip : useful, usable dan beautiful. Dengan proses bisnis yang tertata dan metodologi yang tepat sehingga siklus pengembangannya berjalan sesuai rencana”

Satu lagi..software personal jelas beda dgn software pemerintahan. software setipe front-end jelas beda dengan setipe backend.
Satu teknologi di satu tempat itu cepat, belum tentu di tempat lain jg cepat. Ada beberapa karakteristik dan parameter yg mendukung/menghalangi hal tsb. untuk bisa dikatakan itu cepat/lambat.

Ada kalanya kita sbg. developer sudah berbuat sesuatu utk klien, tp kurang puas dgn hasil kerja keras sendiri krn terkendala waktu yang diberikan sedikit, ada kalanya kita nemu kelompok developer yang diberikan waktu banyak, tp ngerjainnya asal-asalan, yang penting duitnya turun..alhasil tidak dipakai dan merepotkan user. Dan banyak kejadian-kejadian dengan plot twist yang dihadapi developer. “Kalo ketemu klien yg awam TI, minta cepet, ya garap aja, kalo ntar klien ngerasa tidak puas atau kurang pas, tinggal buka penawaran baru”¬†

Yang jelas, teruslah berusaha sebaik mungkin, jangan pesimis, kalo ada orang berusaha menjatuhkan, coba gerak terus saja. Dan satu hal, tidak ada salahnya mendengar dan belajar dari yang sudah berpengalaman/ahli biar makin meningkat ilmu yang kita pelajari, dan tentunya jadi bermanfaat lebih luas hasil yang kita kerjakan.

Sebentar lagi memilih presiden negara kita

Menurut saya pribadi, seorang presiden itu mengenal hal-hal konseptor secara luas, tidak hanya satu dua hal, misal pendidikan, yang dimajukan jangan hanya SMK saja, tetapi semua, dari wajib belajar 9 tahun sampai dengan perguruan tinggi.

Ia juga mampu menyampaikan informasi atau pesan apa yang sebaiknya pendengar ketahui. Oleh karena itu, seorang presiden yang baik adalah presiden yang mampu berpidato dengan wibawanya sebagai seorang presiden, bukan seorang komik. Dan juga tidak mengada-ada atau membuat guyon yang tidak pantas diucapkan oleh seorang presiden. Skill public speaking ini penting, apalagi menyangkut hubungan diplomatis. Karena jika tidak diplomatis, orang lain akan memandang rendah negara kita karena pemimpinnya lemah.

Ditambah untuk hubungan internasional, skill bahasa asing harus dikuasai dengan baik, jangan sampai apa yang disampaikan oleh seorang presiden itu adalah hal-hal yang tidak dimengerti oleh delegasi asing/wakil dari negara asing. Lebih-lebih lagi, walaupun nanti memakai jasa ajudan untuk translator, karena tidak pandai menyampaikan, akhirnya info yang disampaikan translator ke wakil negara asing tersebut jadi keliru. Itu berbahaya.

Semoga calon-calon presiden negara kita Republik Indonesia, yang bernomor urut satu ataupun dua, mampu hal penting ini.
Demi martabat negara kita.

Mohon jangan komentar negatif atau jelek di status ini.
Ingat, kita ini Umat Islam, dimuliakan dengan Islam. Mengolok-olok (Al-Hujurat:11, bawa-bawa keturunan (seorang nabi Nuh as saja anaknya kafir), bawa-bawa harta kekayaan (inget kisah Qarun, Fir’aun), bawa-bawa amalan ibadah (amalan itu diterima/tidak hanya Allah yang Maha Mengetahui), itu tidak dibenarkan dan di larang dalam agama islam.

Ini hanya pandangan saya sebagai seorang profesional TI.

Namun, penting diingatkan untuk saya pribadi dan teman-teman, bahwa kita sebentar lagi akan memilih calon presiden, pilihlah sesuai ajaran agama kita, yang menegakan agama kita, dan prioritaskan pada kriteria seorang pemimpin (khalifah). Kriteria memilih seorang pemimpin (Khalifah) itu sederhana.
cukup dengan empat hal:

  1. Jujur (Shidiq)
  2. Dapat Dipercaya (Amanah)
  3. Cerdas (Fathanah)
  4. Menyampaikan Kebenaran (Tabligh)

Jika tidak ada yang sempurna, maka menjadi tugas kita masing-masing untuk berusaha mencari yang lebih mendekati kriteria ideal di atas.

Dan ini sifatnya Ijtihady, Dzanny (dugaan), bukan Qath’iy (valid). maka perbedaan adalah konsekwensi yang mustahil terelakkan. Wallahu A’lam.

