Menentukan harga jasa untuk programmer dan desainer

Setelah pernah dibahas mengenai menentukan harga project TI khususnya mobile apps. yang ingin kita bahas adalah bagaimana menentukan harga jasa untuk programmer atau desainer mobile apps (mungkin bisa dipakai untuk developer software secara global)

Begini, akhir-akhir ini saya sering ditanya mahasiswa : “mas, bagaimana cara menentukan harga desain saya? saya ragu mau pasang harga”

Kalau menghendaki harga yang pantas dan ideal, itu subjektif, silahkan tentukan berdasarkan usaha yang akan dikeluarkan dan alokasi waktunya. Dan pasang harganya. Yang penting berani dan sudah mengukur sendiri harga yang pantas. Jangan sampai, kamu pasang harga 3 juta rupiah, namun, ternyata uang yang dikeluarkan untuk usaha begadang, internet dan ngemil serta ngopi sambil bekerja itu ngepas 3jt, atau mepet 3juta, alhasil tekor dan gak ada untungnya.

Namun, beberapa programmer/desainer software junior, masih bingung, harga jasa saya berapa?

Mari kita perhatikan 5 hal yang mempengaruhi harga jasa kamu di dunia software engineering sebagai berikut :

  1. Scope pekerjaan.
    Scope adalah segala hal yang ada di dalam produk software/produk dari project TI dan segala proses di dalamnya.
    Mendefinisikan apa yang diminta, apa yang mesti dikerjakan, dibagi step-stepnya (rencana->rancangan) sampe menjadi rangkaian berurut apa saja yang dikerjakan. Dengan demikian, dapat diestimasi jadwal dan waktu pengerjaannya.
    Contoh, ketika saya dari tidur pengen berangkat ke sekolah :

    1. Saya bangun tidur (15 menit), kemudian
    2. saya mandi (15 menit), kemudian
    3. saya sarapan (30 menit), kemudian
    4. saya berangkat ke sekolah (20 menit).
  2. Proses pengerjaan,
    Sulit kah? mudah kah? simple kah? kompleks kah?
    Terus bagaimana proses yang mesti saya ikuti? banyak kah? tentu mesti memperhatikan, jika ternyata proses untuk mengerjakan codingannya ataupun desainnya, bisa memakan waktu berjam-jam.
    Mulai dari :

    1. memahami klien kemudian menganalisis kehendak si klien;
    2. brainstorming, berguna untuk mendefinisikan semua kebutuhan biar bisa dikerjakan menjadi karya kita;
    3. inisialisasi, mulai dari kamu corat-coret desain/coba-coba code init/awal sampe jadi prototyping;
    4. prototyping, membuat karyamu sampe dengan prototype;
    5. development/design, mulai deh ngembangin sampe memroses semua kebutuhan menjadi produk
    6. revisi, mesti ketemu bagian ini, kadang ada saja bagian yang tidak sesuai kehendak klien, nah ini mesti diperhitungkan;
    7. final version, ketika sudah direvisi, dipoles, dibungkus, terus diserahin deh ke klien.

    panjang kan prosesnya? 😀 Makanya perlu diperhatiin betul, jangan sampe harga yang kamu pasang gak sesuai.
    Nah, ada beberapa hal itu bisa dikerjakan bebarengan, serentak (jika kamu ngerjainnya berdua atau lebih sama teman), tentu ada beberapa proses bisa dihemat waktunya. Coba lihat ilustrasi berikut :

    Critical Chain Project Schedule
    Critical Chain Project Schedule

    Kalo dilihat dari gambar di atas, tentu kita bisa memperkirakan, task apa saja yang bisa dikerjakan dalam 1 waktu bersamaan, dan mana yang tidak bisa. Jika tidak bisa, terus taruh di mana prosesnya..apa dikerjakan duluan, apa dikerjakan belakangan? tentu kalau ingin mengerjakan sesuatu, kerjakan dari yang paling mendasar.

