Menantang diri sendiri

Sebenarnya hidup menjalani banyak hal ada suka dan dukanya kan? Tentunya…!

Dikala seseorang menjadi seorang suami, seorang karyawan, seorang freelancer, dan atau juga seorang mahasiswa. Masing-masing mempunyai jatah waktu yang harus dijalani. Dan ketika harus menjalani semuanya sekaligus bagaimana?

Mungkin pernah diri pribadi mendapatkan “perselisihan hati”, ada kalanya iri melihat orang lain yang waktunya bisa maksimal di satu dan dua hal. Ada kalanya iri melihat teman-teman yang sudah lulus sekolah dengan waktu yang cepat dan topik yang mudah. Adakalanya iri dengan orang lain yang mencapai kesuksesan sampai go international. Ada kalanya saat-saat membagi waktu dengan keluarga menjadi terganggu karena pikiran berada pada kewajiban-kewajiban yang lain.

Nah yang seperti itu terkadang membuat diri pribadi menjadi jenuhpatah semangat dan bahkan berbalik arah meninggalkan apa yang sudah dikerjakan, dan sayangnya sudah separoh jalan, kemudian ditinggalkan.

Ketika yang seperti itu datang adakalanya butuh yang namanya refreshing, ketika sudah dilakukan. Cobalah shalat, istighfar dan merenung setelahnya…

Tidakah berpikir bahwa apa yang mereka raih itu sudah jalannya? mereka meraihnya sesuai dengan usahanya. Jadi, tidak usah risaukan orang lain. Lakukanlah apa yang bisa dilakukan sekarang. Kerjakan apa yang jadi kewajiban dan dibarengi niat ibadah. Apa yang sudah ada saat ini, langkah yang telah dilalui sampai saat ini.. sudah ketentuan dari-Nya, karena semua terjadi atas izin-Nya. Jadi buat apa risau?

Ketika mencoba seketat mungkin mengatur waktu, merasa waktu begitu sempit dan singkat, tetaplah teruslah berjuang…fokus pada perkara yang dijalani di satu waktu tersebut, dan menikmati prosesnya …dan sungguh akan terasa bernilai.

Pernah dapat motivasi bagus dari seseorang :

Untuk mencapai kemapanan, harus break the limit, lakukan usaha yang mendorong pribadi ini dr batas sekarang ini.

Ya, menantang diri sendiri. Pribadi yang berusaha menembus batas dan naik ke tingkat berikutnya. Di mana tidak akan mengambil hal yang biasa dihadapi/monoton, tidak mengambil langkah yang tidak memberikan pelajaran berharga untuk diri, tetapi melakukan hal-hal yang memiliki dinamika perubahan ke arah lebih baik..walaupun jalan yang dilalui sempit dengan waktu yang terbatas.

Satu hal lagi dari Albert Einstein :

“Kamu harus menguasai aturan dari permainan, dan kemudian kamu bisa bermain lebih baik daripada orang lain.” — Albert Einstein

Dengan begitu, diri pribadi tidak akan bergantung pada orang lain, menjadi follower bagi orang lain. Biarlah jalan yang kita lalui itu terkadang membuat kita jatuh, gagal, sakit-susah…namun, dari situ kita jadi belajar, dan apa yang dirasakan akan menjadi terbiasa menghadapi kerasnya hidup. Biarlah orang lain mendapatkan apa yang ia dapatkan sekarang. Itu jalannya. Tapi apa yang kita dapat sekarang, menjadi bekal buat break the limit diri kita untuk mencapai tujuan yang lebih besar lagi.

Seperti kata Imam Syafi’i :

“Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan” — Imam Syafi’i

Melakukan 2 atau 3 usaha ya tidak mengapa, asalkan usaha tersebut akan mengarah pada usaha utama. Dan tentunya menjadi terintegrasi dan fokus. Mengapa demikian? tidak kah kita berpikir bahwa sesuatu yang besar itu diawali dari sesuatu yang kecil?

“A journey of a thousand miles begins with a single step”. — Lao Tzu

Dan satu hal lagi, jadilah pribadi yang positif, jarang berpikir negatif maupun pesimis. Kesempatan itu ada bagi mereka yang tidak takut bermimpi.

Pentingkah melanjutkan kuliah di TI?

