RSS

Tag Archives: belajar

Pentingnya bagi seorang designer mobile app. memahami “design pattern” dan guidelines desain aplikasi

Waaah…. desainer baru…. begitu dilihat pengalamannya ternyata basic-nya adalah desainer web yang sudah bekerja selama 5 tahun lebih.

Tiba-tiba kebutuhan akan aplikasi mobile begitu tinggi, alhasil beberapa desainer web beralih profesi mengerjakan desain-desain antarmuka aplikasi mobile.

Nah, ada kesalahan fatal yang terjadi, menyebabkan potensi kesalahan di dalam pengembangan, ntah itu timeline menjadi tambah panjang, developer yang menjadi sulit mengimplementasikan desain yang diberikan, dan sebagainya.

Siapapun yang menjadi desainer aplikasi mobile, dimohon jangan samain seperti mendesain website yah..hehe
Desain aplikasi platform apapun itu, baik itu iOS, Android, Windows Phone, Blackberry, ada prinsip-prinsip desain yang harus dipahami, ada guidelines yang harus dipatuhi. Setiap OS mobile punya pattern desain sendiri yang mesti diikuti. Tidak bisa “semau gue, menurut gue itu keren”.

Seorang designer antarmuka aplikasi mobile mesti mendalami pengetahuan seputar perangkat OS platform tersebut, mindset-nya juga harus diubah. Sama seperti pada waktu seorang designer web mendapatkan job dari perusahaan ternama (pernah saya alami di BNI, Jakarta), mereka (BNI…yg saya tau) punya guidelines terhadap website mereka. Misal : Warna tema website mereka.. di guidelines-nya dijelasin hexa codenya apa, logo web-nya pakai yang mana, resolusi “width height“-nya berapa, ukuran hurufnya berapa, pake typeface apa, dan sebagainya..maka terjadilah konsistensi desain di web yang dimiliki perusahaan ternama tersebut.

Begitu juga dengann platform mobile. Antarmuka di aplikasi mobile punya konsistensi, ketika mendesain layout, peletakan menu slalu di sebelah mana, icon aplikasi bentuknya seperti apa, di hape layar kecil resolusinya berapa, di hape layar besar resolusinya berapa, kalo bikin tab taruh di mana, default typeface pake apa, dan sebagainya.

Saya rasa tantangan yg mereka (designer web) hadapi ketika menjadi designer apps adalah bagaimana caranya agar menguasai design interaksi dan UX-nya.

Untuk mengubah sebuah tampilan website menjadi tampilan aplikasi yg mungil, layar terbatas, jangkauan pengguna ketika menyentuh layar bagaimana, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan… bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Sebagai contoh : ketika mengatur ukuran huruf yang nyaman dibaca pengguna aplikasi, mengatur komponen apa aja yang dapat dijangkau pengguna aplikasi ketika menyentuh layar, dan dari langkah tersebut, desainer masih dibuat pusing lagi ketika menguji hasil karya antar mukanya.

Si desainer sudah merasa yakin mendesain aplikasi di hape layar besar (di atas 5 inch), ternyata di hape layar kecil membuat pengguna kurang nyaman, terkadang mengalami masalah komponen layout-nya oversize di hape layar kecil, terkadang ukuran hurufnya kegedean diterapkan di hape layar kecil, dan masih banyak lagi masalah-masalah yang mungkin terjadi. Dan akhirnya si desainer aplikasi  mencoba mengatur ulang layout-nya.

Dengan kata lain, mau tidak mau si desainer harus menyiapkan beberapa layout design untuk beberapa jenis ukuran layar smartphone maupun tablet (dari ldpi, mdpi, hdpi, xhdpi, sampai dengan xxhdpi).

Seperti yang sudah saya jelaskan, masing-masing perangkat mobile, baik itu smartphone maupun tablet punya UX berbeda. Apalagi beda platform, tentu User Experience di tiap platform berbeda. Pengguna device Android sudah terbiasa melihat menu dengan slide ke kanan atau tap pada pojok kiri dan kanan, sedangkan pengguna device iOS terbiasa dengan menu slide di bawah ke atas, dan berbeda lagi dengan pengguna WindowsPhone, menu disajikan per tab dengan label yang besar di atasnya, tidak ada menu pojok seperti di Android ataupun menu bawah seperti di iOS. Setiap platform punya guidelines-nya bagaimana meletakkan komponen design, seperti yang saya sampaikan yaitu menu, slide menu, tombol, tab, tabel, dan komponen lainnya.

Biasanya, seorang desainer itu melakukan coret2 dulu di wireframe (wireframing), diskusikan dengan tim (ntah dengan desainer web ataupun aplikasi mobile yang lain ataupun dengan developer dan system analyst) apa yang telah di-wireframing sudah pas atau belum, kemudian periksa guidelines di docs platform tersebut apakah sudah sesuai pattern OS tersebut atau belum, kemudian UX-nya bagaimana.. apakah sudah sesuai dengan kebiasaan pengguna di platform tersebut atau belum, setelah itu baru memulai perbaiki designnya agar menjadi tampilan antarmuka aplikasi yang ideal yang siap diimplementasikan ke dalam aplikasi.