  3. Standar harga per jam kerja (hourly rate)
    Kalo bagian ini, gak bisa sembarangan ditentuin. Kamu mesti sadari gaji/rate bayaran kamu berapa yang pernah kamu terima? terus itu dikerjakan berapa lama?
    Misal :
    Kamu pernah kerja 2 minggu (10 hari kerja, minus sabtu-minggu) dibayar Rp 3.000.000
    Sehari kerja dari jam 09:00 – 12:00, dilanjut ishoma, terus jam 13:00 – 16:00, berarti kalo ditotal : 6 jam kerja.
    Dan jika kita konversi menjadi perjam, rumusnya: Harga / total jam kerja / total hari
    Rp. 3.000.000 / 6 / 10 = Rp 50.000
    Berarti kamu dibayar Rp50.000,- per jam. Rate ini selalu naik seiring pengalaman, tentunya bila dinamika perubahannya naik, dalam artian, kamu sudah mengalami pengalaman yang banyak, yang dulunya sulit, jadi gampang, skill bertambah, dan beberapa project kamu jadi terbiasa garap (pengalaman). Semakin tinggi pengalaman, rate tentu semakin tinggi juga.
    Apalagi dibarengi skill yang makin tinggi pula (semakin banyak pengalaman, mestinya semakin beragam pula soft skill yang dikuasai). Bila kamu sudah 10 kali project dalam 2 tahun dengan hourly rate Rp 50.000,-… pas tahun ke-3, ya naikin lagi hourly rate jadi Rp 75.000,- atau Rp 100.000,-.Apalagi dalam 2 tahun itu kamu sudah belajar banyak, ditambah sekolah lagi, bisa berkali-kali lipat.Dan lagi-lagi, perhatiin juga standar gaji di dunia saat ini. (coba googling : salary guide [tahun], contoh : salary guide 2014, saya gak akan jelasin ini, cari di google dan baca sendiri sesuai posisi kamu di pekerjaan, bila orang kerja dibayar per bulan (20 hari kerja) sekian rupiah, tentu bisa dihitung per jamnya). Tentunya jika kamu di tahun kedua pernah mendapatkan proyek membuat sistem informasi perkantoran dengan harga Rp 60.000.000,-, kemudian di tahun ke empat jangan pasang 60jt lagi, tapi dinaikin. Berapa besar kenaikannya? kalau masih kesulitan menentukan, kembali ke pembahasan kita di atas yang baru kita bahas dan perhatikan di salary guide untuk profesi kita di tahun ke-4 besar gaji/rate-nya berapa.

    Berikut ini contoh hourly rate di beberapa negara

    Screen Shot 2017-03-31 at 2.21.26 PM

    Mahal ya? iya, di sana dihargai lebih. Kalo rate di atas diterapkan di indonesia, tentu gak pas 😀 makanya tadi saya sampaikan cek salary guide untuk Indonesia. Contohnya di sini: Salary Guide 2016. Cek profesimu sebagai developer apa. terus cek berapa tahun pengalaman kerjanya. Jika sudah dapat, ya tinggal konversi ke per jam.

  4. Investasi
    Seluruh hal yang berhubungan dengan proses yang dikerjakan di atas, dan biaya yang keluar karena hal tersebut. Seperti yang saya jelaskan di atas.

    1. Saya bangun tidur (15 menit) -> gratis
    2. saya mandi (15 menit) -> sabun : Rp 2000, sampoo Rp 1000, pasta gigi+sikat giginya : Rp 8000
    3. saya sarapan (30 menit) -> sarapan ketoprak : Rp 6000, jalan kaki ke TKP
    4. saya berangkat ke sekolah (20 menit) -> berangkat naik motor, bensin Rp 6500

    Terus, kalo ditotalin : makan waktu 1 jam 20 menit (1,33 jam), dan biaya : Rp 82.000 (2000+1000+….+6500)

    Rumusnya : hourly rate x total proses kerja
    Jadi, ketika hourly rate kamu Rp 50000, berarti :

    Rp 50000 x 1,33 jam + Rp 82.000 = Rp 148666,66 (mari kita bulatkan ke atas :p Rp 149000)

    Ya nilai dari project ini : Rp 149.000,-

    Contoh di atas mungkin sedikit membingungkan, pada intinya saja ya. Jadi kalau kamu dapat proyek dalam waktu 1 bulan, ya dikonversi saja dalam satuan hari. 1 bulan = 20 hari kerja, 1 hari = 8 jam kerja. 20*8=160 jam.

    Misal hourly rate kamu adalah Rp 250.000,- dengan pengalaman sudah 3 tahun. Ya untuk proyek dengan waktu 1 bulan…tinggal dikalikan saja: Rp 250.000*160 jam= Rp 40.000.000

    Nilai 40 juta ini bukanlah nilai mutlak, jadi ada nilai resiko juga di dalam proyek, nah ini kita bahas di poin nomor 5 di bawah.