Bagi temen-temen yang dari SMA sudah kuat di dunia komputer, dan tertarik untuk menggali lebih dalam ilmu di dunia komputer, kemudian bertemu di kondisi “resah” apakah memang penting kuliah di bidang teknologi informasi atau cukup belajar otodidak saja terus ambil kuliah jurusan lain? khawatir nanti kuliah TI malah sia-sia saja, mending saya ambil kursus daripada buang duit untuk kuliah TI.

pemikiran seperti itu wajar terjadi, mengingat, belajar komputer juga sekarang cukup mudah, ditambah pola pikir anak SMA belum begitu matang.

Hanya dengan bermodal buku bacaan, dibeli dari toko buku, kemudian dibaca dan dipraktekan di depan komputer. Dalam periode waktu kurang dari 6 bulan sudah bisa mahir menguasai satu ilmu TI, ntah hacking, ntah programming, ntah jaringan, ntah sistem operasi. Dan bahkan dari situ mereka bisa menghasilkan uang dan bekerja di perusahaan-perusahaan besar.

Ada diskusi menarik yg sy dapat di perkuliahan S2 antara dosen dan mahasiswa mungkin bisa memberi gambaran mengapa kuliah TI itu penting
(* diskusi ini saya tidak ingat 100% isi percakapannya, namun saya masih bisa tangkap apa yang didiskusikan. Diskusi ini juga didapat dari 2 peristiwa. Init dosen : TBA dan EN. Mohon maaf bila tidak ingat sepenuhnya 😀 memory terbatas hehe )

dosen : *sambil nunjuk* masnya ambil S2 alasannya apa?”
mhs1 : “buat belajar TI lebih dalam, pak!”
dosen : “kalau boleh tau, ilmu apa yang anda dapat lebih dalam di S2?”
mhs1 : “sampai saat ini saya belajar lebih dalam dari berbagai studi kasus yang diberikan dosen, pak”
dosen : “apa yang bisa anda dapatkan dari situ?”
mhs1 : *terdiam sejenak* “penyelesaian masalah dan mencari solusi efektif dan efisien, pak”
dosen : “bukan itu, atau….” *sambil nunjuk yg lain* “…ya coba masnya yg dipojok itu, mengapa alasan ambil S2?”
mhs2 : “sy setelah lulus S1, jd programmer, pak, ingin mendalami lebih dalam soal programming dan software development, pak”
dosen : “jadi, anda ingin mendalami dunia software developmentnya ya mas? cukup bagus goal-nya. Tapi apakah anda bisa menjamin bahasa pemrograman yang anda kuasai itu masih ada 10 tahun yang akan datang? tidak bisa kan?”

kemudian…. dosenpun bercerita yang isinya kira-kira begini :

“saya akan bercerita soal kejadian saya menanyakan hal ini ke mahasiswa saya di akhir mereka kuliah, di awal saya bertanya ini juga, begitu mereka selesai bimbingan thesis dengan saya, saya tanyakan lagi.
saya bertanya ke mahasiswa : “apa yang sudah anda dapatkan dari S2 ini, mas?”
mahasiswa : “banyak sekali, pak. Saya bisa lebih mendalami masalah TI dalam lingkup yang lebih pasti dan terarah. Karena dunia TI begitu luas, jika kita mampu memosisikan diri kita di dunia kerja dengan pasti, tentunya karir kita akan lebih baik. Satu hal yang saya dapat dari pelajaran yang bapak beri..bahwa memang benar, pak. Di S2 ini, pola pikir saya lebih kuat, lebih terorganisir sebagai seorang profesional TI

Yang membedakan kita, S1, S2, D3, STM di dunia TI.. adalah “pola pikir” atau mindset.

Saya quote salah satu note dari seorang dosen (LEN) :
“kalau anda seorang programmer yang terbiasa bekerja pada level implementasi dan suatu saat harus belajar tentang matematika diskret, bersiaplah untuk meninggalkan mindset operasional untuk berpindah ke mindset dengan tingkat abstraksi yang lebih tinggi. Memikirkan topik-topik semacam logika, teori himpunan, dsb. pada level programming jelas tidak akan efektif.”