Bagi teman-teman yang belum mengetahui guidelines atau panduan mendesain di masing-masing platform mobile, bisa merujuk ke link berikut ini :
Semua udah ditulis lengkap, resmi dan terstruktur, tinggal kitanya mau belajar dengan tekun atau tidak.
iOS : https://developer.apple.com/…/UserExp…/Conceptual/MobileHIG/
Android : http://developer.android.com/de…/get-started/principles.html
WP : https://dev.windows.com/en-us/design

Sekian 🙂

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2015 in Android, Design

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Fighting Spirit mahasiswa sekarang lemah!

Pelajaran yg saya dapatkan hari ini dari pak Lukito dari ngobrol di plurk.

mungkin banyak orang bisa berbagi ilmu, tp belum mampu mengajarkan mereka untuk mandiri, menyadari hak dan kewajibannya. Hanya fokus pada hal membagi, tidak mengajarkan..
Alhasil, kebanyakan mahasiswa itu fighting spiritnya lemah, kurang menghargai orang lain, menunggu dijemput, bukan datang mencari, dan terlalu fokus pada hal yang ada.

Karena ini lagi musim ributin capres, saya coba berikan analoginya, seperti calon pemerintah yang punya visi : “menaikan tunjangan 3x lipat”, tp tanpa menjabarkan misinya hal-hal yang bisa membuat rakyatnya mandiri, mengajarkan mereka buat lebih berkualitas. Jatuhnya, ketika pemerintah memberikan apa yang rakyatnya inginkan, selanjutnya rakyat nanti akan banyak menuntut pemerintah (manja).

Dan ini ada beberapa contoh yang dihadapi :

“maaf, mas kuota internet sy gk cukup, boleh copy gk mas, kita ketemuan, mas”

“maaf/maklum masih newbie, mas, ajarin dong dr dasar”

“saya googling ga nemu, mas”

“mas ada tutorial bahasa indonesia gk? sy gk bisa baca yg bhs inggris”

“mas, sy pake cara ini, tp gagal, bisa dicekin gk mas, errornya?”

“mas, sy bikin aplikasi kyk gini, itu rasanya kok jd panjang bgt, ada cara singkat gk mas?”

kadang saya gk suka dengan orang yg apa adanya… ujung2nya ada apanya… gk mw usaha lebih keras..
malah bbrp message FB saya diamkan saja pas lagi sibuk ataupun karena terlalu sering mendapatkan seperti itu. Kurang sabarnya saya.

Jaman sekarang, internet murah, hdd murah, jaman sy kuliah, flashdisk max. 128 MB, itupun mahal, duit jg ngepas dikirimnya, internetpun mesti di warnet, krn blm ada model modem dan provider internet murah. Apalagi zaman dosen-dosen kita? 
Yang sewajarnya, mencari informasi itu lebih mudah di zaman sekarang.

Bila tidak bisa bahasa inggris, ya belajar, masih sempat belajar, daripada waktu banyak habis buat ngegame dan berjejaring.

Lalu bagaimana etikanya?
Ini masalah yg saya hadapi dengan panitia sebuah workshop, saya berkeluh kesah di plurk, dan pak Lukito memberikan tanggapan :
“Bilang saja klo anda tdk suka diperlakukan dmk. Tunjukkan bhw apa yg mrk lakukan itu tdk menghargai pembicara..Ttg jadwal, ttg HR, ttg pemberitahuan yg mepet. bbrp panitia mhs sptnya perlu diberitahu ttg adab terkait pembicara, jd ajarilah mrk. Kalau saya, saya ga akan mau disuruh menemui panitia atau mengunduhkan file2 yg diperlukan utk demo..Bukan apa2, tp justru utk ngajarin mrk ttg hak dan kewajiban masing2. Sptnya mhs panitianya blm pengalaman mengadakan acara2 gini ya”

dan ini membawa hikmah ke yang lain, bahwa pentingnya membagi pengetahuan ke yang lain tapi juga mengajarkan, ya mengajarkan mereka tentang hak dan kewajiban.

Jadi, ketika orang bertanya, coba jawab, tp jangan abaikan untuk beritahukan ia bahwa alur belajarnya yg benar ttg ilmu tsb seperti ini.

Dengan memberikan mereka : arah yg benar, cara yang baik dalam belajar, dan juga mengajarkan mereka buat semangat belajar (dengan memotivasi dengan arah yang kita beri tersebut), insya’ Allah, mereka bisa mandiri mencari informasi sendiri.
Karena, mereka tentu tersesat dalam belajar, bingung harus belajar apa dulu. Saya juga dulu mengalami demikian.