Dan sebentar lagi, masa jabatan bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir. Beliau sudah banyak berjasa untuk Indonesia. Membawa nama baik untuk Indonesia. Mari kita do’akan, semoga beliau mampu menyelesaikan kewajiban beliau sampai akhir jabatan dan membuat indonesia lebih baik dan semoga apa yang telah beliau kerjakan untuk indonesia ini menjadi amalan yang baik yang membawa pengaruh baik kepada kita semua agar menjadi mandiri, tangguh dan sejahtera, dan amalan tersebut mudah-mudahan diterima oleh Allah. Aamiin Allahuma aamiin.
Terima kasih, pak SBY ūüôā

Berikut saya sertakan video pidato pak SBY di Harvard dari VOA-Indonesia  :

 

 

Menjadi suami seorang pekerja TI

Masa di mana suami jd spontan merenung itu ketika suami melihat istrinya sedang tidur.. Ada rasa bersyukur ada rasa bersalah…menyadari bahwa suami itu cenderung lebih egois.¬†

Ntah alasannya mencari nafkah, ia sudah merasa paling capek sendiri..selesai bekerja dgn penuh keringat, kadang mukanya kusut, ia pulang sudah dilayani istri spt tuan rumah. Namun istri tetap setia menanti dengan senang hati, menyambut suami dengan manja walau suami kusut, dan siap menjadi tempat berlabuh lelahnya suami.

Ntah alasan suami krn ia seorang developer, designer ataupun analis yg minta dimengerti kalau kerjaannya butuh konsentrasi tinggi berjam-jam kerja memperhatikan layar komputer bahkan seorang programmer yg asyik ngoding sampai “gak sengaja” overtime (lembur). Membuat suami jd lalai dengan kewajibannya.

Sudahkah jadi suami yg terbaik utk istri?
Nasehat yg datang dari orang tua dan dari dosen ketika di plurk yg slalu sy tanamkan dr sejak menikah ketika sy menulis status kesibukan saya di jejaring : “ingat, ada yang harus diperhatiin, sekarang bukan hidup sendiri lagi. Sesibuk apapun, keluarga nomor satu”

Suami ya jangan gila kerja, rezeki sudah diatur, waktu kerja yg normal jg sudah diatur Undang-undang.
Lakuinlah hal-hal ringan yg bisa membuat nyaman istri.
Ntah pulang langsung segera mandi, peluk cium istri dlm keadaan wangi. Menyuapi istri dikala makan bersama, berangkat ke masjid dengan boncengan sambil ngobrol ngalor-ngidul, nemenin istri belanja di pasar, dll. Bahkan kalau istri lg hamil yg tidak bisa aktifitas rumah tangga yang berat, suami siap mengemban pekerjaan rumah tangga sambil dengan cermat mensupport, memperhatikan pola makan dan istirahat istri.
Dan bukan hanya itu saja, keharmonisan memang slalu harus dijaga. Canda-tawa, tingkah lucu suami yg bisa membuat istri tersenyum tertawa..pulang kerja bukan membawa masalah kantor tapi membawa hal-hal lucu, romantisme…dan obrolan-obrolan ringan seputar kegiatan td pagi, obrolan soal tetangga, soal keadaan orang tua, dll. yg dapat membinasakan rasa kaku membisu yg bisa membuat problematika renggangnya hubungan rumah tangga.

Ada satu curhatan yg pernah terdengar…biasanya suami yg kerja di bidang TI, jam kerjanya tinggi per hari, istri bersyukur orang macem gini biasanya gk akan mungkin sempat selingkuh apalagi lirik cewek lain..(sempetnya selingkuh sm komputer), biasanya sih romantisnya garing hahaha…( tapi ya suami jangan egois)¬†

Kecocokan bisa dibentuk dan tersusun rapi dengan slalu terbuka berbagi cerita antara suami istri 

PS : kata2 ini sy dpt wkt denger ceramah di radio rodja, pengalaman pribadi, perkataan ortu dan dosen yg balas plurk saya.

Masalah source code, pantaskah diberikan ke klien?

Hari ini saya membaca artikel sangat bagus, mengingatkan kembali sedikit masalah yang pernah saya alami dulu di waktu menjalankan proyek TI dan pertanyaan seorang mahasiswa S1 yang sedang belajar “bermain” proyek TI.

Pertanyaan seorang mahasiswa tersebut kira-kira begini :

kalo misalnya klien ingin mengembangkan softwarenya lg, dia harus menghubungi saya dan membantu dia? Atau saya memperbolehkan klien untuk mengubah source codenya dengan izin dari saya?