Dan itu jadi salah satu alasan, mengapa di S1 kita tidak belajar programming melulu, malah sampai ada teman-teman yang bertanya : “saya bingung kita belajar S1 ini hasilnya dapet apa? saya juga programming gak jago, dunia kerja ntar bingung mau jadi apa…lowongan banyak yang programmer dan staff TI, tapi tetep butuh skill programming dan RPL”

Dunia TI begitu luas, tidak hanya programming, tidak hanya software development, jaringan komputer, dan lain-lain. Kalau kita melihat lebih luas, di mana teknologi yang berkembang saat ini, seperti di smartphone, di traffic light yang bisa merekam plat nomor kendaraan yang melanggar lalu lintas, kemudian teknologi yang sekarang sudah diterapkan di restoran-restoran dan surat kabar dengan QRCode, mengambil keputusan di dunia bisnis, dan lain-lain. Itu juga hasil dari dunia TI. Ada Computer Vision, Soft-Computing, Data Mining, Pervasive-computing, dan lain-lain.

Dan dari perkuliahan itulah mereka dapatkan ilmu di bidang TI secara sistemik dan utuh. Kurikulum yang didapat juga jelas, dan diakhir semester kita diarahkan di mana kita harus memilih lagi, bidang/cluster/minat studi apa yang kita tekuni dan sukai dari dunia TI tersebut.
Dari situ juga mahasiswa berkembang, belajar dari umum ke spesifik. Namun hal tersebut, tidak hanya di dapat dari dalam lingkungan kuliah saja, tetapi dari luar kuliah juga. Di mana masalah di luar lingkungan kuliah tentu lebih beragam. Dan tentunya, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemandirian dalam menuntut ilmu.

Mari kita lihat kasus nyata baru-baru ini, di mana seorang (yang mengaku) hacker yang berakun anon_indonesia, berdebat panjang lebar dengan para twitter lain, dia mengaku kalau level tertinggi dari hacking adalah deface. Konon katanya seorang bolang 😀
Sudah bisa menangkap apa yang membedakan dengan kita yang sudah kuliah TI? 😀
Ya, yang dia tau ya level hacking cuma deface website saja, yang bisa dengan mudah mengandalkan google, mencari file dengan nama dan atau extensi tertentu, misal aspx, php, dll. Kemudian ia coba masuki dengan beberapa cara, sehingga bisa meng-upload file-file lain dari local komputernya, kemudian file index.html/index.php, dll direplace seakan-akan dibajak?!:P 😀
Padahal jelas yang seperti itu bagi anak jarkom, tentu dianggap mainan anak sekolahan. Dan tentunya tindakan itu bukan main-main, karena memang merupakan salah satu hal kriminal.
Ketika ditanyain istilah-istilah jaringan, ah, jangankan jaringan, istilah kecil seperti back-end, sysadmin, dan sejenisnya, orang seperti itu belum tentu mengetahuinya.
Lantas dari mana bisa mengetahui seperti itu? 😀 tidak dari buku, tidak juga dari belajar otodidak, tapi dari perkuliahan, di mana…seperti yang saya tulis di atas tadi : “Di perkuliahan, mahasiswa dibiasakan untuk berpikir secara sistemik dan utuh tentang TI”

Ada contoh lain :
Seorang yang tidak kuliah TI, dia mahir programming Visual Basic 6 dengan otodidak, kemudian VB6 tidak laku lagi, programming baru datang, .NET. Dia bisa mengikuti perkembangan hal tersebut dengan belajar otodidak lagi, tapi begitu .NET berakhir, tentu ia mau tidak mau dituntut untuk belajar yang baru lagi, namun hal tersebut akan berakhir di situ-situ saja. Dan begitu mendapatkan persoalan yang baru, ia akan kebingungan.