Terus ajarkan mereka, “mas, kalo bertanya, sebaiknya spesifik, ke kasus yg dihadapi, jangan minta ajari dari awal, kasian saya nantinya mas, membagi banyak waktu buat mas, padahal saya ada hak dan kewajiban.. Jadi coba aja dulu, pelan-pelan, pelajari dari berbagai sumber..ini saya kasih link-link yang bagus, terus coba bikin aplikasi sederhana, seperti mengganti background, rumus menghitung luas misalnya, atau deteksi lokasi sederhana, baru kalo kesulitan, bertanyalah ke pokok masalah. Jangan dateng-dateng langsung nanya, dan minta ajarin bikin aplikasi yang lebih besar.”

Tp jangan takut juga bertanya, bila mengasyikan, malah terkadang orang yang kita tanyai itu ikut2an belajar dari situ. Apalagi mereka bisa mengakrabkan diri dengan baik. Datang bawa masalah, tentu harus diceritakan kronologinya, sedang buat aplikasi apa, errornya muncul apa, terus input-outputnya apa… jangan datang-datang, copas sourcecode, dan minta carikan errornya 

Semoga ini bisa memberikan pelajaran bersama, khususnya bagi diri saya pribadi. 🙂

Mohon maaf bila menyinggung, semoga tidak dinilai negatif  😀

 
3 Comments

Posted by on June 6, 2014 in Celoteh

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

UI Automation di Android (bagian dari unit testing)

pernah melakukan Unit Testing di sebuah aplikasi?

Nah, berikut ini adalah contoh Automation test di Android. UI Automation Test merupakan bagian dari Unit testing yang bertujuan membiasakan tester terhadap komponen UI (termasuk view dan control) dari aplikasi yang ditargetkan.
Selain itu, kita bisa menganalisa aplikasi orang lain untuk mengetahui komponen apa saja yang digunakan di aplikasi tersebut.
Output yang dihasilkan berupa screenshot UI dan komponen-komponen penyusun UI secara hirarki dari parent to child (seperti halnya di XML layout)

untuk menganalisa komponen-komponen UI dari sebuah aplikasi, dapat dilakukan via Android SDK, yaitu via terminal (arahkan ke <android-sdk>/tools/), ketik :

$ uiautomatorviewer [enter]

Tampilannya seperti berikut :

Image

Lengkapnya dapat dilihat di : http://developer.android.com/tools/testing/testing_ui.html

 
Leave a comment

Posted by on May 28, 2014 in Android, Programming

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Menantang diri sendiri

Sebenarnya hidup menjalani banyak hal ada suka dan dukanya kan? Tentunya…!

Dikala seseorang menjadi seorang suami, seorang karyawan, seorang freelancer, dan atau juga seorang mahasiswa. Masing-masing mempunyai jatah waktu yang harus dijalani. Dan ketika harus menjalani semuanya sekaligus bagaimana?

Mungkin pernah diri pribadi mendapatkan “perselisihan hati”, ada kalanya iri melihat orang lain yang waktunya bisa maksimal di satu dan dua hal. Ada kalanya iri melihat teman-teman yang sudah lulus sekolah dengan waktu yang cepat dan topik yang mudah. Adakalanya iri dengan orang lain yang mencapai kesuksesan sampai go international. Ada kalanya saat-saat membagi waktu dengan keluarga menjadi terganggu karena pikiran berada pada kewajiban-kewajiban yang lain.

Nah yang seperti itu terkadang membuat diri pribadi menjadi jenuhpatah semangat dan bahkan berbalik arah meninggalkan apa yang sudah dikerjakan, dan sayangnya sudah separoh jalan, kemudian ditinggalkan.

Ketika yang seperti itu datang adakalanya butuh yang namanya refreshing, ketika sudah dilakukan. Cobalah shalat, istighfar dan merenung setelahnya…

Tidakah berpikir bahwa apa yang mereka raih itu sudah jalannya? mereka meraihnya sesuai dengan usahanya. Jadi, tidak usah risaukan orang lain. Lakukanlah apa yang bisa dilakukan sekarang. Kerjakan apa yang jadi kewajiban dan dibarengi niat ibadah. Apa yang sudah ada saat ini, langkah yang telah dilalui sampai saat ini.. sudah ketentuan dari-Nya, karena semua terjadi atas izin-Nya. Jadi buat apa risau?

Ketika mencoba seketat mungkin mengatur waktu, merasa waktu begitu sempit dan singkat, tetaplah teruslah berjuang…fokus pada perkara yang dijalani di satu waktu tersebut, dan menikmati prosesnya …dan sungguh akan terasa bernilai.

Pernah dapat motivasi bagus dari seseorang :

Untuk mencapai kemapanan, harus break the limit, lakukan usaha yang mendorong pribadi ini dr batas sekarang ini.

Ya, menantang diri sendiri. Pribadi yang berusaha menembus batas dan naik ke tingkat berikutnya. Di mana tidak akan mengambil hal yang biasa dihadapi/monoton, tidak mengambil langkah yang tidak memberikan pelajaran berharga untuk diri, tetapi melakukan hal-hal yang memiliki dinamika perubahan ke arah lebih baik..walaupun jalan yang dilalui sempit dengan waktu yang terbatas.