Dari beberapa case proyek TI, source code tidak ada apa-apanya, jika dijual kembalipun, istilahnya cost depreciation (penyusutan harga). Yang mampu membuatnya “valuable” tentu proses bisnisnya dan layanan yang ditawarkan bagaimana mampu menyelesaikan masalah si client. Faktor supply and demand juga jadi salah satu faktor utama tingginya harga software.¬†

Ada beberapa vendor yang memang tidak memberikan source-code-nya, ada juga yang sistem sewa, dan ada juga yang dalam bentuk paket layanan software (include source-code)
Memberikan source-code tentu menguntungkan client dari segi pendapatan untuk masa depan.
Bisa jadi source-code tersebut di-“re-engineering“/re-use untuk dikembangkan lebih lanjut ke depannya, dan bisa jadi pengembangnya bukan pihak kita lagi (bisa SDM internal perusahaan, ataupun kita jual putus, dilanjut vendor software lain)
Di sini tentu ada nilai “investasi“, nah nilai ini yang bisa dihargai mahal

Kemudian ada pertanyaan lagi yang menghampiri….

kalau client nya bisa added value di code2 kita trus dijual lagi gimana, om ?  Kira-kira apa motivasi atau latar belakang penjual ikut menyertakan source-code software? begitu pula latar belakang pembeli.

Sudah tentu kita (sbg. vendor) merasa dirugikan jika memberikan source code, apalagi kalau client-nya bisa added value di source-code yang kita berikan, dan kemudian dijual kembali dengan harga tinggi (case nyatanya ada  )

Ntah klien ataupun vendor TI tentu punya motivasi.
Sebelumnya kita mesti pahami source-code bukan segalanya bagi client.

Apa motivasi client kita menggunakan jasa vendor untuk membuat software yang mereka butuhkan? tentunya ada alasan “meningkatkan kinerja perusahaan”, jika tidak, tentu mereka re-engineering source-code atau nambahin fitur2 dari software yang ada. Dan dari situ ada faktor lain juga, seperti ini kebutuhan urgent apa tidak, sistemik atau tidak, urusan maintenancenya, dan tentunya inginkan software yang berumur panjang.

Nah, dari sini keliatan kalau software tersebut ada umurnya (termasuk source-code-nya). Kita tentu sudah memperkirakan purna jual software-nya, sampai dengan post-development dan close-project.

Kebanyakan vendor-vendor TI perbankan, menerapkan sistem “pulsa”, “ok, saya berikan source-code ini kepada anda, tapi anda mesti menggunakan layanan kami sampai maintenance (termasuk update minor, re-design, dan bahkan upgrading)

Mereka tawarkan pulsa 100.000 man-days misalnya dari masa maintenance, kemudian ketika ada perubahan yang diinginkan client, itu kena “charge“, misal re-design homepage dihargai 8000/man-days, tentu 100.000 itu berkurang jadi 92.000 man-days, dan sistem pulsa itu ada masa tenggang sampai 1 tahun, di akhir tahun, vendor menawarkan lagi, mau diteruskan lagi (maka harus mengisi pulsa lagi), atau diputus (project termination)

Kebanyakan klien besar tidak mau repot (secara psikologi), dia akan terus menggunakan sampai jangka waktu lama atau sampai software itu tidak menghasilkan solusi lagi. Apalagi sudah ada “ikatan” yang kuat antara si pihak SDM vendor dengan client (misal karyawan TI internal bank sudah akrab dan mampu berkolaborasi dengan SDM vendor), tentu kerjasamanya bisa sangat panjang dan jasa si vendor akan terus dipakai (karena sudah ada nilai kepercayaan yang tinggi). Dan itu outsourcing, ada yang full-outsource ke vendor, ada yang selective outsource, dan ada yang in-source. (perbankan kebanyakan pakai yg selective, jadi yg internal perusahaan tetap dirahasiakan dari pihak vendor TI)

Nah, kembali ke masalah source-code, bagaimana jika source-code tersebut dijual lagi oleh client, apalagi sampe ditambahin macem-macem dan dihargai lebih tinggi lagi?
ya itu tadi, nilai investasinya (invest order) yang kita tawarkan ke client mesti ditinggikan lagi (tapi lihat juga daya beli client), maka dari itu ada proses negosiasi (ini penting sekali).

Seperti halnya di artikel tersebut, jika kita mampu membuat software tersebut kemudian dipake client untuk ditingkatkan kemampuannya kemudian dijual lagi…ya kita selaku vendor mesti lebih kreatif lagi.

Jika tidak rela, silahkan pasang lisensi di software tersebut.