Ada seorang STM yang mahir TI, dia sudah menduduki jabatan yang bagus di salah satu perusahaan telekomunikasi asing, kemudian dihadapkan dengan massive problem, dari hal infrastruktur TI, jaringan, sistem yang sudah tertanam dan sistem yang akan dikembangkan. Menuntut dia harus belajar lebih giat lagi. Namun, dia menjadi kesulitan : “aku harus mulai belajar dari mana dulu? nanti aku mesti ngapain?” karena tidak tau arah dan belajarnyapun tidak berurut. Membuatnya menjadi tersesat.
Alhasil, posisi dia tidak naik ke level berikutnya, dan masih di posisi sebelumnya. Dan pada akhirnya, membuat keputusannya berubah : “sepertinya saya harus mengambil kuliah S1 TI, biar lebih paham lagi”

Tiap jenjang strata, mindset yang terbentukpun berbeda levelnya. Dan perlu diketahui, di S2 TI, ilmu-ilmu S1 TI masih bertemu lagi. Hanya saja, kerangka persoalan di S2 itu lebih ke level abstrak yang biasa dihadapi oleh mereka yang bekerja pada posisi manajerial, bukan hal teknis atau operasional lagi. Mahasiswa dituntut mampu menyelesaikan persoalan dengan solusi yang efektif (tepat sasaran) dan efisien (tepat guna).

Dan dari beberapa hal di atas sudah bisa disimpulkan bahwa kuliah TI bukanlah hal sia-sia.
Dengan kuliah TI :

  1. kita mampu berperan aktif sebagai profesional TI yang memiliki pola pikir terarah dan sistematik.
  2. atmosfer lingkungan kampus sangat mendukung bagi kita untuk belajar lebih giat lagi tentang TI, di situ juga ada kelompok/forum diskus/belajar bersama, dan juga organisasi kemahasiswaaan. yang tentu menambah tantangan dan pengalaman. Selain itu, dengan kelompok tersebut mahasiswa dituntut untuk bisa untuk bisa bekerjasama.
  3. kita dibimbing oleh dosen yang tentu ahli dalam bidangnya.
  4. kesempatan untuk dipandang oleh orang lain di dunia kerja juga akan tinggi. Bahkan oleh lingkungan sekitar, orang yang berpendidikan sarjana akan dianggap ahli dan pintar oleh lingkungan. Tentu membanggakan orangtuanya.
  5. membentuk pribadi yang memiliki passion, percaya diri, kesabaran dan soft-skill yang tinggi di bidang TI, dengan visi dan misi yang jelas untuk masa depannya.
  6. mungkin ada yang mau menambahkan lagi? 😀

Tips Seputar Menulis Laporan Penelitian atau Tugas Akhir

Tugas akhir menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi mahasiswa yang ingin melengkapi langkahnya menuju Sarjana. Berikut ada beberapa tips sederhana seputar menulis laporan penelitian yang setidaknya bisa membantu teman-teman dalam menyelesaikan tugas akhir. Dan untuk menghindari banyak revisi dalam hal tulisan.

Pahami dahulu setiap bagian dari tugas akhir, misal pada BAB I Pendahuluan yang umumnya berisi :

  • latarbelakang masalah,
  • rumusan masalah,
  • batasan masalah,
  • keaslian penelitian,
  • tujuan penelitian,
  • manfaat penelitian,
  • sistematika penulisan.

Biasanya mahasiswa sering kali menuliskan latarbelakang yang tidak berhubungan dengan topik Tugas Akhir yang ia akan jalankan. Latarbelakang haruslah menjadi bagian pengantar yang mendasari mengapa Tugas Akhir tersebut harus dilakukan.

Kemudian pada bagian rumusan masalah semestinya harus mengungkapkan sesuatu yang penting yang menuntun pada penyelesaian masalah. Bagian ini kadang-kadang berupa suatu pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian. Bentuk kalimat Rumusan masalah adalah kalimat deklaratif (problem statement), bukan kalimat tanya (research question). Sedangkan pertanyaan harus ditempatkan di bagian pertanyaan Tugas Akhir.

Untuk bagian batasan masalah, harus diperhatikan dengan cermat oleh si mahasiswa, karena bagian ini membantu mahasiswa agar penelitian atau Tugas Akhir yang ia lakukan, lebih mudah dalam penarikan kesimpulan serta menjaga agar mencerminkan permasalahan yang dihadapi. (Dengan kata lain, agar permasalahan dan cakupan masalah yang dihadapi di dalam Tugas Akhir tidak melebar atau keluar jalur)

Untuk bagian tujuan dan manfaat, mahasiswa sering kali terbalik mengungkapkan tujuan dan manfaat. Tujuan tidak sama dengan manfaat. Tujuan itu mengungkapkan target apa yang hendak dicapai oleh mahasiswa dalam penelitian atau Tugas Akhirnya tersebut. Tujuan penelitian juga tidak bersifat pribadi, jadi harus dihindari tujuan dari sisi mahasiswa, tetapi tujuan mengapa penelitian itu harus dilakukan.
Sedangkan manfaat, menekankan pada manfaat apa yang didapat diperoleh dari hasil penelitian tersebut (lebih kepada perkiraan apabila tujuan penelitian tercapai), dan lagi-lagi tidak secara pribadi, namun umum, misal manfaat untuk user yang menggunakan software yang sudah dikembangkan, dan sebagainya.