  5. Resiko
    Segala hal tentu ada resiko, nah jangan sampe resiko ini terjadi dan menimpa kamu. Resiko mungkin bisa dihindari, tapi jika terjadi, pikirkan dampaknya dan apa antisipasinya.
    Resiko besar yang biasanya terjadi itu : project diberhentikan di tengah jalan (bahaya dong, ntar ketabrak), requirements berubah (nah ini dia yang biasanya bikin jengkel, udah bikin capek-capek, gak dipake, mesti diganti)
    Resiko kecil : perubahan minor aplikasi/software, jadi menyita waktu juga walaupun perubahannya dikit-dikit.
    Resiko juga mesti diklasifikasikan berdasarkan :

    1. kesempatan terjadi
    2. potensi yang diakibatkan (parah apa nggak?)
    3. kesulitan mendeteksi resiko supaya bisa dihindari

    Contoh : bugs di aplikasi
    Kesempatan terjadi : menengah lah, gak sedikit juga, gak banyak juga kesempatannya.
    Potensi yang diakibatkan : tinggi, kadang 1 bugs, bisa bikin aplikasi gagal jalan sebagaimana mestinya
    Kesulitan mendeteksi : tinggi, kadang bugs itu sulit banget dicari >.<

    contoh lain : server kebanjiran
    Kesempatan terjadi : kecil, ini sih kesempatan langka banget sampe-sampe server kebanjiran, kecuali kamu taruh servernya di pinggir kali ciliwung.
    Potensi yang diakibatkan : tinggi, server tenggelam, nangislah kliennya. Kamu juga mesti ikutan nangis!
    Kesulitan mendeteksi : kecil, lah wong hujan deres, knapa gak disingkirin tuh server ke tempat yang tinggi.

    Nah, resiko-resiko seperti ini yang mesti diperhitungkan. Terutama ya bayaran kamu. Misal kalo kejadian macem-macem, bayaran kamu telat, bagaimana?. Atau kamunya yang telat ngumpul kerjaan bagaimana?

    Dari sisi developer, pas di kontrak kerja, jangan lupa cantumkan aturan-aturan untuk klien (biasanya klien bikin aturan-aturan juga di poin proposal proyek (misal: apabila kamu telat mengumpulkan progress, atau progress tidak sesuai apa yang diharapkan klien, biasanya klien punya hak mengurangi harga proyek), nah, di sini kamu juga perlu membuat aturan-aturan atau klausa yang memperjelas batasan kamu selaku developer, misal: masalah konfigurasi server ataupun backend bukan tanggungjawab kamu yang seorang developer mobile app, masalah akun PlayStore tanggungjawab klien dan harus menggunakan data dari klien, atau apabila ada permintaan tambahan di luar scope pekerjaan yang telah disepakati, maka klien harus di-charge bayaran baru. Itu harus ada klause kerjasama tambahan yang menyatakan poin-poin apa saja tambahannya dan berapa besar biayanya. Nah yang model ini, developer sering luput, lalai, klien menghendaki revisi ini itu, tambahan ini-itu, tapi nilai proyeksi investasinya tetap. Jatuhnya kita yang rugi. 🙂
    Berikut ini ada gambar ilustrasi bagaimana harga sebuah proyek apabila dideliver ke klien lebih awal, tepat waktu atau terlambat. Dan berapa harga yang diharapkan. Dari sini bisa kamu kenali kalau untuk deliver sebuah progress pekerjaan ada resiko pinalty dari klien. Dan itu seharusnya kamu sudah antisipasi.

    Decision Trees
    Decision Trees

Sekian dulu yang dapat saya sampaikan, kurang lebih mohon maaf dan mohon dikoreksi 🙂

Terima kasih.

Advertisements

Siap Hadapi Dunia Kerja!

Siapa yang bisa menjamin bila kita menguasai sebuah teknologi? atau bila saya coba kecilkan lagi lingkupnya untuk para developer, siapa yang bisa menjamin dengan teknologi yang sudah dipelajari 1-2 tahun dan dikuasai sekarang, akan bisa dipakai 5-10 tahun lagi?
Tidak ada yang bisa menjamin 😀

Bila ada yang berpandangan : “ngapain belajar bahasa pemrograman xyz, belum tentu juga dipakai, mending kamu perdalam masalah manajemen TInya atau non-operasional di dalam devisi TI di sebuah perusahaan, tentu lebih enak kan? gak perlu capek-capek ngoding, gak perlu belajar banyak sampe kerjapun mesti 1-2 hari gak tidur, ngumpulin penyakit

Ada yang ngomong seperti itu? ada! 😀 bahkan terdengar di telinga saya.

Namun bukan sesuatu yang menghambat, karena hidup ini berawal dari niat dan berlangsung pada proses dan berakhir pada hasil. Jadi tergantung bagaimana pribadi ini menanggapi dan menjalankannya.

Ok, dari pertanyaan tersebut, mesti dari para pembaca memiliki pandangan yang berbeda-beda. Dari yang pernah saya alami, ternyata apa yang dipelajari 3 tahun yang lalu tidak begitu terpakai di saat sekarang, justru yang berkembang saat ini adalah “learning by doing”, sambil bekerja ya..itulah yang dipelajari. Mengapa? salahkah kita belajar? jika tau nantinya tidak akan dipakai lama?