Satu hal lagi dari Albert Einstein :

“Kamu harus menguasai aturan dari permainan, dan kemudian kamu bisa bermain lebih baik daripada orang lain.” — Albert Einstein

Dengan begitu, diri pribadi tidak akan bergantung pada orang lain, menjadi follower bagi orang lain. Biarlah jalan yang kita lalui itu terkadang membuat kita jatuh, gagal, sakit-susah…namun, dari situ kita jadi belajar, dan apa yang dirasakan akan menjadi terbiasa menghadapi kerasnya hidup. Biarlah orang lain mendapatkan apa yang ia dapatkan sekarang. Itu jalannya. Tapi apa yang kita dapat sekarang, menjadi bekal buat break the limit diri kita untuk mencapai tujuan yang lebih besar lagi.

Seperti kata Imam Syafi’i :

“Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan” — Imam Syafi’i

Melakukan 2 atau 3 usaha ya tidak mengapa, asalkan usaha tersebut akan mengarah pada usaha utama. Dan tentunya menjadi terintegrasi dan fokus. Mengapa demikian? tidak kah kita berpikir bahwa sesuatu yang besar itu diawali dari sesuatu yang kecil?

“A journey of a thousand miles begins with a single step”. — Lao Tzu

Dan satu hal lagi, jadilah pribadi yang positif, jarang berpikir negatif maupun pesimis. Kesempatan itu ada bagi mereka yang tidak takut bermimpi.

 
Leave a comment

Posted by on April 1, 2014 in Islam

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Pentingkah melanjutkan kuliah di TI?

Bagi temen-temen yang dari SMA sudah kuat di dunia komputer, dan tertarik untuk menggali lebih dalam ilmu di dunia komputer, kemudian bertemu di kondisi “resah” apakah memang penting kuliah di bidang teknologi informasi atau cukup belajar otodidak saja terus ambil kuliah jurusan lain? khawatir nanti kuliah TI malah sia-sia saja, mending saya ambil kursus daripada buang duit untuk kuliah TI.

pemikiran seperti itu wajar terjadi, mengingat, belajar komputer juga sekarang cukup mudah, ditambah pola pikir anak SMA belum begitu matang.

Hanya dengan bermodal buku bacaan, dibeli dari toko buku, kemudian dibaca dan dipraktekan di depan komputer. Dalam periode waktu kurang dari 6 bulan sudah bisa mahir menguasai satu ilmu TI, ntah hacking, ntah programming, ntah jaringan, ntah sistem operasi. Dan bahkan dari situ mereka bisa menghasilkan uang dan bekerja di perusahaan-perusahaan besar.

Ada diskusi menarik yg sy dapat di perkuliahan S2 antara dosen dan mahasiswa mungkin bisa memberi gambaran mengapa kuliah TI itu penting
(* diskusi ini saya tidak ingat 100% isi percakapannya, namun saya masih bisa tangkap apa yang didiskusikan. Diskusi ini juga didapat dari 2 peristiwa. Init dosen : TBA dan EN. Mohon maaf bila tidak ingat sepenuhnya 😀 memory terbatas hehe )

dosen : *sambil nunjuk* masnya ambil S2 alasannya apa?”
mhs1 : “buat belajar TI lebih dalam, pak!”
dosen : “kalau boleh tau, ilmu apa yang anda dapat lebih dalam di S2?”
mhs1 : “sampai saat ini saya belajar lebih dalam dari berbagai studi kasus yang diberikan dosen, pak”
dosen : “apa yang bisa anda dapatkan dari situ?”
mhs1 : *terdiam sejenak* “penyelesaian masalah dan mencari solusi efektif dan efisien, pak”
dosen : “bukan itu, atau….” *sambil nunjuk yg lain* “…ya coba masnya yg dipojok itu, mengapa alasan ambil S2?”
mhs2 : “sy setelah lulus S1, jd programmer, pak, ingin mendalami lebih dalam soal programming dan software development, pak”
dosen : “jadi, anda ingin mendalami dunia software developmentnya ya mas? cukup bagus goal-nya. Tapi apakah anda bisa menjamin bahasa pemrograman yang anda kuasai itu masih ada 10 tahun yang akan datang? tidak bisa kan?”

kemudian…. dosenpun bercerita yang isinya kira-kira begini :

“saya akan bercerita soal kejadian saya menanyakan hal ini ke mahasiswa saya di akhir mereka kuliah, di awal saya bertanya ini juga, begitu mereka selesai bimbingan thesis dengan saya, saya tanyakan lagi.
saya bertanya ke mahasiswa : “apa yang sudah anda dapatkan dari S2 ini, mas?”
mahasiswa : “banyak sekali, pak. Saya bisa lebih mendalami masalah TI dalam lingkup yang lebih pasti dan terarah. Karena dunia TI begitu luas, jika kita mampu memosisikan diri kita di dunia kerja dengan pasti, tentunya karir kita akan lebih baik. Satu hal yang saya dapat dari pelajaran yang bapak beri..bahwa memang benar, pak. Di S2 ini, pola pikir saya lebih kuat, lebih terorganisir sebagai seorang profesional TI

Yang membedakan kita, S1, S2, D3, STM di dunia TI.. adalah “pola pikir” atau mindset.