Dan terakhir, sistematika tulisan ini mengungkapan setiap urutan bab yang terdapat dalam Tugas Akhir yang disertakan penjelasan singkat dari masing-masing bab tersebut.

Ada hal lain juga yang harus diperhatikan mahasiswa Tugas Akhir, yaitu :

  • penggunaan kata-kata dalam bahasa indonesia yang baku, penulisan kalimat sesuai standar kalimat : SPOK (Subjek Predikat Objek Keterangan), dan apabila terdapat istilah asing, harus dicetak miring (italic);
  • hindari penggunaan kata yang tidak perlu, atau bila perlu hapus saja agar menjadi kalimat yang sederhana. Biasanya sering dijumpai, mahasiswa menuliskan kalimatnya memiliki kata yang berulang seperti kata : agar, supaya, namun, tetapi, dll. Yang tidak pas apabila dibaca;
  • pahami perbedaan imbuhan di- dan kata depan di. Sering kali dijumpai mahasiswa tidak mengerti apakah di yang dipakai adalah imbuhan atau kata depan yang menerangkan tempat. kata “diatas” adalah keliru, karena kata tersebut menunjukan arah/tempat, berarti bukan memakai imbuhan di-, tetapi kata depan di. Sehingga, kalimat yang benar adalah “di atas”. Kata “di mulai” juga keliru, yang benar adalah dimulai, karena mulai bukan menunjukan tempat, melainkan kata kerja. Dan masih banyak contoh lain, jadi harap diperhatikan ya 🙂
  • hal lain adalah menuliskan kata yang kurang pas. Seperti : “data-data yang dipakai”, padahal data adalah kata jamak.  Jadi yang benar adalah : “data yang dipakai”
  • apabila ada dua kata : tanggung jawab bertemu awalan dan akhiran, misal : di- dan -kan. Yang benar adalah dua kalimat tersebut melebur menjadi : dipertanggungjawabkan, bukan dipertanggung jawabkan. Dan masih banyak contoh lain 😀
  • apabila ada dua kata dalam kata bahasa asing yang ternyata terdiri dari satu kata atau sebaliknya, misal : database. Yang benar adalah : basisdata, bukan basis data. Ada pula contoh lain, remote : yang benar adalah : jarak-jauh, bukan jarak jauh.
  • Biasakan ketika sudah menyusun satu bab dalam laporan Tugas Akhir, dicetak, kemudian jangan langsung dibaca. 😀 Coba jalan-jalan santai sejenak, refreshing atau melakukan aktivitas lain, kemudian ketika pikiran santai. Coba baca kembali bab laporan Tugas Akhir yang sudah kamu cetak, biasanya akan menjadikan si mahasiswa menyadari bahwa kalimat atau paragraf yang ia susun itu keliru, nah dari situ, tandai setiap kekeliruan dalam penulisan, lalu lakukan corat-coret untuk me-revisi laporan Tugas Akhirmu. Jika sudah, coba dibaca lagi, apakah sudah pas susunan kata dan kalimatnya di dalam paragraf, apakah satu paragraf dengan paragraf yang lain berhubungan atau tidak. Dan baru deh, menghadap dosenmu dengan yakin dan percaya diri. 🙂

Semoga tips-tips ini dapat membantu.

Sumber dari semua ini adalah dari perkuliahan Metodologi Penelitian oleh Pak Abdul Kadir dan Pak Insap Santosa, dosen-dosen JTETI UGM. Tidak sepenuhnya ditulis, namun disampaikan seadanya. Apabila ada kekeliruan di dalam penulisan artikel ini, itu murni kekeliruan penulis. Penulis mencoba menyampaikan dengan bahasa yang santai agar mudah dibaca, insyaAllah. 🙂

Terima kasih.