Untuk dilema seperti ini, banyak mahasiswa yang mengalami, bahkan mereka yang masih S1 (syukurnya saya sudah melewati masa itu sejak Februari 2009 lulus S1 yang sebelumnya sempat mengalami)

Fakta yang ada sekarang adalah memang teknologi berkembang sangat cepat, bahkan hari ini belum tentu sama dengan hari esok. Kamu menerapkan suatu teknologi dalam sebuah karyamu, belum tentu 1-2 tahun ke depan akan exist.

Perlu diketahui juga, teknologi itu hanyalah alat, yang bertujuan membantu aktivitas manusia.

Teknologi Informasi (TI) banyak minat-study di dalamnya : mulai dari Multimedia, Sistem Informasi, Jaringan Komputer, sampai Kecerdasan Buatan. Minat-study itulah yang menjadi inti dari apa yang mestinya jadi target mahasiswa. “Bidang apa ya yang harus saya perdalam?” ya, sesuai kemampuan dan minat masing-masing 🙂 Jangan ikut-ikutan!

Dan tiap bidang tersebut ada fragment-fragment lagi di dalamnya. Mulai dari hal teknis sampai hal non-teknis. Namun, kan tidak masalah, karena sebelum kita diperkenalkan minat-study tersebut, kita sudah diperkenalkan dan mempelajari pokok-pokok dari teknologi informasi itu sendiri, ya sebut saja mata-kuliah : algoritma dan pemrograman, struktur data, basis data, jaringan komputer, sistem informasi, sistem operasi, rekayasa perangkat lunak dan manajemen proyek.

Jika kita memahami semua hal tersebut, untuk melangkah ke minat-study sesuai keinginan tentu akan mudah. Bahkan dengan adanya teknologi yang baru dan terus berkembang, itu bukan masalah! Teknologi yang ada sekarang itu berkembang bukan dari hal baru loh, tapi dari apa yang ada sebelumnya. Atau perbaikan dari sebelumnya. Atau bisa jadi versi lain dari teknologi yang ada. Mesti ada akarnya. Dan itulah yang kita peroleh dari perkuliahan.

Jika ada yang berpendapat : “ngapain capek-capek kuliah TI, kalo ilmu-ilmunya dapat diperoleh dari buku yang banyak diperjualbelikan di toko buku”

Wah, apa yang ada di buku, itu cuma hal praktis saja 😀 kalo bisa dibilang, sekecil upilpun belum tentu dapet. Hal-hal praktis dan teknisnya saja yang bisa didapat. Tapi secara konsep dan non-teknis sedikit sekali poin-poin yang didapat. Ya, bisa dibilang cm fragment-fragment kecil dari TI itu sendiri.

Bisa kok dipake di dunia kerja, tapi ya susah berkembang, akan stuck di kemudian harinya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dari “learning by doing“, seperti berdagang kecil-kecilan misalnya, terus kita sudah paham, baru melebarkan lapak, atau dengan coba-coba seperti kebanyakan mahasiswa S1 yang ditawarin proyek oleh temannya : “udah, mas, coba aja, ntar bisa dipelajari sambil jalan kok, ntar kita bayar 800ribu. Kan lumayan, dapet uang buat jajan dan ilmu” (alibi :P)

Namun kalo kita begitu terus, yang ada kita ketinggalan 😀

Mereka yang kurang paham konsep, hanya melakukan hal operasional dengan belajar yg bersifat praktis dari tutorial (misal : tutorial buku “10 jam menguasai bahasa pemrograman xyz” atau hal lain serupa), itu kalo terus-terusan dipelihara, akan sulit untuk “melangkah maju yang jauh”. Ya, saya sebut “melangkah maju yang jauh”, ketika seseorang yang paham konsep dan teori, kemudian pandai menerapkannya itu bisa melangkah 10 m sekali langkah, akan berbeda dengan mereka yang sedikit atau belum sama sekali paham konsep dan teori, kemudian praktek sesuai apa yang dibuku/artikel yang cuma bisa melangkah 1 m sekali langkah.

Ketika berhubungan dengan mereka yang masih S1 tingkat akhir atau yang baru lulus, mereka belum “matang”, atau maaf, termasuk “prematur”. Ya, kalau dilihat dari pengalaman kerja selama kuliah, ok, mereka punya skill dan portfolio. Sudah bisa mahir di 1 bahasa pemrograman tertentu. Namun, ability-nya tidak dibarengi dengan pemahaman yang matang. Mereka sulit memecahkan masalah, bahkan untuk scope yang lebih besar, mereka tidak siap. Kemampuan pemecahan masalah mereka masih butuh sangat diarahkan, mengingat ketika mereka terjun dalam 1 tanggung jawab di dalam team di perusahaan, masih berantakan, dan susah bergerak bila tidak diarahkan. Bahkan, ada yang sudah diarahkan, stuck tidak bisa melakukan apa-apa. Siapa yang dirugikan? perusahaan. Siapa yang dipermalukan? diri sendiri dan almamater tentunya.