Saya quote salah satu note dari seorang dosen (LEN) :
“kalau anda seorang programmer yang terbiasa bekerja pada level implementasi dan suatu saat harus belajar tentang matematika diskret, bersiaplah untuk meninggalkan mindset operasional untuk berpindah ke mindset dengan tingkat abstraksi yang lebih tinggi. Memikirkan topik-topik semacam logika, teori himpunan, dsb. pada level programming jelas tidak akan efektif.”

Dan itu jadi salah satu alasan, mengapa di S1 kita tidak belajar programming melulu, malah sampai ada teman-teman yang bertanya : “saya bingung kita belajar S1 ini hasilnya dapet apa? saya juga programming gak jago, dunia kerja ntar bingung mau jadi apa…lowongan banyak yang programmer dan staff TI, tapi tetep butuh skill programming dan RPL”

Dunia TI begitu luas, tidak hanya programming, tidak hanya software development, jaringan komputer, dan lain-lain. Kalau kita melihat lebih luas, di mana teknologi yang berkembang saat ini, seperti di smartphone, di traffic light yang bisa merekam plat nomor kendaraan yang melanggar lalu lintas, kemudian teknologi yang sekarang sudah diterapkan di restoran-restoran dan surat kabar dengan QRCode, mengambil keputusan di dunia bisnis, dan lain-lain. Itu juga hasil dari dunia TI. Ada Computer Vision, Soft-Computing, Data Mining, Pervasive-computing, dan lain-lain.

Dan dari perkuliahan itulah mereka dapatkan ilmu di bidang TI secara sistemik dan utuh. Kurikulum yang didapat juga jelas, dan diakhir semester kita diarahkan di mana kita harus memilih lagi, bidang/cluster/minat studi apa yang kita tekuni dan sukai dari dunia TI tersebut.
Dari situ juga mahasiswa berkembang, belajar dari umum ke spesifik. Namun hal tersebut, tidak hanya di dapat dari dalam lingkungan kuliah saja, tetapi dari luar kuliah juga. Di mana masalah di luar lingkungan kuliah tentu lebih beragam. Dan tentunya, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemandirian dalam menuntut ilmu.

Mari kita lihat kasus nyata baru-baru ini, di mana seorang (yang mengaku) hacker yang berakun anon_indonesia, berdebat panjang lebar dengan para twitter lain, dia mengaku kalau level tertinggi dari hacking adalah deface. Konon katanya seorang bolang 😀
Sudah bisa menangkap apa yang membedakan dengan kita yang sudah kuliah TI? 😀
Ya, yang dia tau ya level hacking cuma deface website saja, yang bisa dengan mudah mengandalkan google, mencari file dengan nama dan atau extensi tertentu, misal aspx, php, dll. Kemudian ia coba masuki dengan beberapa cara, sehingga bisa meng-upload file-file lain dari local komputernya, kemudian file index.html/index.php, dll direplace seakan-akan dibajak?!:P 😀
Padahal jelas yang seperti itu bagi anak jarkom, tentu dianggap mainan anak sekolahan. Dan tentunya tindakan itu bukan main-main, karena memang merupakan salah satu hal kriminal.
Ketika ditanyain istilah-istilah jaringan, ah, jangankan jaringan, istilah kecil seperti back-end, sysadmin, dan sejenisnya, orang seperti itu belum tentu mengetahuinya.
Lantas dari mana bisa mengetahui seperti itu? 😀 tidak dari buku, tidak juga dari belajar otodidak, tapi dari perkuliahan, di mana…seperti yang saya tulis di atas tadi : “Di perkuliahan, mahasiswa dibiasakan untuk berpikir secara sistemik dan utuh tentang TI”

Ada contoh lain :
Seorang yang tidak kuliah TI, dia mahir programming Visual Basic 6 dengan otodidak, kemudian VB6 tidak laku lagi, programming baru datang, .NET. Dia bisa mengikuti perkembangan hal tersebut dengan belajar otodidak lagi, tapi begitu .NET berakhir, tentu ia mau tidak mau dituntut untuk belajar yang baru lagi, namun hal tersebut akan berakhir di situ-situ saja. Dan begitu mendapatkan persoalan yang baru, ia akan kebingungan.

Ada seorang STM yang mahir TI, dia sudah menduduki jabatan yang bagus di salah satu perusahaan telekomunikasi asing, kemudian dihadapkan dengan massive problem, dari hal infrastruktur TI, jaringan, sistem yang sudah tertanam dan sistem yang akan dikembangkan. Menuntut dia harus belajar lebih giat lagi. Namun, dia menjadi kesulitan : “aku harus mulai belajar dari mana dulu? nanti aku mesti ngapain?” karena tidak tau arah dan belajarnyapun tidak berurut. Membuatnya menjadi tersesat.
Alhasil, posisi dia tidak naik ke level berikutnya, dan masih di posisi sebelumnya. Dan pada akhirnya, membuat keputusannya berubah : “sepertinya saya harus mengambil kuliah S1 TI, biar lebih paham lagi”

Tiap jenjang strata, mindset yang terbentukpun berbeda levelnya. Dan perlu diketahui, di S2 TI, ilmu-ilmu S1 TI masih bertemu lagi. Hanya saja, kerangka persoalan di S2 itu lebih ke level abstrak yang biasa dihadapi oleh mereka yang bekerja pada posisi manajerial, bukan hal teknis atau operasional lagi. Mahasiswa dituntut mampu menyelesaikan persoalan dengan solusi yang efektif (tepat sasaran) dan efisien (tepat guna).

