RSS

Siap Hadapi Dunia Kerja!

21 Mar

Siapa yang bisa menjamin bila kita menguasai sebuah teknologi? atau bila saya coba kecilkan lagi lingkupnya untuk para developer, siapa yang bisa menjamin dengan teknologi yang sudah dipelajari 1-2 tahun dan dikuasai sekarang, akan bisa dipakai 5-10 tahun lagi?
Tidak ada yang bisa menjamin😀

Bila ada yang berpandangan : “ngapain belajar bahasa pemrograman xyz, belum tentu juga dipakai, mending kamu perdalam masalah manajemen TInya atau non-operasional di dalam devisi TI di sebuah perusahaan, tentu lebih enak kan? gak perlu capek-capek ngoding, gak perlu belajar banyak sampe kerjapun mesti 1-2 hari gak tidur, ngumpulin penyakit

Ada yang ngomong seperti itu? ada!😀 bahkan terdengar di telinga saya.

Namun bukan sesuatu yang menghambat, karena hidup ini berawal dari niat dan berlangsung pada proses dan berakhir pada hasil. Jadi tergantung bagaimana pribadi ini menanggapi dan menjalankannya.

Ok, dari pertanyaan tersebut, mesti dari para pembaca memiliki pandangan yang berbeda-beda. Dari yang pernah saya alami, ternyata apa yang dipelajari 3 tahun yang lalu tidak begitu terpakai di saat sekarang, justru yang berkembang saat ini adalah “learning by doing”, sambil bekerja ya..itulah yang dipelajari. Mengapa? salahkah kita belajar? jika tau nantinya tidak akan dipakai lama?

Untuk dilema seperti ini, banyak mahasiswa yang mengalami, bahkan mereka yang masih S1 (syukurnya saya sudah melewati masa itu sejak Februari 2009 lulus S1 yang sebelumnya sempat mengalami)

Fakta yang ada sekarang adalah memang teknologi berkembang sangat cepat, bahkan hari ini belum tentu sama dengan hari esok. Kamu menerapkan suatu teknologi dalam sebuah karyamu, belum tentu 1-2 tahun ke depan akan exist.

Perlu diketahui juga, teknologi itu hanyalah alat, yang bertujuan membantu aktivitas manusia.

Teknologi Informasi (TI) banyak minat-study di dalamnya : mulai dari Multimedia, Sistem Informasi, Jaringan Komputer, sampai Kecerdasan Buatan. Minat-study itulah yang menjadi inti dari apa yang mestinya jadi target mahasiswa. “Bidang apa ya yang harus saya perdalam?” ya, sesuai kemampuan dan minat masing-masing🙂 Jangan ikut-ikutan!

Dan tiap bidang tersebut ada fragment-fragment lagi di dalamnya. Mulai dari hal teknis sampai hal non-teknis. Namun, kan tidak masalah, karena sebelum kita diperkenalkan minat-study tersebut, kita sudah diperkenalkan dan mempelajari pokok-pokok dari teknologi informasi itu sendiri, ya sebut saja mata-kuliah : algoritma dan pemrograman, struktur data, basis data, jaringan komputer, sistem informasi, sistem operasi, rekayasa perangkat lunak dan manajemen proyek.

Jika kita memahami semua hal tersebut, untuk melangkah ke minat-study sesuai keinginan tentu akan mudah. Bahkan dengan adanya teknologi yang baru dan terus berkembang, itu bukan masalah! Teknologi yang ada sekarang itu berkembang bukan dari hal baru loh, tapi dari apa yang ada sebelumnya. Atau perbaikan dari sebelumnya. Atau bisa jadi versi lain dari teknologi yang ada. Mesti ada akarnya. Dan itulah yang kita peroleh dari perkuliahan.

Jika ada yang berpendapat : “ngapain capek-capek kuliah TI, kalo ilmu-ilmunya dapat diperoleh dari buku yang banyak diperjualbelikan di toko buku”

Wah, apa yang ada di buku, itu cuma hal praktis saja😀 kalo bisa dibilang, sekecil upilpun belum tentu dapet. Hal-hal praktis dan teknisnya saja yang bisa didapat. Tapi secara konsep dan non-teknis sedikit sekali poin-poin yang didapat. Ya, bisa dibilang cm fragment-fragment kecil dari TI itu sendiri.

