Paradigma

Tadi teman bilang: “saya di Java sudah 5 tahun, pak, tapi di rails belum setahun, kalau saya masuk tim itu, bisa-bisa saya jadi kroco”
Lantas teman yang senior satunya bilang: “pengalaman kerja kan bukan dilihat dari berapa lama kamu pengalaman di bahasa pemrograman itu..tapi dari selama ini yang kamu kerjakan, problem solving-nya seperti apa, achievement yang diperoleh apa saja”.

Banyak yang bisa coding, coding malah mudah, bisa otodidak, tapi yang memiliki skill problem solving itu sedikit.
Berapa banyak di grup developer bertanya “mas, aku liat gojek aplikasinya kayak gini, bikinnya gimana ya?” | “yaelah mikirnya langsung gede, mbok ya dipecah satu per satu fiturnya, cari masalahnya, terus cari solusinya…”

Logika coding seperti pemakaian logical expression, dan lain-lain, kalau memang logikanya jalan, mau coding pakai bahasa apapun ya mudah tinggal belajar syntax pemrograman tersebutĀ saja. Bahkan dengan sangat mudah seseorang developer java beralih ke javascript.
Terus apakah yang mempengaruhi hal tersebut? Paradigma!

Paradigma adalah sudut pandang terhadap suatu masalah, realitas, keadaan, dan sebagainya. Dalam pemrograman pun dikenal istilah paradigma pemrograman, yakni sudut pandang atau strategi analisa khusus yang diambil untuk menyelesaikan suatu masalah pemrograman.
Kalau sudah bisa paradigma, mau belajar programming apapun jadi mudah. “if you know how to code, you can code in anything“. Tidak perlu menghapal syntax pemrograman, nanti juga mahir sendiri setelah googling>stackoverflow dan langsung ke kasus.

Nah, balik ke pengalaman kerja tadi, kalau sekedar teori, itu hanya pengetahuan yang masih “terkurung”. Sedangkan wawasan, lebih ke kesadaran emosional, ketika seseorang sudah berpengalaman, wawasan ini membuka “kurungan” pengetahuan yang selama ini dipelajari didasari pada yang telah diamati/dirasakan/kebiasaan. Dan paradigma menjadi seperangkat aturan dan aturan tsb melakukan dua hal:
(1) menetapkan dan mendefinisikan batasan; dan
(2) Ini memberitahu kita bagaimana berperilaku di dalam batas-batas agar tercapai tujuan.
Bagaimana belajar paradigma? ya bertahap dari pahami konsepnya, teorinya, baru memperkuat wawasan dari pengalaman.
Itulah mengapa seseorang problem solver itu paradigma-nya bagus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s