Dan dari beberapa hal di atas sudah bisa disimpulkan bahwa kuliah TI bukanlah hal sia-sia.
Dengan kuliah TI :

  1. kita mampu berperan aktif sebagai profesional TI yang memiliki pola pikir terarah dan sistematik.
  2. atmosfer lingkungan kampus sangat mendukung bagi kita untuk belajar lebih giat lagi tentang TI, di situ juga ada kelompok/forum diskus/belajar bersama, dan juga organisasi kemahasiswaaan. yang tentu menambah tantangan dan pengalaman. Selain itu, dengan kelompok tersebut mahasiswa dituntut untuk bisa untuk bisa bekerjasama.
  3. kita dibimbing oleh dosen yang tentu ahli dalam bidangnya.
  4. kesempatan untuk dipandang oleh orang lain di dunia kerja juga akan tinggi. Bahkan oleh lingkungan sekitar, orang yang berpendidikan sarjana akan dianggap ahli dan pintar oleh lingkungan. Tentu membanggakan orangtuanya.
  5. membentuk pribadi yang memiliki passion, percaya diri, kesabaran dan soft-skill yang tinggi di bidang TI, dengan visi dan misi yang jelas untuk masa depannya.
  6. mungkin ada yang mau menambahkan lagi? 😀
 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2013 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Siap Hadapi Dunia Kerja!

Siapa yang bisa menjamin bila kita menguasai sebuah teknologi? atau bila saya coba kecilkan lagi lingkupnya untuk para developer, siapa yang bisa menjamin dengan teknologi yang sudah dipelajari 1-2 tahun dan dikuasai sekarang, akan bisa dipakai 5-10 tahun lagi?
Tidak ada yang bisa menjamin 😀

Bila ada yang berpandangan : “ngapain belajar bahasa pemrograman xyz, belum tentu juga dipakai, mending kamu perdalam masalah manajemen TInya atau non-operasional di dalam devisi TI di sebuah perusahaan, tentu lebih enak kan? gak perlu capek-capek ngoding, gak perlu belajar banyak sampe kerjapun mesti 1-2 hari gak tidur, ngumpulin penyakit

Ada yang ngomong seperti itu? ada! 😀 bahkan terdengar di telinga saya.

Namun bukan sesuatu yang menghambat, karena hidup ini berawal dari niat dan berlangsung pada proses dan berakhir pada hasil. Jadi tergantung bagaimana pribadi ini menanggapi dan menjalankannya.

Ok, dari pertanyaan tersebut, mesti dari para pembaca memiliki pandangan yang berbeda-beda. Dari yang pernah saya alami, ternyata apa yang dipelajari 3 tahun yang lalu tidak begitu terpakai di saat sekarang, justru yang berkembang saat ini adalah “learning by doing”, sambil bekerja ya..itulah yang dipelajari. Mengapa? salahkah kita belajar? jika tau nantinya tidak akan dipakai lama?

Untuk dilema seperti ini, banyak mahasiswa yang mengalami, bahkan mereka yang masih S1 (syukurnya saya sudah melewati masa itu sejak Februari 2009 lulus S1 yang sebelumnya sempat mengalami)

Fakta yang ada sekarang adalah memang teknologi berkembang sangat cepat, bahkan hari ini belum tentu sama dengan hari esok. Kamu menerapkan suatu teknologi dalam sebuah karyamu, belum tentu 1-2 tahun ke depan akan exist.

Perlu diketahui juga, teknologi itu hanyalah alat, yang bertujuan membantu aktivitas manusia.

Teknologi Informasi (TI) banyak minat-study di dalamnya : mulai dari Multimedia, Sistem Informasi, Jaringan Komputer, sampai Kecerdasan Buatan. Minat-study itulah yang menjadi inti dari apa yang mestinya jadi target mahasiswa. “Bidang apa ya yang harus saya perdalam?” ya, sesuai kemampuan dan minat masing-masing 🙂 Jangan ikut-ikutan!

Dan tiap bidang tersebut ada fragment-fragment lagi di dalamnya. Mulai dari hal teknis sampai hal non-teknis. Namun, kan tidak masalah, karena sebelum kita diperkenalkan minat-study tersebut, kita sudah diperkenalkan dan mempelajari pokok-pokok dari teknologi informasi itu sendiri, ya sebut saja mata-kuliah : algoritma dan pemrograman, struktur data, basis data, jaringan komputer, sistem informasi, sistem operasi, rekayasa perangkat lunak dan manajemen proyek.