Bisa kok dipake di dunia kerja, tapi ya susah berkembang, akan stuck di kemudian harinya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dari “learning by doing“, seperti berdagang kecil-kecilan misalnya, terus kita sudah paham, baru melebarkan lapak, atau dengan coba-coba seperti kebanyakan mahasiswa S1 yang ditawarin proyek oleh temannya : “udah, mas, coba aja, ntar bisa dipelajari sambil jalan kok, ntar kita bayar 800ribu. Kan lumayan, dapet uang buat jajan dan ilmu” (alibi :P)

Namun kalo kita begitu terus, yang ada kita ketinggalan😀

Mereka yang kurang paham konsep, hanya melakukan hal operasional dengan belajar yg bersifat praktis dari tutorial (misal : tutorial buku “10 jam menguasai bahasa pemrograman xyz” atau hal lain serupa), itu kalo terus-terusan dipelihara, akan sulit untuk “melangkah maju yang jauh”. Ya, saya sebut “melangkah maju yang jauh”, ketika seseorang yang paham konsep dan teori, kemudian pandai menerapkannya itu bisa melangkah 10 m sekali langkah, akan berbeda dengan mereka yang sedikit atau belum sama sekali paham konsep dan teori, kemudian praktek sesuai apa yang dibuku/artikel yang cuma bisa melangkah 1 m sekali langkah.

Ketika berhubungan dengan mereka yang masih S1 tingkat akhir atau yang baru lulus, mereka belum “matang”, atau maaf, termasuk “prematur”. Ya, kalau dilihat dari pengalaman kerja selama kuliah, ok, mereka punya skill dan portfolio. Sudah bisa mahir di 1 bahasa pemrograman tertentu. Namun, ability-nya tidak dibarengi dengan pemahaman yang matang. Mereka sulit memecahkan masalah, bahkan untuk scope yang lebih besar, mereka tidak siap. Kemampuan pemecahan masalah mereka masih butuh sangat diarahkan, mengingat ketika mereka terjun dalam 1 tanggung jawab di dalam team di perusahaan, masih berantakan, dan susah bergerak bila tidak diarahkan. Bahkan, ada yang sudah diarahkan, stuck tidak bisa melakukan apa-apa. Siapa yang dirugikan? perusahaan. Siapa yang dipermalukan? diri sendiri dan almamater tentunya.

Kasus yang dihadapi dalam perusahaan beragam, kadang simple kadang kompleks. Dan untuk perusahaan vendor-vendor TI, biasanya yang dihadapi untuk client-client besar (apalagi ibukota) adalah kompleks dan mobilitas tinggi (tentunya tingkatan stress juga tinggi).

Jangan pernah berharap ketika kita sudah terjun, kita tidak bisa, kita diizinkan untuk belajar sambil melakukan!😀 Jangan pernah, karena siap-siaplah posisimu digusur oleh orang lain. “Lah, kan biasanya di perusahaan ada training?” iya, memang, itu suatu ketika kita mengisi sebuah posisi baru dari posisi sebelumnya (promosi jabatan) yang memang dikehendaki.

Perusahaan itu punya target, dan salah satu mencapai targetnya adalah menekan biaya produksi dan juga menekan biaya resource. Mereka tentu mengharapkan tenaga kerja yang profesional dengan biaya yang murah😀

Pernah saya rasakan “jadi korban” hal itu. Ketika dalam project di salah satu perusahaan asuransi kendaraan terbesar di indonesia, menjadi koordinator anak-anak outsourcer, ternyata malah meleset dari jadwal dan ternyata developernya juga orang yang mengetahui praktis saja tanpa tau konsep yang matang. Akibatnya, ketika saya terjun jadi koordinator, sering rapat non-teknis dan teknis, menghitung ini-itu, dan sambil membimbing mereka (jadilah supermen) untuk belajar Adobe Flash (projectnya didevelop dengan Flash dan db Oracle) Yang ada, semua terhambat oleh masalah developer yang belum siap. Ya, salahnya juga, kebijakan atasan yang “berani” menerjunkan mereka yang belum terbiasa dengan pekerjaan yang butuh keahlian mendalam. Menjadikan perusahaan kurang mempertimbangan “hal terburuk” ini.

Dan kasus-kasus ini sering terjadi di beberapa vendor TI (yang kebetulan ada saya di dalamnya sebagai outsourcer :P), apakah ini dampak buruk dari rate mereka (developer) yang dibayar rendah juga atau memang mereka tidak siap?🙂

Selama menjabat menjadi business analyst dan sesekali mengkoordinir project, non-teknis di sini begitu diperhatikan, hal-hal teknis yang semestinya tidak ada hambatan, jadi terhambat oleh mereka yang belum siap terjun di dunia kerja. (apalagi sampe ada yang kabur dari perusahaan vendor.. hahaha.. ini yang patut disalahkan ya vendornya, karena kontrak kerja kurang mengikat dan kurang bisa menjaga harmonisasi dengan si pegawai)

Makanya, di dalam sebuah perusahaan biasanya ada masa probation, yaitu masa di mana si calon pegawai atau mereka yang fresh-graduate (0 pengalaman) diuji cobakan sesuai posisi yang akan ditempati dalam sebuah perusahaan, sebelum nantinya diangkat jadi pegawai tetap. Masa percobaan ini biasanya 3-6 bulan lamanya. Ada yang gajinya dibayar full pada masa probation ada juga yang hanya dibayar 50-75% (termasuk tragis :P) Masa probation ini, sekaligus masa orientasi si calon pegawai tetap+baru ini. Dan juga menjadi sarana transfer knowledge dari karyawan yang mau pindah ke calon pegawai dalam suatu jabatan tertentu.