Kasus yang dihadapi dalam perusahaan beragam, kadang simple kadang kompleks. Dan untuk perusahaan vendor-vendor TI, biasanya yang dihadapi untuk client-client besar (apalagi ibukota) adalah kompleks dan mobilitas tinggi (tentunya tingkatan stress juga tinggi).

Jangan pernah berharap ketika kita sudah terjun, kita tidak bisa, kita diizinkan untuk belajar sambil melakukan! 😀 Jangan pernah, karena siap-siaplah posisimu digusur oleh orang lain. “Lah, kan biasanya di perusahaan ada training?” iya, memang, itu suatu ketika kita mengisi sebuah posisi baru dari posisi sebelumnya (promosi jabatan) yang memang dikehendaki.

Perusahaan itu punya target, dan salah satu mencapai targetnya adalah menekan biaya produksi dan juga menekan biaya resource. Mereka tentu mengharapkan tenaga kerja yang profesional dengan biaya yang murah 😀

Pernah saya rasakan “jadi korban” hal itu. Ketika dalam project di salah satu perusahaan asuransi kendaraan terbesar di indonesia, menjadi koordinator anak-anak outsourcer, ternyata malah meleset dari jadwal dan ternyata developernya juga orang yang mengetahui praktis saja tanpa tau konsep yang matang. Akibatnya, ketika saya terjun jadi koordinator, sering rapat non-teknis dan teknis, menghitung ini-itu, dan sambil membimbing mereka (jadilah supermen) untuk belajar Adobe Flash (projectnya didevelop dengan Flash dan db Oracle) Yang ada, semua terhambat oleh masalah developer yang belum siap. Ya, salahnya juga, kebijakan atasan yang “berani” menerjunkan mereka yang belum terbiasa dengan pekerjaan yang butuh keahlian mendalam. Menjadikan perusahaan kurang mempertimbangan “hal terburuk” ini.

Dan kasus-kasus ini sering terjadi di beberapa vendor TI (yang kebetulan ada saya di dalamnya sebagai outsourcer :P), apakah ini dampak buruk dari rate mereka (developer) yang dibayar rendah juga atau memang mereka tidak siap? 🙂

Selama menjabat menjadi business analyst dan sesekali mengkoordinir project, non-teknis di sini begitu diperhatikan, hal-hal teknis yang semestinya tidak ada hambatan, jadi terhambat oleh mereka yang belum siap terjun di dunia kerja. (apalagi sampe ada yang kabur dari perusahaan vendor.. hahaha.. ini yang patut disalahkan ya vendornya, karena kontrak kerja kurang mengikat dan kurang bisa menjaga harmonisasi dengan si pegawai)

Makanya, di dalam sebuah perusahaan biasanya ada masa probation, yaitu masa di mana si calon pegawai atau mereka yang fresh-graduate (0 pengalaman) diuji cobakan sesuai posisi yang akan ditempati dalam sebuah perusahaan, sebelum nantinya diangkat jadi pegawai tetap. Masa percobaan ini biasanya 3-6 bulan lamanya. Ada yang gajinya dibayar full pada masa probation ada juga yang hanya dibayar 50-75% (termasuk tragis :P) Masa probation ini, sekaligus masa orientasi si calon pegawai tetap+baru ini. Dan juga menjadi sarana transfer knowledge dari karyawan yang mau pindah ke calon pegawai dalam suatu jabatan tertentu.

Ada yang bilang : “ya, wajar, namanya juga fresh graduate, belum bisa apa-apa
Wah, kasar nampaknya, saya kurang setuju pendapat tersebut 🙂 menganggap fresh graduate seperti itu. Dan itulah, yang menjadikan rate penghasilan mereka yang fresh-graduate di bawah standar.

Ditambah mahasiswanya-pun belum punya komitmen dan target di dalam dunia kerja dan juga belum berani pasang harga sesuai kemampuan mereka.

Dan untuk kasus jadi supermen, tentunya temen-temen harus perhitungan. Jangan mau gratis! 😀
Ketika sudah jadi BA, tiba-tiba harus ikutan ngoding, ya jangan mau gratis, minta bayaran. Saya lebih suka menyebutnya “side-project” dari perusahaan. Jadi sambil menganalisa permasalah yang diberi client, dapet penghasilan tambahan jadi “programmer mendadak” dalam project tersebut. Bahkan harus menginap di kantor dari pagi sampe keesokan paginya 😀 Hitungannya side-project model begini, biasanya bukan gaji bulanan di perusahaan, tapi bayaran per hari 😀

Dan ketika mencoba kembali ke Jogja, mengambil jenjang S2 dan mendalami hal-hal yang “kurang matang” selama ini dipelajari di bangku kuliah S1, saya dihadapi dengan dilema seperti itu lagi. Dan ketika bertemu mereka, orang-orang baru. Mereka seperti apa yang saya tuliskan di atas. “Belum berani” dan “belum terarah”.