Jika kita memahami semua hal tersebut, untuk melangkah ke minat-study sesuai keinginan tentu akan mudah. Bahkan dengan adanya teknologi yang baru dan terus berkembang, itu bukan masalah! Teknologi yang ada sekarang itu berkembang bukan dari hal baru loh, tapi dari apa yang ada sebelumnya. Atau perbaikan dari sebelumnya. Atau bisa jadi versi lain dari teknologi yang ada. Mesti ada akarnya. Dan itulah yang kita peroleh dari perkuliahan.

Jika ada yang berpendapat : “ngapain capek-capek kuliah TI, kalo ilmu-ilmunya dapat diperoleh dari buku yang banyak diperjualbelikan di toko buku”

Wah, apa yang ada di buku, itu cuma hal praktis saja 😀 kalo bisa dibilang, sekecil upilpun belum tentu dapet. Hal-hal praktis dan teknisnya saja yang bisa didapat. Tapi secara konsep dan non-teknis sedikit sekali poin-poin yang didapat. Ya, bisa dibilang cm fragment-fragment kecil dari TI itu sendiri.

Bisa kok dipake di dunia kerja, tapi ya susah berkembang, akan stuck di kemudian harinya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dari “learning by doing“, seperti berdagang kecil-kecilan misalnya, terus kita sudah paham, baru melebarkan lapak, atau dengan coba-coba seperti kebanyakan mahasiswa S1 yang ditawarin proyek oleh temannya : “udah, mas, coba aja, ntar bisa dipelajari sambil jalan kok, ntar kita bayar 800ribu. Kan lumayan, dapet uang buat jajan dan ilmu” (alibi :P)

Namun kalo kita begitu terus, yang ada kita ketinggalan 😀

Mereka yang kurang paham konsep, hanya melakukan hal operasional dengan belajar yg bersifat praktis dari tutorial (misal : tutorial buku “10 jam menguasai bahasa pemrograman xyz” atau hal lain serupa), itu kalo terus-terusan dipelihara, akan sulit untuk “melangkah maju yang jauh”. Ya, saya sebut “melangkah maju yang jauh”, ketika seseorang yang paham konsep dan teori, kemudian pandai menerapkannya itu bisa melangkah 10 m sekali langkah, akan berbeda dengan mereka yang sedikit atau belum sama sekali paham konsep dan teori, kemudian praktek sesuai apa yang dibuku/artikel yang cuma bisa melangkah 1 m sekali langkah.

Ketika berhubungan dengan mereka yang masih S1 tingkat akhir atau yang baru lulus, mereka belum “matang”, atau maaf, termasuk “prematur”. Ya, kalau dilihat dari pengalaman kerja selama kuliah, ok, mereka punya skill dan portfolio. Sudah bisa mahir di 1 bahasa pemrograman tertentu. Namun, ability-nya tidak dibarengi dengan pemahaman yang matang. Mereka sulit memecahkan masalah, bahkan untuk scope yang lebih besar, mereka tidak siap. Kemampuan pemecahan masalah mereka masih butuh sangat diarahkan, mengingat ketika mereka terjun dalam 1 tanggung jawab di dalam team di perusahaan, masih berantakan, dan susah bergerak bila tidak diarahkan. Bahkan, ada yang sudah diarahkan, stuck tidak bisa melakukan apa-apa. Siapa yang dirugikan? perusahaan. Siapa yang dipermalukan? diri sendiri dan almamater tentunya.

Kasus yang dihadapi dalam perusahaan beragam, kadang simple kadang kompleks. Dan untuk perusahaan vendor-vendor TI, biasanya yang dihadapi untuk client-client besar (apalagi ibukota) adalah kompleks dan mobilitas tinggi (tentunya tingkatan stress juga tinggi).

Jangan pernah berharap ketika kita sudah terjun, kita tidak bisa, kita diizinkan untuk belajar sambil melakukan! 😀 Jangan pernah, karena siap-siaplah posisimu digusur oleh orang lain. “Lah, kan biasanya di perusahaan ada training?” iya, memang, itu suatu ketika kita mengisi sebuah posisi baru dari posisi sebelumnya (promosi jabatan) yang memang dikehendaki.

Perusahaan itu punya target, dan salah satu mencapai targetnya adalah menekan biaya produksi dan juga menekan biaya resource. Mereka tentu mengharapkan tenaga kerja yang profesional dengan biaya yang murah 😀

Pernah saya rasakan “jadi korban” hal itu. Ketika dalam project di salah satu perusahaan asuransi kendaraan terbesar di indonesia, menjadi koordinator anak-anak outsourcer, ternyata malah meleset dari jadwal dan ternyata developernya juga orang yang mengetahui praktis saja tanpa tau konsep yang matang. Akibatnya, ketika saya terjun jadi koordinator, sering rapat non-teknis dan teknis, menghitung ini-itu, dan sambil membimbing mereka (jadilah supermen) untuk belajar Adobe Flash (projectnya didevelop dengan Flash dan db Oracle) Yang ada, semua terhambat oleh masalah developer yang belum siap. Ya, salahnya juga, kebijakan atasan yang “berani” menerjunkan mereka yang belum terbiasa dengan pekerjaan yang butuh keahlian mendalam. Menjadikan perusahaan kurang mempertimbangan “hal terburuk” ini.

