Kerja Remote

Secara definisi, kerja remote dapat diartikan kerja jarak jauh dari rumah dan berkomunikasi dengan perusahaan via email/telpon/aplikasi chat.[1]

Apakah seorang freelance atau project-based job sudah pasti pekerja remote?
Tidak, dari beberapa berita, termasuk dari media forbes [2], pekerja remote itu bisa jadi memang pegawai tetap, namun ia bekerja jarak jauh karena alasan tertentu.
Dan bisa juga seorang freelance, yang mendapatkan job kontrak/project-based, yang ia peroleh secara online.

Di Indonesia, sangat jarang perusahaan yang menerapkan pekerja tetap yang diperbolehkan remote. Ada, tapi sangat jarang. Alasannya ada beragam [3]:

1. Komunikasi
“eh lu gk ngantor? ngapain?” | “ya kerja pak, tapi dari rumah” | “gmn gw tau lu kerja di rumah? bisa aja lu ngegame”
Banyak perusahaan enggan menerapkan sistem kerja remote karena biasanya komunikasi tidak begitu lancar. Apalagi untuk lingkungan start-up yang ketat, penuh dengan target jangka pendek dan dinamika bisnisnya cenderung tinggi. Dengan kondisi tersebut, akan sangat rawan bagi perusahaan terjadi miss-communication dan terlambatnya “delivery” pekerjaan sesuai dengan yang ditargetkan. Mengapa? karena komunikasi menjadi kurang jelas.
Selain itu trusting level jadi persoalan, apakah orang tersebut memang sedang bekerja dari rumah atau sedang melakukan yang lain.

2. Kultur
Seorang pekerja biasa bekerja dengan kultur bekerja di perusahaan, menerima kerjaan dari atasan secara langsung, dan mendiskusikan pekerjaan dengan tim secara tatap muka. Tiba-tiba harus menjadi “remote worker” tentu akan mengagetkan orang tersebut.
Dan sebuah perusahaan yang demikian, akan sulit memperkerjakan pekerja remote apalagi sering terjadi diskusi secara tatap muka dan rapat project dilakukan di dalam ruangan tertutup. Persoalan urgensi, ketika remote worker harus segera hadir di kantor karena rapat yang harus dijelaskan secara tatap muka, namun tidak bisa hadir, tentu perusahaan akan mengalami kerepotan menghadapi kondisi tersebut.

3. Bukan sebagai team
Ketika seseorang bekerja secara remote, kecenderungan individualisme terbuka lebar. Mereka bekerja dalam tim, tapi melakukan semuanya berjalan sendiri-sendiri, walaupun ada software project management dan issue tracker. Diskusi antar anggotapun nyaris tidak pernah, malah yang terjadi, kerjakan task->set status di project management software->lapor PM->done->doing another task (looping)

================================

Pengalaman pribadi, dari 2011 sampai 2016 kerja remote dengan Pusat Kajian Hadis (karyawan tetap remote) dan beberapa project-based dengan klien dari Humanitarian Open Street Map Jakarta, JasaConnect Jakarta, BNI pusat Jakarta, Radio Dakwah Islam (Jambi), PDAM Palembang, dll (kantor di luar Jogja, kerja dari kost/kontrakan dan rumah di Jogja), dari 3 alasan di atas, memang kendala no.1 beberapa kali terjadi, tidak sering, hanya beberapa kali, terutama ketika inisialisasi project dan transfer-knowledge. Antisipasinya adalah: sering komunikasi (daily call) baik via Skype/slack ataupun telepon. Dirutinkan setiap hari, biasanya di akhir jam kerja. Untuk tracking pekerjaan juga dilakukan setiap hari, status pekerjaan dari in-analysis>in-development>in-testing>dll..perlu segera diset dan tidak ditunda untuk mencegah “misscommunication”, selain itu delivery pekerjaan secara remote juga harus sedetail mungkin apa saja yang telah dikerjakan per hari melalui tulisan dengan menggunakan kata-kata yang jelas, padat dan informatif, berbeda dengan bekerja “on-site” di kantor, yang bisa disampaikan dengan berbicara langsung dengan atasan. Kenapa? biasanya saya bekerja dengan tim programmer, ada saja developer yang delivery pekerjaan, memberitahukan status pekerjaannya hanya dengan tulisan “mas, task A sudah digarap”, sudah gitu aja, saya gak tau dia push kerjaan di mana, buktinya mana, testingnya gimana, jam berapa, apa saja yang berubah/ditambahkan, akhirnya jadi repot harus cek sendiri di git source-codenya. Ingat, bekerja remote itu sebisa mungkin tidak merepotkan, dibuat sama kondisinya sama seperti bekerja di kantor. Informasi yang dibutuhkan PM sebisa mungkin inisiatif diberikan tanpa harus diminta.

Referensi:
[1]http://dictionary.cambridge.org/dict…/english/remote-working
[2]https://www.forbes.com/…/how-remote-work-is-changing-and-…/…
[3]https://www.inc.com/…/work-from-home-won-t-happen-in-my-com…
https://blog.hubstaff.com/reasons-companies-fail-remote-wo…/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s