Kurikulum juga sudah benar kok, kalo saya diminta pendapat, apakah kurikulum di perkuliahan kurang tepat? 😀 wah, gak setuju pertanyaan itu, udah benar adanya. Tinggal mendalaminya saja yang kurang fokus. (ntah si mahasiswa ataupun si dosen 😛)

Ada quote menarik dari game JRPG : “As long as we remember focused on our goal, each of victorious will bring us one step closer.”

Fokuslah dengan apa yang akan kamu raih dengan minat-study yang sudah di kuasai. Dari hal non-praktis (dari lingkungan perkuliahan) dan hal praktis (dari pengalaman kecil-kecilan di dunia kerja). Jangan pernah berhenti belajar, cobalah kembangkan kemampuanmu dari segi teknis dan non-teknisnya.

Untuk masalah apa yang mesti dipelajari di masa kuliah, ya pelajarilah apa yang ada di perkuliahan, tanamkan minatmu pada bidang tertentu di TI tersebut, dan coba cari permasalahan, coba kenali lebih dalam setiap fragment dari permasalah tersebut, dan analisalah dengan baik, setelah itu fokuslah pada pemecahan masalah tersebut. Dengan metode tertentu dan alat ataupun teknologi tertentu, coba kelola outputnya apakah sudah sesuai dengan apa yang diharapkan?

Selagi sempat, ayo temen-temen yang masih kuliah, jangan jadi sumber daya yang prematur, yang sudah lulus, namun belum matang dan belum siap menghadapi dunia kerja. Dan bisa berakibat “banting stir” ke profesi lain yang jauh di bawah target yang diinginkan. Dan tentunya kuliahpun jadi percuma.