Dan kasus-kasus ini sering terjadi di beberapa vendor TI (yang kebetulan ada saya di dalamnya sebagai outsourcer :P), apakah ini dampak buruk dari rate mereka (developer) yang dibayar rendah juga atau memang mereka tidak siap? 🙂

Selama menjabat menjadi business analyst dan sesekali mengkoordinir project, non-teknis di sini begitu diperhatikan, hal-hal teknis yang semestinya tidak ada hambatan, jadi terhambat oleh mereka yang belum siap terjun di dunia kerja. (apalagi sampe ada yang kabur dari perusahaan vendor.. hahaha.. ini yang patut disalahkan ya vendornya, karena kontrak kerja kurang mengikat dan kurang bisa menjaga harmonisasi dengan si pegawai)

Makanya, di dalam sebuah perusahaan biasanya ada masa probation, yaitu masa di mana si calon pegawai atau mereka yang fresh-graduate (0 pengalaman) diuji cobakan sesuai posisi yang akan ditempati dalam sebuah perusahaan, sebelum nantinya diangkat jadi pegawai tetap. Masa percobaan ini biasanya 3-6 bulan lamanya. Ada yang gajinya dibayar full pada masa probation ada juga yang hanya dibayar 50-75% (termasuk tragis :P) Masa probation ini, sekaligus masa orientasi si calon pegawai tetap+baru ini. Dan juga menjadi sarana transfer knowledge dari karyawan yang mau pindah ke calon pegawai dalam suatu jabatan tertentu.

Ada yang bilang : “ya, wajar, namanya juga fresh graduate, belum bisa apa-apa
Wah, kasar nampaknya, saya kurang setuju pendapat tersebut 🙂 menganggap fresh graduate seperti itu. Dan itulah, yang menjadikan rate penghasilan mereka yang fresh-graduate di bawah standar.

Ditambah mahasiswanya-pun belum punya komitmen dan target di dalam dunia kerja dan juga belum berani pasang harga sesuai kemampuan mereka.

Dan untuk kasus jadi supermen, tentunya temen-temen harus perhitungan. Jangan mau gratis! 😀
Ketika sudah jadi BA, tiba-tiba harus ikutan ngoding, ya jangan mau gratis, minta bayaran. Saya lebih suka menyebutnya “side-project” dari perusahaan. Jadi sambil menganalisa permasalah yang diberi client, dapet penghasilan tambahan jadi “programmer mendadak” dalam project tersebut. Bahkan harus menginap di kantor dari pagi sampe keesokan paginya 😀 Hitungannya side-project model begini, biasanya bukan gaji bulanan di perusahaan, tapi bayaran per hari 😀

Dan ketika mencoba kembali ke Jogja, mengambil jenjang S2 dan mendalami hal-hal yang “kurang matang” selama ini dipelajari di bangku kuliah S1, saya dihadapi dengan dilema seperti itu lagi. Dan ketika bertemu mereka, orang-orang baru. Mereka seperti apa yang saya tuliskan di atas. “Belum berani” dan “belum terarah”.

Kurikulum juga sudah benar kok, kalo saya diminta pendapat, apakah kurikulum di perkuliahan kurang tepat? 😀 wah, gak setuju pertanyaan itu, udah benar adanya. Tinggal mendalaminya saja yang kurang fokus. (ntah si mahasiswa ataupun si dosen 😛)

Ada quote menarik dari game JRPG : “As long as we remember focused on our goal, each of victorious will bring us one step closer.”

Fokuslah dengan apa yang akan kamu raih dengan minat-study yang sudah di kuasai. Dari hal non-praktis (dari lingkungan perkuliahan) dan hal praktis (dari pengalaman kecil-kecilan di dunia kerja). Jangan pernah berhenti belajar, cobalah kembangkan kemampuanmu dari segi teknis dan non-teknisnya.

Untuk masalah apa yang mesti dipelajari di masa kuliah, ya pelajarilah apa yang ada di perkuliahan, tanamkan minatmu pada bidang tertentu di TI tersebut, dan coba cari permasalahan, coba kenali lebih dalam setiap fragment dari permasalah tersebut, dan analisalah dengan baik, setelah itu fokuslah pada pemecahan masalah tersebut. Dengan metode tertentu dan alat ataupun teknologi tertentu, coba kelola outputnya apakah sudah sesuai dengan apa yang diharapkan?

Selagi sempat, ayo temen-temen yang masih kuliah, jangan jadi sumber daya yang prematur, yang sudah lulus, namun belum matang dan belum siap menghadapi dunia kerja. Dan bisa berakibat “banting stir” ke profesi lain yang jauh di bawah target yang diinginkan. Dan tentunya kuliahpun jadi percuma.

Semangat! Niat, usaha, dan do’a dengan sungguh-sungguh 🙂

 
5 Comments

Posted by on March 21, 2012 in Workit

 

Tags: , , , , , ,