Ada yang bilang : “ya, wajar, namanya juga fresh graduate, belum bisa apa-apa
Wah, kasar nampaknya, saya kurang setuju pendapat tersebut🙂 menganggap fresh graduate seperti itu. Dan itulah, yang menjadikan rate penghasilan mereka yang fresh-graduate di bawah standar.

Ditambah mahasiswanya-pun belum punya komitmen dan target di dalam dunia kerja dan juga belum berani pasang harga sesuai kemampuan mereka.

Dan untuk kasus jadi supermen, tentunya temen-temen harus perhitungan. Jangan mau gratis!😀
Ketika sudah jadi BA, tiba-tiba harus ikutan ngoding, ya jangan mau gratis, minta bayaran. Saya lebih suka menyebutnya “side-project” dari perusahaan. Jadi sambil menganalisa permasalah yang diberi client, dapet penghasilan tambahan jadi “programmer mendadak” dalam project tersebut. Bahkan harus menginap di kantor dari pagi sampe keesokan paginya😀 Hitungannya side-project model begini, biasanya bukan gaji bulanan di perusahaan, tapi bayaran per hari😀

Dan ketika mencoba kembali ke Jogja, mengambil jenjang S2 dan mendalami hal-hal yang “kurang matang” selama ini dipelajari di bangku kuliah S1, saya dihadapi dengan dilema seperti itu lagi. Dan ketika bertemu mereka, orang-orang baru. Mereka seperti apa yang saya tuliskan di atas. “Belum berani” dan “belum terarah”.

Kurikulum juga sudah benar kok, kalo saya diminta pendapat, apakah kurikulum di perkuliahan kurang tepat?😀 wah, gak setuju pertanyaan itu, udah benar adanya. Tinggal mendalaminya saja yang kurang fokus. (ntah si mahasiswa ataupun si dosen😛)

Ada quote menarik dari game JRPG : “As long as we remember focused on our goal, each of victorious will bring us one step closer.”

Fokuslah dengan apa yang akan kamu raih dengan minat-study yang sudah di kuasai. Dari hal non-praktis (dari lingkungan perkuliahan) dan hal praktis (dari pengalaman kecil-kecilan di dunia kerja). Jangan pernah berhenti belajar, cobalah kembangkan kemampuanmu dari segi teknis dan non-teknisnya.

Untuk masalah apa yang mesti dipelajari di masa kuliah, ya pelajarilah apa yang ada di perkuliahan, tanamkan minatmu pada bidang tertentu di TI tersebut, dan coba cari permasalahan, coba kenali lebih dalam setiap fragment dari permasalah tersebut, dan analisalah dengan baik, setelah itu fokuslah pada pemecahan masalah tersebut. Dengan metode tertentu dan alat ataupun teknologi tertentu, coba kelola outputnya apakah sudah sesuai dengan apa yang diharapkan?

Selagi sempat, ayo temen-temen yang masih kuliah, jangan jadi sumber daya yang prematur, yang sudah lulus, namun belum matang dan belum siap menghadapi dunia kerja. Dan bisa berakibat “banting stir” ke profesi lain yang jauh di bawah target yang diinginkan. Dan tentunya kuliahpun jadi percuma.

Semangat! Niat, usaha, dan do’a dengan sungguh-sungguh🙂

 
5 Comments

Posted by on March 21, 2012 in Workit

 

Tags: , , , , , ,

5 responses to “Siap Hadapi Dunia Kerja!

  1. Dzulfikar Adi Putra

    March 21, 2012 at 11:13 am

    postingan menarik berdasarkan pengalaman pribadi. sharing yang bermanfaat🙂

     
    • WdYz

      April 12, 2012 at 4:58 am

      Terima kasih, mas Dzulfikar

       
  2. Anggre D. Kuncoro (@anggre_official)

    June 1, 2012 at 10:45 am

    memotivasi sekali buat saya,mas..mantapp

     
  3. Devi

    March 24, 2014 at 11:19 pm

    benar-benar bermanfaat mas

     
    • WdNk

      April 5, 2014 at 12:26 am

      Alhamdulillah, Terima kasih, mbak Devi.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: