Meninggalkan zona nyaman haruskah “resign” dari kantor?

Seseorang teman bilang: “yah, masa’ lo balik ke zona nyaman di kantor sebelumnya hanya krn lokasinya jauh?”
tak balas: “yg pgn balik ke zona nyaman siapa? itu pertimbangan jauh ya krn faktor kesehatan dan tingkat stress kalo macet. Tempat kerja baru, jauh sekali..trs saya minta balik ke kantor sebelumnya bukan berarti itu zona nyaman”

Meninggalkan lokasi kerja sebelumnya tidak sama dengan meninggalkan zona nyaman.
Zona nyaman jangan diartikan sempit sebatas tempat kerja.
Zona nyaman itu adalah tempat di mana seseorang merasa aman dan nyaman dan gak mau lagi mencoba hal baru, ragu mencoba sesuatu yang baru dan ragu buat belajar hal baru. Jadi zona seperti itu ya ditinggalkan, bukan kantornya yang ditinggalkan

Contohnya…misal orang tersebut posisi programmer, terus upgrade skill berbeda dengan “push” dan memotivasi diri sendiri untuk belajar sesuatu yang baru. Bisa juga dengan terjun langsung ke tantangannya. Misal: programmer kantoran, kerjaannya gitu2 aja, malah lbh banyak santai youtube-an di kantor, main game, terjun ke dunia proyek (bisa sambilan, bisa ngisi waktu pas liburan atau pas malam hari), walaupun dia belum punya pengalaman, dengan dia berani..dia sdh meninggalkan zona nyaman. Toh, dengan begitu dirinya tertantang buat belajar menghadapi klien, belajar berkomunikasi dengan orang yang berbeda, belajar mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi klien dan bagaimana menyampaikannya dengan baik agar solusi tsb dapat diterima oleh orang lain, dan belajar pemrograman baru, teknologi baru, dll. Tanpa meninggalkan kantornya, dia sdh meninggalkan zona nyaman. Itu hanya sebagian contoh loh. Masih banyak contoh lain.

Contoh lainnya, misal dari programmer, tapi pengen naik tingkat ke level yang lebih tinggi, yaitu posisi analyst atau mungkin lebih tinggi lagi, posisi project manager. Jadi sembari dia kerja di kantor sebagai programmer, dia proactive, moving forward memperhatikan bagaimana analyst dan PM bekerja, dia gak malu bertanya, berdiskusi, ngajak makan bareng analyst atau PMnya, buat sekedar mendapatkan ilmunya dan menjalin komunikasi yang baik. Dia akhirnya punya inisatif tinggi di grup dan di kantor, tidak hanya menunggu bola, tapi juga menjemput bola sambil menyampaikan apa strateginya. Ini juga termasuk meninggalkan zona nyaman. 🙂 


Balik ke masalah lokasi, tempat lokasi itu jadi faktor penunjang performa kerja. Kalau tempat jauh, capek atau tua di jalan, performa menurun, boro-boro meninggalkan zona nyaman, buat dapet kenyamanan di kantor aja akan jadi sulit, lah sdh stress di jalan, kerja tentu jadi gak maksimal. Makanya tiap mulai kontrak kerja itu sebisa mungkin pro-active, nego, nanya, dan berdiskusi dengan baik agar ada jalan keluar dan solusi bersama, toh sama-sama butuh kan.


“Tapi kok kamu malah minta balik ke kantor lama sih, wid?” | “eittss, jangan salah..itulah strategi tarik ulur dalam negosiasi.. dengan klien-klienku juga tak pake cara serupa hehe..toh yang penting tiada yang dirugikan, dan kita tidak merugikan orang lain” (terinspirasi ibu-ibu yang nego harga di pasar..wkwkwk)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s