Semangat! Niat, usaha, dan do’a dengan sungguh-sungguh 🙂

Tips-tips bagi teman-teman yang akan memasuki dunia kerja

  1. Perbanyaklah pengalaman di luar akademik selama masa perkuliahan, ntah dengan organisasi, pengalaman freelance, atau jadi asisten dosen, atau kerja kontrak di sebuah tempat usaha/startup/perusahaan.
  2. Kekeliruan yg terjadi saat ini adalah : blm adanya panduan buat fresh graduate soal standard gaji, soal disiplin ilmu yg ada di dunia kerja. Maka inisiatiflah bergaul dengan mereka yang sudah bekerja dan sudah cukup pengalaman. Tanyakan apa yang blm diketahui, dan coba pahami dan terapkan perlahan 🙂
  3. Apabila kamu bekerja sendiri membuat aplikasi, jangan mau memindahtangankan source code aplikasi ke orang lain, walau disuruh perusahaan, bila blm diluncurkan, fatal!Dan apabila kamu punya ide, jangan cerita-cerita ke orang lain, sebelum kamu sudah tau apa langkah setelah ide tersebut. Jangan sampe kecolongan. Ada beberapa kekeliruan adalah : ketika project manager meminta saran kita utk suatu masalah peningkatan produksi, dsb, tiba2 ide kita disampaikan, terus dipakai untuk kemajuan perusahaan, tp kamu gk dapet apa-apa dari situ.
  4. Semua hal dalam kerja sama dgn perusahaan (ntah peg.tetap atau outsourcing) harus ada kontrak kerja tertulis+bermaterai 🙂 Dan di dalamnya disertakan aturan-aturan yang jelas dan tidak subjektif.
  5. Bila resign dari sebuah perusahaan, dan jangan lupa meminta 3 surat (sudah menjadi hak anda) : Surat pengalaman kerja, surat rekomendasi, surat referensi. Tujuannya buat apa? biar gk merangkak dari dasar lagi, tentunya itu jd penyambung buat posisi yg lbh tinggi lagi di perusahaan lain.
  6. Jangan abaikan akademik, kenali standard IPK yang diterima dalam setiap perusahaan (biasanya min.2,7 utk univ. negeri atau 3,3 untuk univ.swasta), sesungguhnya itu penting, buat mereka menaikkan rate gaji dan meyakinkan perusahaan. (Walau sebenarnya bisa kamu yakinkan dengan komunikasi yang meyakinkan+baik di dalam wawancara kerja)
  7. Ubah paradigman temen-temen kalo” kita kuliah itu biar bisa kerja”, salah! 😀 kuliah itu mencari ilmu, menata ilmu-ilmu kita supaya terarah pada bidangnya, supaya pola pikir kita juga meningkat daripada anak sekolahan, dan tentunya membentuk karakter problem solver.
  8. Buat CV yang menarik 🙂 ringkas, tidak bertele-tele. Cakupannya harus ada berikut : personal information, expertise, experience, education dan languages. Dan harus diurut 🙂 Bila kita sudah punya pengalaman, coba urutan experiencenya di awal setelah personal information, dan jangan lupa dibubuhi foto, no.hp dan email 🙂
  9. Gunakan email yang baku, misal : nama_depan.nama_belakang@[mailserver].com, jangan aneh-aneh : otongtampan@mail.com (epic fail!!!!), kenapa? konsistensi kamu akan keseriusan untuk bekerja dapat dinilai dari sini, dan juga email aneh-aneh itu memperlambat komunikasi!
  10. Dalam wawancara kerja, berusahalah untuk tidak tegang, santai saja, berbicaralah dengan percaya diri (asal jangan over PEDE) tapi tetap dalam etika, jadi temen-temen harus ada etikanya, mulai dari masuk ruangan dgn ucapkan salam, jabat tangan erat (menandakan anda punya komitmen kuat), duduk yang rapi, berbicara dengan sopan, dan menatap lawan bicara, sampai dengan penutup (terima kasih) dan salam sambil jabat tangan erat lagi, serta keluar dengan tertib.
  11. Sebaiknya kenali kemampuanmu dan tingkatkan terus, pantasnya dihargai berapa? jangan sampe kemurahan. Fenomenanya saat ini adalah, kebanyakan lulusan S1 itu gajinya setara D3, bahkan ada yg lulusan S2 pas di dunia kerja malah setara S1, bahkan leadernya S1, anak buahnya S2 (ada seperti itu, epic fail dah!) Ada seorang dosen bercerita ke dalam kelas yg saya ikuti : “jadi saya pernah bertemu seseorang yg sdh bekerja, kemudian menyambung S2…”
    “…mas, anda sudah bekerja, ambil S2 kan ndag ngaruh buat ningkatin jabatan, masih bertahap juga kan?”
    “betul, pak”
    “lantas, apa manfaat yang anda rasakan setelah S2 ini?”
    “dapet ilmu, pak”
    “ya kalo itu c jelas, mas..maksudnya apa yg membedakan anda dengan lulusan-lulusan S1?”
    *hening..*
    “sebenernya yg berubah itu pola pikirnya, jadi harus meningkat lagi kemampuan problem solvernya, mengidentifikasi dan menganalisa suatu permasalahan, mencari solusi yang tepat, dan mengambil keputusan”
  12. Ketika temen-temen sudah mengenali kemampuan, dalam negosiasi harga, tentunya semakin mudah. “Pantas gak ya aku dibayar segini dengan kemampuan segitu?” Dan punya keberanian! :DKalo ada calon atasan anda menawarkan harga rendah, jangan langsung terima! namanya juga nego, ya artinya seperti layaknya penjual dan pembeli, dan di situ kamulah sebagai penjualnya! Mau rugi?? gak kan!Nego gaji itu pertimbangannya ada banyak :
    1. Hasil test tertulis dari perusahaan,
    2. Pengalaman kerja slama ini,
    3. Nilai akademik dan organisasi yang pernah diikuti, (optional)
    4. Hasil test Wawancara.Biasanya pihak perusahaan berkomentar : “mas XYZ sudah test, kami lihat kemampuannya standard ya, gak terlalu bagus”  Jangan pasrah! 😀 tunjukkan kamu bisa lebih dari itu, kemukakan alasanmu, misal : “Terima kasih, Pak, atas penilaiannya. Saya memiliki skill di bidang ini dan ini, untuk hal yang bapak ujikan, jujur, saya belum mencobanya, jadi saya berusaha sebisa mungkin menjawab dengan apa yang pernah saya pelajari. Saya orangnya mudah penasaran, pak, dengan kasus yg belum selesai, saya biasanya terus berusaha belajar sampai ketemu solusinya, saya quick learner, blablabla” *intinya meyakinkan si pembeli, banyak cara kok! tapi ya jangan lebay dan omdo! buktikan! 🙂
  13. Ketika sudah diterima kerja, sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat di perusahaan, disiplin itu wajib, dan etika+sopan santun dijaga.
  14. Perhatikan juga etika dalam bekerja atau bisnis, jangan pernah melanggar aturan dari pekerjaan, seperti : mangkir pas jam kantor (bolos), membeberkan rahasia perusahaan, dsb. Kenali batas-batasnya 🙂
  15. Perhatikan scope pekerjaanmu, jangan sampe kamu diperalat perusahaan untuk mengerjakan pekerjaan diluar scope dan job desc dirimu. 🙂 Kebanyakan failnya ya di situ : mereka posisinya programmer, tp merangkap tester dan analyst, tp gajinya tetep segitu-gitu aja. Ya sama aja diperdaya. Kamu punya hak untuk menolak, tp dgn cara halus, gpp, kok 🙂 artinya kamu komitmen kuat dan tetap pada jalurnya.
  16. Jangan mau kerja di luar jam kerja, tapi gak dihitung lembur 🙂
  17. Biasanya, pas masuk bekerja dalam sebuah perusahaan, mereka pasti mengalami masa orientasi dan masa “probation”. Apa itu? di mana pada masa itu, kamu diperhatikan terus kinerja dan lebih “strength” daripada karyawan yang lain, biasanya juga disandingkan dengan training dari perusahaan. Nah, jangan sampe miss atau melakukan kekonyolan atau kesalahan. Masa probation itu paling lama 6 bulan, tp rata2 perusahaan c menerapkan 3 bulan.
  18. Setiap pekerjaan yang kamu lakukan, kamu buat backupnya buat pribadi, kamu manage dalam file manager, tertata dalam folder-folder yang dinamai berdasarkan tanggal. Misal sekarang tanggal 21-12-2011, buatlah folder 20111221 dan isi folder tersebut adalah pekerjaan apa saja yg kamu lakukan di tanggal tersebut (ntah file, ntah report). Apa tujuannya? selain buat mengetahui kinerja dan progress diri, dan juga untuk antisipasi apabila suatu waktu diminta pertanggungjawaban. Buat backup di mana-mana, jangan tersumber di satu tempat, bisa di media online, dsb. Kenapa? kita gak akan pernah tau, di kantor itu ada yg ingin menjatuhkan kita atau gak, kita jg gk akan pernah tau musibah bisa terjadi di meja kantor, dsb.
  19. Perhatikan umur 🙂 usia muda itu usia yang semangat berapi-api, masih mudah untuk memahami pelajaran dan pengalaman, dan tentunya di perusahaan juga punya batas toleransi umur untuk posisi/jabatan tertentu. Jadi jangan sampe terlena dengan sisa umurmu, manfaatkan sebaik mungkin, jangan kelamaan di satu posisi/jabatan, kalo bisa meningkat (jenjang karir) jika sudah siap+mantap.. ya yang jelas, matangkanlah dirimu pd suatu posisi/jabatan, jangan sampe prematur, atau ngebet banget naik jabatan, epic fail! cukupkanlah, misal sampe 1-2-5 tahun, kemudian mencoba posisi di atasnya, dsb 🙂
  20. Yang paling utama adalah kesehatan dan istirahat yang cukup 🙂 seimbang antara hal dunia dan hal akhirat.
  21. Sedekah jalan terus tiap hari, tiap waktu, penting
  22. Minta restu ortu, komunikasi dan share dengan ortu kita, tapi jangan pernah bawa masalah kantor ke ortu atau bawa ke keluarga deh. 🙂
  23. Jalin komunikasi yang baik dengan rekan kerja, komunikasi yang baik ini akan banyak dampak positifnya loh.
  24. Kenali pekerjaan di atasmu, ketika kamu menjadi seorang programmer, kamu gak mau kan jadi programmer terus seumur hidup? nah, kenali pekerjaan di atasmu (analyst, PM, dsb), pelajari secara sure but silent, dan ketika progressmu naik, dan waktu promosi jabatan tiba, kamu gak akan kaget lagi 😀
  25. Cari tempat/perusahaan yang punya riwayat perusahaan yang jelas, punya struktur organisasi dan jenjang karir yang jelas, ada insentip, jaminan/asuransi kesehatan dan tentunya kamu nyaman bekerja di sana 🙂
  26. Niatkan semua itu krn ibadah 🙂

Apakah tips-tips di atas valid?

insyaAllah, valid, sudah dibuktikan di lapangan selama jadi programmer>team leader>system architect>business analyst (karir berjenjang)>dan sekarang S2 sambil freelance proyek 🙂

Dan didasarkan pengalaman-pengalaman temen-temen dan kakak-kakak yang pernah saya ajak diskusi, mereka yang sudah sukses sampai sudah berumah tangga dan memiliki penghasilan yang cukup buat masa depan diri, keluarga dan pendidikan anak-anak, sampai hal ibadah haji.

Hadits Rasulullah SAW :

“Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim)

Imam Syafii berkata dalam syairnya : “Kesungguhan dan ketekunan seseorang akan dapat mendekatkan segala sesuatu yg jauh. Dan ketekunan itu juga dapat membukakan pintu-pintu kebodohan yg tertutup”